in

Gundala: Ketakutan di Dalam Dirimu Bisa Menjadi Kekuatan Terbesar Paling Membantu

Gundala, sebuah film superhero Indonesia yang akan menjadi leader atau babat alas di Jagad Sinema Bumi Langit. Film ini disuguhkan secara apik dan sarat akan pesan moral, dan digarap oleh Joko Anwar. Hingga saat ini, Gundala sudah meraih lebih dari 1 juta penonton dari seluruh Indonesia. Pencapaian ini merupakan angka yang fantastis –bahkan menurut sang sutradara sendiri. Karena, film Gundala merupakan genre baru yang ternyata bisa diterima bahkan disambut hangat oleh masyarakat.

Gundala menceritakan kehidupan seorang Sancaka, anak seorang buruh pabrik yang berjuang untuk menegakkan keadilan. Sedari kecil Sancaka sudah melihat bagaimana ayahnya tewas ditusuk karena pengkhianatan dari teman-temannya sendiri. Belum hilang luka karena ditinggal pergi ayahnya, Sancaka sudah harus kehilangan ibu yang ia sebut ‘meninggalkannya’. Sehingga, seorang sancaka tumbuh dewasa dalam asuhan kemandirian yang ia usahakan sendiri.

Selain suguhan adegan laga dan efek-efek CGI, ada banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dari film Gundala ini, terutama dari kehidupan Sancaka sendiri. Semuanya, sangat erat dengan kehidupan sehari-hari kita. Toh, kita banyak menemukan anak-anak seperti Sancaka, yang tumbuh dan kuat dari rasa sakit masa lalu.

Ketakutan terbesar bisa berubah menjadi senjata paling ampuh

Sedari kecil hingga dewasa, Sancaka dikisahkan menjadi seorang anak yang takut kepada petir. Setiap kali hujan turun, ia selalu bersembunyi dan tak lupa menutup jendela rapat-rapat. Bahkan, Sancaka juga mengatakan bahwa ia tau bahwa gledek mengincarnya, karena itulah ia bersembunyi. Namun, setelah  dewasa, Sancaka baru memahami, ternyata ketakutannya adalah senjata dan kekuatan paling besar dalam hidupnya.

Sancaka dan kekuatan petir [sumber gambar]

Sambaran petir jugalah yang menjadikan ia sebagai Gundala, Sang Putra Petir. Dalam kehidupan nyata, setiap kita punya ketakutan atau ‘petir’ masing-masing. Kita punya ketakutan, yang kita anggap sebagai kelemahan sehingga kita tidak mau mendekatinya. Padahal, layaknya Sancaka, boleh jadi rasa takut adalah senjata paling ampuh yang bisa menjadikan kita ‘seseorang’ saat kita sudah mampu menaklukkannya. Kamu takut karena kamu belum mencoba saja. So, try and conquer that scaries feeling~

Jika tak menemukan orang baik, maka jadilah satu di antaranya

Dunia ini dipenuhi oleh berbagai manusia, dengan berbagai watak pula. Ada yang licik, ada yang penuh tipuan, ada yang baik hanya untuk memanfaatkan, ada pula yang lemah tapi ingin membantu. Tentu sangat mudah mencari orang seperti Pengkor atau Ghazul, karena orang jahat di dunia ini sudah tak terhitung jumlahnya. Tapi, bukan berarti manusia seperti Sancaka, Wulan (Merpati), atau mungkin Ridwan Bahri tidak ada.

Ridwan Bahri dan Pengkor [sumber gambar]

Mereka tetap ada, hanya saja kadang jumlahnya yang sedikit. Kalau begitu, benarlah kata pepatah yang bilang kalau “Selalu dan pasti ada orang baik di dunia ini, kalaupun kamu tidak menemukannya, maka jadilah salah satu di antaranya”. Menjadi orang yang punya hati bersih itu adalah pilihan, dan kamu bisa memilih hal itu saat tak ada lagi orang yang mengambilnya sebagai opsi.

