Peristiwa ledakan bom yang mengguncang Sri Lanka saat perayaan paskah beberapa waktu lalu, bakal menjadi catatan hitam bagi negara tersebut. Dilansir dari katadata.co.id, sebanyak 207 orang tewas dan melukai 450 orang lainnya saat bom meledak di gereja dan hotel yang kala itu dipenuhi hiruk pikuk aktivitas manusia.

Peristiwa serupa yang terjadi di atas, juga bukan hal yang baru di Indonesia. Tercatat, bom juga pernah meledak serentak di sepuluh Kota berbeda saat berlangsung Misa Natal Pada Minggu, 24 Desember 2000. Tak hanya itu, beberapa peristiwa besar yang terjadi baik di Indonesia maupun Sri Lanka, mengindikasikan adanya kesamaan “Nasib” antara kedua negara ini.

Sama-sama pernah dihantam ledakan bom saat perayaan hari besar umat Nasrani

Baru-bari ini, Sri Lanka diguncang oleh peristiwa ledakan bom yang menargetkan hotel dan gereja. Sebanyak 207 orang tewas dan melukai 450 orang lainnya saat benda tersebut meluluh lantakkan masyarakat yang tengah berada di kedua tempat yang disebutkan di atas. Laman cnnindonesia.com menuliskan, serangan mematikan itu bahkan masih diikuti dengan ledakan lainnya yang telah terjadi sebanyak 8 kali.

Sama-sama diguncang teror bom saat perayaan hari besar umat Nasrani [sumber gambar]
Tak hanya di Sri Lanka, Indonesia juga sempat mengalami kejadian serupa saat perayaan Misa Natal pada Minggu, 24 Desember 2000. Dikutip dari laman tirto.id, ledakan terjadi serentak di beberapa kota seperti Medan, Pematang Siantar, Batam, Pekanbaru, Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Pangandaran, Kudus, Mojokerto, dan Mataram. Sama dengan Sri Lanka yang diguncang teror bom hingga delapan kali, peristiwa miris ini juga sama-sama terjadi saat perayaan hari besar umat Nasrani.

Aceh Indonesia dan Sri Lanka sempat hancur lebur di hantam Tsunami

Bencana besar seperti Tsunami yang mengguncang Aceh pada 2004 silam, menjadi salah satu peristiwa buruk dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Seperti yang dituliskan oleh laman bbc.com yang menyatakan, korban tewas di Aceh mencapai hingga angka 170.000 jiwa. Belum lagi dengan nasib mereka yang hilang dan belum ditemukan keberadaannya. Pendek kata, bencana tersebut menjadikan Indonesia berduka.

Baik Aceh dan Sri Lanka sama-sama hancur diterjang Tsunami [sumber gambar]
Sri Lanka pun bernasib serupa dengan Indonesia, di mana negara pulau yang terletak di sebelah utara Samudera Hindia ini juga dihantam oleh Tsunami pada 2004 silam. Bisa dibilang, kejadiannya hampir bebarengan dengan wilayah Aceh, Indonesia yang merupakan wilayah terparah dari bencana tersebut. Laman aljazeera.com menuliskan, sekitar 35,322 orang meninggal dihempas gelombang yang menyapu hampir di seluruh negara di kawasan Samudera Hindia.

Kedua negara dijajah secara bergantian oleh Portugis dan Belanda

Seperti yang kita tahu, Belanda bukanlah bangsa Eropa pertama yang datang dan kemudian menjajah Nusantara yang kala itu masih belum bernama Indonesia selama beberapa tahun. Dikutip dari laman tirto.id, Portugis sempat memperebutkan wilayah Maluku yang kaya akan rempah rempah dengan Spanyol, usai menaklukkan Malaka pada 1511. Baru setelahnya, Belanda menginjakkan kakinya di Nusantara yang terjadi pertama kali pada 1596 lewat rombongan kapal dagang pimpinan Cornelis de Houtman.

Indonesia dan Sri Lanka sempat dijajah Portugis dan Belanda di masa lalu [sumber gambar]
Senada dengan Sri Lanka, posisi negara yang terletak di utara Samudera India itu terbilang sangat strategis. Terutama untuk jalur perdagangan laut. Tak heran jika bangsa-bangsa Eropa pun menjadikan Sri Lanka sebagai target invasi. Tercatat, Portugis sebagai negara pertama yang datang pada tahun 1505 meski akhirnya takluk oleh Belanda pada 1658. Oleh penjajah yang baru, Negeri Kincir Angin tersebut sukses membangun pemerintahan kolonial atas Sri Lanka selama tahun 1658 sampai tahun 1796, hingga Inggris datang dan mengambil alih kekuasaan.

BACA JUGA: Inilah 4 Fakta Kedekatan Indonesia dengan Sri Lanka yang Ibarat Saudara Jauh

Baik Indonesia maupun Sri Lanka, kini telah sama-sama berdiri sebagai negara besar yang berdulat penuh atas nasib bangsanya masing-masing. Pasang surut dari peristiwa besar yang dialami kedua negara, nyatanya tak mempengaruhi hubungan diplomatik yang telah terjalin mulai dari era Sukarno hingga saat ini. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?