Bangunan peninggalan kolonial Belanda memang dikenal dengan kualitas dan bentuknya yang khas. Tak hanya kokoh, tapi juga tahan hingga ratusan tahun lamanya. Salah satu dari para arsitek Belanda yang berjasa atas berdirinya bangunan tersebut adalah Herman Thomas Karsten. Tak hanya soal arsitektur, keberadaannya sangat spesial di mata orang Indonesia lantaran sikapnya yang memihak dan membela Bumiputera meski dirinya seorang Belanda.

Dilansir dari tirto.id, ia merupakan sosok penting di balik bangunan seperti Pasar Djohar Semarang, Gedung perkuliahan Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga tata kota Malang, Jawa Timur. Uniknya, ia ternyata seorang Belanda yang simpatik terhadap kaum Bumiputera yang terjajah dan bergabung bersama menentang negerinya sendiri.

Sosok cerdas yang pilih merantau ke negeri seberang

Pada 1914, Karsten mencoba peruntungan dengan merantau ke negeri seberang. Tujuannya adalag Hindia Belanda, tempat di mana ia kelak menelurkan banyak karya arsitektur yang monumental. Dilansir dari tirto.id, Karsten menuju ke tanah jajahan negerinya itu berkat undangan rekannya sesama arsitek yang bernama Henri Maclaine Pont, yang juga temannya semasa kuliah di Sekolah Tinggi Teknik Delft.

Sosok cerdas yang pilih merantau ke Hindia Belanda [sumber gambar]
Sebelumnya, Karsten sempat mengambil jurusan teknik mesin di sekolah tersebut, namun akhirnya berpaling ke jurusan bangunan lantaran ia berminat soal perumahan. Keahlian arsitektur dari pria kelahiran 22 April 1884 itu, datang dari perkumpulan insinyur yang diikutinya selain mendapat ilmu dari bangku sekolah. Tercata, Karsten sempat menjadi anggota Woning Commissie (Panitia Perumahan) dan perkumpulan Social Technische Vereeniging van Democractische Ingeniers en Architecten (Asosiasi Teknik Sosial Insinyur dan Arsitek Demokratik), serta pernah terlibat dalam pekerjaan pembuatan laporan Amsterdam Woningraad (Dewan Perumahan Amsterdam).

Rancang bangunan megah dan menata ruang perkotaan

Secara kebetulan, kedatangan Karsten ke Hindia Belanda bertepatan dengan persiapan Kota Semarang yang tengah dipercantik, karena bakal digunakan untuk perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis. Laman tirto.id menuliskan, pameran berskala internasional bertajuk Koloniale Tentoonstelling (Pameran Kolonial) yang dihelat pada 1915. Karsten memang lebih sering menjadi arsitek ketimbang perencana kota. Karya-karya bangunannya tersebar di Semarang, Solo, Yogyakarta, Medan, Comal, Palembang, dan banyak lagi.

Pasar Djohar Semarang yang juga merupakan karya Karsten [sumber gambar]
Usia menangani proyek prestisius sekelas Kota Semarang, Karsten juga dipercaya untuk menangani tata kota Malang. Pada saat inilah, ia mulai menarik diri dari pergaulan dengan teman-temannya. Meski dirinya berasal dari kaum elite kolonial, toh Karsten tak tertarik untuk membaur bersama mereka. Kegiatan seperti olahraga, berkunjung ke Societet Concordia yang merupakan pusat hiburan masyarakat kolonial, tak lagi dilakukannya.

Putra dari golongan elit yang lebih berpihak pada rakyat Indonesia

Sebaliknya, Karsten merasa iba dengan masyarakat Bumiputera yang hidup sebagai terjajah di tanah airnya sendiri. Dalam “Thomas Karsten’s Indonesia: Modernity and the End of Europe, 1914–1945” (2014), sejarawan Deakin University Joost Coté yang dikutip dari tirto.id mengatakan, Karsten adalah pengkritik kolonialisme, dilihat dari kerja-kerjanya merancang kota untuk menantang rasisme yang dilanggengkan oleh pemerintahan Hindia Belanda melalui tata kota mereka sebelumnya.

Thomas Karsten bersama keluarga [sumber gambar]
Hal ini dituangkan oleh Karsten lewat karya arsitektur yang berhasil dirancangnya hingga berdiri. Di mana ia meninggalkan konsep hunian rakyat yang disekat-sekat berdasarkan ras (pemukiman khusus Eropa, Cina, Pribumi, dan seterusnya). Sebaliknya, putra dari seorang arsitek kenamaan Belanda ini mengembalikan aspek perkotaan khas Jawa klasik yang menonjolkan rerimbunan pohon. Selain ‘menyindir’ pemerintahan Belanda lewat karya arsitektur, Karsten juga menceburkan diri ke aktivitas-aktivitas anti-kolonial dan kerap berkumpul maupun berdiskusi dengan masyarakat lokal. Tak hanya itu, ia juga mengenal sosok Sukarno yang kala itu memiliki pengaruh yang besar.

Arsitek ‘radikal’ yang nasibnya berakhir di dalam kamp tawanan

Simpatinya terhadap masyarakat Lokal ditunjukkan oleh Karsten dengan mendirikan Java Institute, menerbitkan majalah Djawa dan De Taak, perkumpulan kesenian Jawa Sobokarti di Semarang dan bergabung dengan kelompok intelektual Belanda De Stuw yang peduli dengan nasib masyarakat Hindia Belanda. Laman tirto.id menuliskan, Karsten juga menerbitkan majalah Kritik dan Upbow (Kritik dan Pembangunan) yang berisi tentang menghapus sistem dan masyarakat kolonial. Tak heran jika ia tak disukai oleh pemerintah Belanda sendiri.

Ilustrasi kamp interniran [sumber gambar]
Sayang, pendudukan Jepang atas Hindia Belanda menjadi terminal pemberhentian terakhir bagi Karsten. Dirinya yang pada saat itu baru beberapa bulan menjabat sebagai lektor luar biasa pada jurusan Planologi ITB, menjadi tahanan tentara Jepang yang mulai berkuasa. Saat masuk kamp tawanan tahun 1942, tubuhnya bahkan telah sakit-sakitan. Hingga puncaknya pada bulan April, Karsten menghembuskan napas terakhir di sebuah interniran yang berlokasi di Cimahi, Jawa Barat. Selesai sudah tugas sang maestro di dunia sebagai arsitek yang peduli dengan perjuangan rakyat Indonesia.

BACA JUGA: Mengenal Pria Belanda yang jadi Penyebab Indonesia Dijajah Hingga Ratusan Tahun

Meski telah lama tiada, sosok Thomas Karsten akan selalu abadi dikenang lewat karya-karyanya yang monumental. Selain itu, tak banyak arsitek Belanda seperti Karsten yang memadukan unsur daerah lokal dan cita rasa eropa saat membuat sebuah bangunan, yang hingga kini masih bisa dilihat keberadaannya. Pendek kata, keberadaan seorang Thomas Karsten telah banyak mengubah wajah Indonesia di masa lampau. Terutama kepeduliannya terhadap perjuangan rakyat.