Pemimpin legendaris Libya, Muammar Gaddafi, sedari awal telah memperingatkan rakyatnya akan adanya intervensi asing yang bakal mengacaukan negara tersebut. Sekian puluh tahun berkuasa, pria yang dikenal keras dengan dunia Barat itu terjungkal dari tampuk kepemimpinannya akibat pemberontakan berdarah pada 20 Oktober 2011 silam.

Selama 42 tahun kepemimpinannya, Gaddafi khawatir akan minyak melimpah di negaranya bisa menjadi sumber malapetaka jika tidak dijaga dengan baik. Tak hanya dari luar, tapi juga ancaman internal di dalam negeri sendiri. Kini apa yang dikatakannya pada pidato singkat saat masih di Tripoli telah terjadi.

Banyak negara-negara Barat ingin menguasai sumber minyak yang melimpah Libya

Ladang minyak Sharara di barat daya Libya memiliki kapasitas untuk menghasilkan sepertiga dari produksi minyak mentah negara itu [sumber gambar]
Sebelum digulingkan dari kekuasaannya pada 20 Oktober 2011, Gaddafi sempat menyampaikan pidato singkatnya di Tripoli. Dalam orasi yang terekam pada tanggal 21 Agustus 2011 tersebut, ia meminta rakyat agar berjuang hingga tetes darah terakhir. Ia menyebut bahwa minyak negaranya menjadi incaran negara-negara Barat. Hal yang sangat dipercayainya hingga ia meninggal dunia akibat luka tembak dari pemberontak.

Meramalkan nasib Libya dan masa depannya setelah keruntuhan Saddam Hussein di Irak

Muammar Gaddafi saat berpidato di depan mimbar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) [sumber gambar]
Gaddafi sempat mengkritik orang-orang Arab yang dirasa kurang memiliki tindakan saat mantan pemimpin Irak, Saddam Hussain, dihukum gantung. Hal tersebut dipandang oleh banyak pengamat sebagai sebuah tanda-tanda, Gaddafi merasa tak lama lagi hal serupa bisa saja menghampiri dirinya – atau mungkin negaranya (Libya). Sebuah prediksi yang akhirnya benar-benar menjadi kenyataan.

‘Kutukan tenda’ yang dirasakan oleh masyarakat Libya telah menimpa mereka

Tenda ikonik Gaddafi yang menjadi saksi bisu kepemimpinannya [sumber gambar]
Banyak dari masyarakat Libya akhirnya sadar, bahwa upaya menggulingkan pemerintahan Gaddafi ternyata tak malah membuat kondisi negaranya bertambah baik. Mereka justru merasa tengah ‘dikutuk’ oleh tenda ikonik milik Gaddafi yang selalu digunakannya untuk urusan penting secara pribadi maupun kenegaraan. Tenda tersebut dihancurkan oleh rakyat yang marah terhadap dirinya.

Libya jadi ajang konflik negara-negara lain

Ilustrasi Libya jadi tempat konflik yang mematikan [sumber gambar]
Kekacauan dalam negeri yang terjadi membuat Libya seolah tak memiliki kedaulatan dan masa depan untuk negaranya. Terlebih untuk melindungi kekayaan minyaknya yang mulai digerogoti pihak asing. Mirisnya lagi, rekening Bank Sentral negara tersebut juga dikendalikan oleh pihak asing. Terbaru, negara seperti Turki dan Mesir juga terlibat dalam konflik bersenjata di Libya.

Konflik bersenjata dari pasukan ‘haus darah’ membuat kondisi Libya semakin suram

Tentara bayaran dari perusahaan Rusia, Wagner Group yang diterjunkan untuk bertempur di Libya [sumber gambar]
‘Kutukan tenda’ tersebut merefleksikan prediksi Gaddafi soal kondisi Libya saat ini. Di mana seolah-olah dirinya tengah menonton kekacauan di tengah-tengah masyarakat setelah penggulingan dirinya. Salah satu prediksi lainnya yang terbukti adalah, adanya ‘pasukan haus darah’ yang didalangi oleh sekelompok tentara bayaran dari Rusia. Pasukan inilah yang mendukung pemimpin Tentara Nasional Libya (LNA), Jenderal Khalifa Haftar.

BACA JUGA: Khalifa Haftar, Jenderal Pemberontak Muammar Gaddafi yang Bisa Bikin Libya Banjir Darah

Sejak Gaddafi lengser pada 20 Oktober 2011 silam, Libya terus dilanda konflik bersenjata antara pasukan pemberontak dengan pemerintah yang berkepanjangan. Belum usai masalah internal di dalam negeri, persoalan semakin bertambah rumit dengan keterlibatan negara lain yang punya tujuan masing-masing. Ucapan Gaddafi semasa hidupnya pun menjadi kenyataan.