Makna kemanusiaan seseorang lahir dari rasa kepedulian

Sancaka lahir di lingkungan dengan ketimpangan sosial. Ia menyaksikan ayahnya meninggal dengan mata kepalanya sendiri karena memperjuangkan keadilan. Sebelum meninggal, sang ayah berpesan kepada Sancaka agar dirinya terus memperjuangkan hal yang mereka sebut ‘keadilan’ itu. Namun, pertemuan dengan Awang membuat Sancaka sadar bahwa dirinya tak bisa terus menerus terlibat dalam hal yang bukan urusannya.

Perjuangakan keadilan [sumber gambar]

Hal tersebut ia bawa hingga dewasa, setiap melihat orang lemah yang ditindak sewenang-wenang, Sancaka akan masa bodo dan diam saja. Namun, hal ini ternyata salah, setelah ia bertemu dengan sosok perempuan bernama Wulan –yang berjuang melawan para preman pasar, ia kembali teringat akan pesan dari orangtuanya. Saat tak lagi ada orang yang mau peduli terhadap sesama, terutama mereka yang menjadi korban kesewenang-wenangan, maka makna kemanusiaannya sebagai manusia akan hilang. Hal yang sama juga disampaikan oleh Menteri Sri Mulyani, sesaat setelah usai menyaksikan Gundala.

Pengkor, karakter yang lahir untuk mengkritik para pejabat

Selain Sancaka, sosok yang tak kalah sering mendapat sorotan dalam film ini adalah Pengkor. Dihormati oleh hampir semua anggota dewan, Pengkor tak lebih dari seorang anak yang bangkit dari rasa sakit masa lalu. Ia sebenarnya tak bisa disebut full-villain, karena pengkor juga merupakan orang jujur yang melawan ketidakadilan dengan caranya sendiri. Selamat dari kebakaran rumah ketika ia masih kecil, Pengkor tumbuh dewasa dengan kaki dan wajah yang cacat.

Pengkor kecil dan Ghazul [sumber gambar]

Namun, kemudian ia dengan gigih mempertahankan sesuatu yang seharusnya ia miliki, merebut apa yang sekiranya menjadi haknya. Ia menjelma menjadi orang yang dermawan, menyekolahkan ratusan bahkan ribuan anak yatim di passion mereka masing-masing. Sebagai gantinya, mereka yang dididik oleh Pengkor harus memenuhi kehendak sang tokoh, termasuk untuk melakukan hal-hal buruk.

Meski Pengkor sangat menghayati penderitaannya dan menjadi ayah dari banyak anak yatim piatu yang mengabdi padanya, karakter ini memberikan pelajaran bahwa hal yang benar namun dilakukan dengan cara salah tetap akan membawamu kepada kesengsaraan. Kata-kata Pengkor sendiri juga merupakan sindiran pedas untuk orang-orang yang ada di kursi pejabat negara dan menyalahgunakan jabatan mereka.

Berikut beberapa yang sempat ia katakan

“Saya harus kasih contoh buat wakil rakyat yang tidak menghormati rakyat”

“Wakil rakyat tidak membutuhkan tangan, hanya mulut untuk bersuara”

“Saya kan rakyat!. Masa saya tidak boleh masuk ke dalam gedung wakil rakyat.”

“Apa yang berbahaya adalah simbol Harapan. Harapan bagi rakyat adalah candu. Dan Candu itu bahaya,” paling jujur sih ini, tapi juga sadis.

BACA JUGA: Tak Cuma Musisi yang Bisa Go Internasional, 5 Film Ini Juga Bikin Banyak Negara Klepek-klepek

Sejauh ini, Gundala merupakan film superhero yang cukup baik untuk mengawali langkah Bumi Langit Cinamatic Universe. Bangga sekali kan sekarang Indonesia juga punya film yang mengusung teman pahlawan khas asal tanah air. Kabar baiknya lagi, Gundala berhasil menembus Toronto International Film Festival (TIFF), salah satu festival film paling bergengsi di dunia, which is itu merupakan nilai plus sendiri untuk kita membumikan karya anak bangsa di kancah internasional.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Heboh Polemik KPAI, 5 Atlet Binaan PB Djarum Ini Bikin Bulutangkis Indonesia Mendunia

Sering Dianggap Remeh, Ini Ciri Pelecehan Seksual yang Selalu Memakan Korban