Seperti halnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, kasus Calciopoli di sepak bola Italia juga bisa dikatakan meluluhlantahkan banyak sekali elemen. Mulai dari kepercayaan, sistem, hingga rapor merah untuk kompetisi bola negeri Piza. Kendati tidak membuat olahraga ini mati suri di sana, namun aib tersebut bunyinya hingga kini masihlah terdengar.

Dan sepertinya akan terus terparti dalam pikiran banyak insan bola wilayah Eropa dan Dunia. Calciopoli memanglah skandal sangat kotor. Hal ini lantaran banyak orang terlibat harus merasakan getah yang sangat memilukan. Tidak itu saja, kasus tersebut juga menggambarkan kalau pengaturan skor bukanlah bisa di padang sebelah mata. Lalu seperti apakah itu Calciopoli? Mari bersama kita mengenang kisahnya di ulasan berikut.

Mulai meledak di jagat sepak bola pada tahun 2006

Meski dalam kisahnya kasus ini sudah diselidiki mulai musim 2004/ 2005 pasca Juventus Juara Seria A, namun gaungnya keras mulai terasa benar-benar bak petir setahun setelah investigasi awal. Bekerjasama dengan mantan hakim ternama Italia Franco Borrelli, pihak Federasi Sepakbola Itali (FIGC) perlahan tapi pasti mulai bisa melacak bagaimana kasus ini.

Kasus Calciopoli [Sumber Gambar]
Skema-skema bagaimana melakukan pengaturan skor yang melibatkan banyak perangkat pertandingan dan klub tersebut pun juga berangsur-angsur diketahui. Dan hingga akhirnya 2006 benar-benar terangkat dipermukaan siapa yang menjadi dalang dana ikut bermain lumpur hitam tersebut. Berjalannya dengan itu sepak bola Italia juga menuju ke titik nadir dalam sejarah.

Beberapa klub papan atas Italia merasakan getahnya

Seperti telah disinggung di awal tadi, tentang keterlibatan perangkat dan sejumlah klub Seria A. Pada akhirnya kasus ini secara mengejutkan, ternyata juga menghantam tim-tim yang ada di Liga teratas negara tersebut yang sebetulnya memiliki citra bagus. Dilansir Boombastis dari PanditFootball, tim besar Italia yang terseret pusaran hitam itu adalah Juventus, AC Milan, Fiorentina dan Lazio.

Juventus Seri B [Sumber Gambar]
Dan akibat perbuatan hina tersebut, semua tim tersebut mendapatkan hukuman yang tergolong jauh dari enak. Terutama Juventus yang didakwa paling berat, klub Kota Turin itu menerima sanksi turun kasta ke Seri B, menerima pengurangan poin, dan gelar juara mereka pada musim kompetisi 2004/2005 harus rela dicabut. Sedangkan, tiga klub lainnya tadi menerima pengurangan poin.

Didalangi orang penting dari klub Juventus

Nah, kalau kalian jadi bertanya-tanya kenapa Juventus menerima hukuman paling berat, jawabannya adalah lantaran orang penting di klub tersebut menjadi dalangnya. Yaa, seperti telah banyak diberitakan seorang General Manager kesebelasan berjuluk Nyoya Tua itu, menjadi aktor sentralnya. Kabarnya Luciano Moggi bergerak begitu terukur dan senyap untuk melakukan pengaturan skor tersebut.

Moggi [Sumber Gambar]
Dari penelusuran penulis, dalam kerjanya pria berkacamata ini melakukan pemilihan wasit, mempengaruhi pengadil lapangan, menunda dan membatalkan sebuah pertandingan, hingga mampu menyetir semua media. Berkat aksi gelapnya tersebut, pihak FIGC menjatuhinya hukuman seumur hidup tidak boleh terlibat atau berkecimpung dalam dunia kulit bundar Negeri Pizza Italia.

Calciopoli dan keajaiban Italia di Piala Dunia Jerman

Walaupun ketika itu sepak bola negara tersebut begitu jatuh, namun dewi fortuna sepertinya sedikit memberikan sedikit kebahagiaan untuk bola di sana. Lewat capaian fantastis di ajang Piala Dunia 2006, Timnas Italia dengan ajaib mampu keluar sebagai kampiun ajang empat tahun tersebut. Setelah pada partai pamungkas sukses, menggulingkan tim kuat Prancis.

Italia juara Piala Dunia 2006 [Sumber Gambar]
Waktu Buffon dan kawan-kawan menang atas Les Blues lewat babak drama adu penalti, setelah sebelumnya skor samak kuat 1-1. Keajaiban ini adalah sedikit menjadi bukti kalau tuhan selalu adil terhadap umatnya. Kira-kira saat Italia juara di 2006 hal apa yang kalian ingat dari mereka? Kalau aku sih aksi sensasional seorang Fabio Grosso

BACA JUGA: Gaji Wasit di Italia Ternyata Buat Upah Pengadil Lapangan Indonesia Tidak Ada Apa-apanya

Ingatan tentang kisah Calciopoli mungkin tidak akan bisa hilang. Namun, meski begitu apa yang dilakukan oleh FIGC untuk membongkar hal tersebut, adalah bukti kalau sepak bola Italia ingin baik. Besar harapan aksi-aksi dari federasi sana tadi, dapat jadi lecutan semangat untuk Satgas Anti Mafia Bola dalam menumbangkan aktor-aktor pengaturan skor di Indonesia.