Sebagai proklamator bagi berdirinya sebuah bangsa baru yang bernama Indonesia, Presiden Sukarno menjadi tokoh sentral yang banyak menjadi perhatian bangsa-bangsa lain di dunia. Dilansir dari tirto.id, PM Uni Soviet Nikita Khrushchev pernah berkunjung ke Indonesia pada 18 Februari-1 Maret 1960 yang menegakkan hubungan erat kedua negara di era perang dingin.

Tak hanya dengan pihak Timur yang dimotori Rusia, Sukarno juga menjalin hubungan ‘mesra’ dengan blok Barat dengan AS sebagai pemimpinnya. Laman historia.id menuliskan, hal ini ditandai dengan adanya pertemuan antara Sukarno dengan para petinggi negeri Paman Sam. Salah satunya adalah Presiden ke-35, Jhon F. Kennnedy. Meski telah mengunjungi AS, Keberadaan Sukarno ternyata sangat dibenci oleh pemerintahan mereka. Apa yang menjadi penyebabnya?

Seorang Sukarno dianggap ‘menyeberang’ ke haluan komunis

Sebelum bertemu PM Uni Soviet Nikita Khrushchev yang notabene anggota Blok Timur, Sukarno telah terlebih dahulu menjalin hubungan dengan AS yang mewakili Blok Barat. Menurut penulis pribadi, era perang dingin (Cold War) yang tengah berkecamuk pada saat itu merupakan ajang untuk mencari koalisi yang strategis. Posisi Sukarno yang memilih tidak memihak siapapun lewat gerakan Non-Blok, menjadi incaran bagi kedua negara untuk berebut simpati dan menancapkan ideologi masing-masing.

Seperti yang terlihat pada sebuah video hitam putih yang diunggah oleh akun CriticalPast, Sukarno terlihat mengunjungi AS dan diterima dengan hangat oleh President Dwight D Eisenhower di Gedung Putih pada 17 Mei 1956. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1959, Sukarno berkunjung ke negeri Beruang Merah dan disambut dengan tangan terbuka oleh PM Uni Soviet Nikita Khrushchev. Sebagai penggagas Gerakan Non-Blok yang tidak memihak siapapun, sah-sah saja Sukarno berkunjung ke negara Blok Barat maupun Timur. Menurut penulis pribadi, hal inilah yang kemungkinan ditafsirkan oleh pihak AS sebagai tindakan yang ‘menyeberang’ dan cenderung pro-Blok Timur yang berideologi Komunis.

Sikap politik Sukarno yang jelas menolak paham imperialisme dan praktik kapitalisme

Sejak naik ke tampuk kepemimpinan sebagai presiden Indonesia, Sukarno dengan tegas tidak menyukai praktik kolonialisme dan ideologi kapitalisme yang banyak menyengsarakan negara-negara berkembang. Dalam pidatonya di forum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang dihadiri oleh lebih dari 100 orang kepala negara dari seluruh dunia yang dikutip dari tirto.id, ia mengecam negara-negara Barat yang disebutnya tidak adil terhadap negara-negara berkembang.

Di saat bersamaan pula, Sukarno juga mengkritik Malaysia yang dianggapnya sebagai negara boneka, antek bangsa-bangsa kapitalis, terutama Inggris dan Amerika. Laman tirto.id menuliskan, Kampanye Ganyang Malaysia pun menjadi luapan amarah Presiden Sukarno yang akhirnya diwujudkan dalam peristiwa konfrontasi militer melawan negeri yang sejatinya masih serumpun dengan bangsa Indonesia tersebut. Penulis menilai, sikap inilah yang dianggap oleh negara-negara Blok Barat sebagai bentuk penolakan RI bagi kehadiran mereka di wilayah Asia Tenggara.

Inisiator gerakan Non-Blok yang dibenci Amerika Serikat

Sebagai bangsa yang baru merdeka, Sukarno kala itu dihadapkan oleh dua kutub kekuatan besar yang saling berseteru satu sama lain di ajang Perang Dingin (cold war). Baik AS dan Uni Soviet, keduanya berebut pengaruh Indonesia lewat beragam cara seperti politik, ekonomi, hingga propaganda. Namun, Sukarno tak bergeming dengan hal tersebut. Alih, alih memihak salah satu Blok, Indonesia menginisiasi sebuah gerakan Non-Blok yang merangkul negara-negara berkembang dunia.

Dilansir dari tirto.id, akar dari gerakan ini berasal Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Bandung. Pertemuan tersebut disponsori Indonesia, Myanmar, Ceylon (Sri Lanka), India, dan Pakistan dan dihadiri 29 negara yang mengirimkan delegasinya masing-masing. Sejak awal, GNB dijuluki oleh Blok Barat sebagai kumpulan negara-negara oportunis. Bahkan oleh Presiden AS Ronald Reagan dalam sebuah pidatonya, ia mencela GNB sebagai konfederasi negara-negara teroris dan berisi orang-orang aneh. Secara tidak langsung, hal ini menyindir ketidaksukaan negara adidaya itu pada Indonesia yang dipimpin Sukarno.

BACA JUGA: 4 Persamaan Antara Sukarno dan Fidel Castro yang Membuat Mereka Ditakuti AS

Sedari awal, AS memang tak menginginkan Indonesia yang tengah dipimpin oleh Sukarno, jatuh dan condong pada pemahaman komunisme. Selain itu, sikap Sang Putera Fajar yang terang-terangan menentang Blok Barat dengan ideologi kapitalismenya, juga menjadi alasan bagi AS untuk membenci Sukarno. Belakangan, sikap permusuhan ini diwujudkan dalam serangkaian agenda konspirasi untuk menggulingkan kekuasaan Bapak Proklamator itu sebagai Presiden. Terbukti, Sukarno akhirnya terjungkal dari kekuasaan dan digantikan oleh Soeharto sebagai Presiden ke-RI.