Kalau dicermati bisa dikatakan mesin pencari Google selalu memiliki tampilan yang berubah pada bagian google doodle-nya. Pada umumnya, search engine termasyhur tersebut menentukan tema tampilan tersebut berdasarkan peristiwa penting atau seseorang tokoh. Nah, mengenai hal terakhir tersebut, baru-baru ini pada Jum’at 10 Mei 2019 sosok pebulutangkis putri legendaris Indonesia yaitu Minarni Soedarjanto yang dimunculkan.

Sebagai aktor dari olahraga tepuk bulu ini mendiang Minarni bukanlah sosok bisa dipandang sebelah mata. Bahkan sebelum era Susi Susanti dan kawan-kawan pebulutangkis kelahiran Pasuruan ini yang menjadi terhebat. Beberapa gelar yang saat ini sulit diraih atlet putri, mampu ia persembahkan untuk Ibu Pertiwi di tahun 70-an. Sampai-sampai mendapatkan julukan sebagai ‘ratu dari semua ratu badminton’. Dan berikut sepak terjang mendiang Minarni.

Memulai karier Bulutangkis di usia yang masih belia

Layaknya para pebulutangkis hebat Indonesia, bakat besar Minarni di bulutangkis juga sudah tercium sejak berusia masih sangat muda. Di mana hal ini dibuktikan dengan masuknya Minarni di pelatihan nasional (pelatnas) sejak usia 15 tahun. Ketika itu pada umur tersebut, satu trofi di kejuaraan nasional Badminton pada tahun 1959 juga sukses direngkuhnya.

Ilutrasi Aksi Minarni Soedarjanto [Sumber Gambar]
Tidak berhenti disitu saja, masuknya perempuan satu ini ke Pelatnas juga membuatnya terpilih jadi wakil Indonesia untuk bertanding di kejuaraan dunia. Minarni sendiri, memulai karier di olahraga ini pada usia 13 tahun.

Menjadi tunggal putri pertama lolos final All Enggland

Selain capaian level dalam negeri, sepanjang kariernya Minarni juga bisa dibilang merupakan pebulutangkis putri yang kerap memenangkan gelar di kejuaraan internasional. Salah satu yang membekas mengenai hal tersebut adalah, ketika ia menjadi atlet olahraga tepuk bulu pertama Indonesia bisa menjejakkan kakinya di final All Enggland tahun 1968.

Minarni Soedarjanto dan kawan-kawan [Sumber Gambar]
Meski ketika gagal juara, namun dirinya menjadi gambaran kalau sejak dulu badminton tanah air sudah garang. Masih terkait kiprahnya di All Enggland, akhirnya Minarni menebus kegagalan tadi dengan gelar juara saat bermain di nomor ganda putri. Saat ini capaian manis tersebut, direngkuh bersama rekannya yang tak kalah hebat yaitu Retno Koestijah.

Bersama Timnas Putri Indonesia sukses rengkuh Uber Cup

Pasca All Enggland tahun 1968, kariernya Minarni terlihat terus menanjak. Bahkan sejumlah gelar di kejuaraan manca sukses masuk lemari trofinya. Seperti contohnya saat mendapatkan gelar Uber Cup tahun 1975. Capaian yang sulit terulang tersebut, kabarnya didapatkan setelah di partai pamungkas menumbangkan tim bulutangkis Jepang dengan skor 5-2.

Minarni Soedarjanto meriah Uber Cup [Sumber Gambar]
Menurut laporan dari laman Bolasport, hasil positif tersebut sekaligus menjadi bentuk balas dendam Indonesia atas Jepang yang pernah dikalahkan pada Piala Uber 1969 dengan skor 1-6 dan Piala Uber 1972 dengan skor 1-6. Lebih jauh tentang hal tersebut, dalam perjalanannya Minarni juga sempat mendapatkan Medali Emas Asian Games 1962, Medali Emas Asian Games 1962 dan sejumlah piala series.

Sampai akhir hayatnya bergelut dengan olahraga tepuk bulu

Kalau melihat geliatnya di olahraga ini, kiprah Minarni tidak hanya dihabiskan sebagai pemain saja. Lebih dari itu, setelah gantung raket dirinya juga sempat abadikan dirinya untuk menjadi pelatih. Selain itu kecintaannya pada olahraga ini juga membuatnya aktif dalam kepengurusan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Minarni Soedarjanto dipangging ke Istanah [Sumber Gambar]
Kisah Minanrni di olahraga ini ditutup pada tahun 2003. Ketika itu lantaran masalah kesehatan ibu tiga anak ini, dipanggil berpulang oleh tuhan untuk selama-selamanya. Dan kini jenazahnya disemanyamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan.

BACA JUGA: Bikin Geleng Kepala, Inilah 5 Rekor Pebulutangkis Indonesia yang Luar Bisa Hebat

Mungkin untuk generasi sekarang Minarni Soedarjanto adalah sosok yang asing. Namun, bagi dunia dan pecinta olahraga bulutangkis, capaian hebatnya akan terus abadi hingga nanti. Di tengah layunya prestasi tunggal putri, besar harapan ke depan muncul Minanrni-Minarni lagi yang mampu berjaya dan persembahkan banyak trofi untuk Ibu Pertiwi.