Saat membaca cerita tentang sejarah, kebanyakan orang pasti sudah tahu bahwa beberapa pahlawan Indonesia sampai harus dibuang gara-gara berani menentang pemerintah. Ada yang berhasil kembali pulang ke tempat asal, tapi ada juga yang hidup sampai akhir hayatnya.
Menjadi orang ‘terbuang’ jelas nggak gampang. Jika ada orang yang mengenal mereka, mungkin hidupnya bisa sedikit lebih baik. Tapi jika tidak, mungkin hidupnya akan lebih mengenaskan, meninggal dalam keadaan sendirian, dan dengan makam yang tak terawat serta terlupakan.
Nama Cut Nyak Dhien adalah salah satu yang banyak dikenal di Indonesia. Ia adalah seorang pejuang wanita dari Aceh yang tidak pernah takut ikut turun ke medan perang demi melawan para penjajah. Belanda yang khawatir dengan kegigihan wanita Aceh ini akhirnya menangkapnya dan membuang Cut Nyak Dhien ke Sumedang, jauh dari tanah kelahirannya.
Sampai ia meninggal dunia pun, tidak ada yang tahu siapakah tahanan Belanda ini. Baru saat Indonesia merdeka, barulah diketahui identitas wanita yang begitu taat beragama dan teguh ini.
Jailolo adalah nama sebuah Kesultanan yang dulu pernah berdiri di Maluku Utara. Pada masa itu, Kesultanan Jailolo berada di bawah kendali Hindia Belanda. Jadi setiap keputusan harus melalui pemerintahan kolonial terlebih dulu.
Tahun 1844, terbit keputusan agar tahanan politik bisa pulang kembali ke Maluku. Tapi sayang Sultan Mohammad Asgar tidak masuk dalam daftar pengampunan sehingga ia tetap tinggal di Cianjur sampai meninggal dunia tahun 1846. Jasadnya dimakamkan di tempat yang kini menjadi Taman Makam Pahlawan Cianjur.
Nggak banyak yang tahu bahwa Pangeran Hidayatullah bukanlah orang sembarangan. Menurut W.A. vaan Rees, seorang Veteran Perang Banjar, ia bahkan disebut sebagai kepala pemberontak dan termasuk sosok yang paling berbahaya. Ia dijebak oleh pemerintah Belanda dan dibuang ke Kota Cianjur di Pulau Jawa.
Karena letak makamnya yang berdekatan dengan Pangeran Hidayatullah, sebagian orang mengira makam tersebut masih keluarga dengan pangeran dari Banjar tersebut. Padahal makam tersebut adalah milik Sultan Ibrahim Chalilludin, Sultan terakhir dari Kesultanan Paserbalengkong.
Sultan Ibrahim Chalilludin beserta keluarganya kemudian ditangkap dan dibuang ke Banjarmasin selama 3 tahun sebelum kemudian dipindahkan ke Teluk Betun, Lampung. Tahun 1928, ia dibuang kembali ke Batavia lalu Cianjur dan meninggal dunia di kota tersebut.
Nama Tuanku Imam Bonjol pasti sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Nama aslinya adalah Muhammad Shahab atau Petto Syarif dan dikenal sebagai pemimpin gerakan dakwah di Sumatera serta menentang penjajahan Belanda.
Hidup di zaman penjajahan akan membutuhkan mental yang sekuat baja. Bukan saja kehidupan yang sangat sulit, bahkan bisa berbahaya jika sampai berani menentang mereka. Tapi toh hal itu nggak menghentikan para pejuang ini. Meski akhirnya mereka juga harus dibuang dan meninggal dunia jauh dari keluarga dan kampung halaman.
Delapan bulan lamanya keluarga Alvaro Kiano Nugroho (6) mencari anak sekaligus cucu tanpa kepastian jelas.…
Sedang ramai di Indonesia mengenai kasus korupsi yang menyeret nama Ira Puspadewi. Ia adalah mantan…
Di tengah gejolak politik terus menerus yang dipicu oleh presidennya, Amerika Serikat memberi kejutan baru…
Baru di Indonesia, ketika teror mengguncang sebuah institusi pendidikan. Di tengah-tengah pelaksanaan salat Jumat (7/11/2025)…
Ada yang terbang sampai lupa pulang. Seperti itulah harga emas akhir-akhir ini. Terus melambung tinggi…
Kabar gembira untuk warga Arab Saudi, atau mungkin Warga Negara Indonesia yang bermukim di sana.…