Kalau disuruh mengingat lagi tentang sosok Pierluigi Collina, kira-kira apa yang langsung terlintas dalam pikiranmu? Yaa, betul sekali sosok wasit galak yang kerap dijadikan idola oleh anak 90-an. Sebagai seorang pengadil lapangan pria asal Italia ini memang terkenal tegas. Bahkan sampai-sampai kerap ada slogan yang berbunyi semua orang di atas lapangan tunduk jika Collina yang memimpin jalannya sebuah pertandingan.

Selain tegas, pria 59 tahun ini juga terkenal merupakan sosok yang mempunyai penampilan fisik nyentrik ketika memimpin jalannya sebuah laga. Di mana mempunyai sorotan mata sangat tajam, lalu berkepala botak. Terkait hal terakhir tersebut ada cerita menarik kenapa kepalanya tidak satu pun ditumbuhi rambut. Singkat cerita, dulunya mantan wasit asal Bologna ini mengalami penyakit Alopecia, yang mana membuatnya mengalami kebotakan.

Pierluigi Collina [Sumber Gambar]
Kisah tentang dirinya, tidaklah soal hal-hal tadi saja. Jauh lebih dari itu, Pierluigi Collina juga terkenal sebagai wasit terkenal mempunyai segudang prestasi. Salah satunya adalah terpilih sebagai Wasit Terbaik Dunia versi IFFHS enam tahun berturut-turut dari tahun 1998 hingga 2003. Lalu akibat kecakapan memimpin sebuah laga, dirinya juga acap kali dipercaya jadi pengadil lapangan di sejumlah laga final.

Seperti contohnya Final Piala Dunia 2002, partai puncak Piala UEFA 2004, dan memimpin partai pamungkas Liga Champions tahun 1999 antara Bayern Munich Vs Manchester United. Dalam pertandingan final di markas FC Barcelona itu ada sedikit kisah haru dan menarik tentang Collina, ia yang saat itu menjadi wasit utama mencoba menguatkan pemain-pemain Munich yang merasakan kesedihan luar biasa lantaran gol-gol menit terakhir.

Pierluigi Collina vs pemain [Sumber Gambar]
Masih tentang pria ini, dalam perjalanan kariernya dirinya juga dikenal sebagai sosok yang sangat bersih. Maksudnya, menolak disogok atau melakukan hal-hal yang melanggar kode etik perwasitan. Hal ini salah satu buktinya adalah, ketika Seri A diguncang Calciopoli yang memalukan pada 2006, sarjana ekonomi ini adalah salah satu dari dua wasit Italia yang bersih akan kasus-kasus tersebut.

Pierluigi Collina dengan Del Piero [Sumber Gambar]
Meski hebat namun, dirinya mengakhiri perjalanan di dunia ini dengan cara kurang baik. Di mana Pierluigi Collina mengundurkan diri setelah dilarang memimpin lagi di pertandingan Liga Italia 2005. Kencur Terikat kontrak dengan Opel yang notabene juga mensponsori AC Milan dan beberapa kali mewasiti latihan klub merah-hitam itu disebut-sebut jadi penyebab dirinya dilarang federasi sepak bola Italia.

BACA JUGA: Gaji Wasit di Italia Ternyata Buat Upah Pengadil Lapangan Indonesia Tidak Ada Apa-apanya

Belajar dari Pierluigi Collina tadi, agaknya wasit-wasit Indonesia juga perlu mempunyai integritas yang kuat agar tidak gampang disepelekan pemain. Selain itu, dengan tetap bersih dari praktek-praktek curang juga bisa membuat sepak bola menjadi olahraga yang baik.