Debat Capres putaran kedua yang telah diselenggarakan pada 17 Februari 2019, banyak memberikan ruang terbuka bagi masyarakat untuk berpikir tentang visi dan misi yang diusung para capres. Dilansir dari laman news.detik.com, momen debat ini juga busa menjadi ajang bagi rakyat untuk menilai siapa capres yang menguasai materi.

Debat kedua dengan tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup, membuat kita sebagai masyarakat mengharapkan yang terbaik dari kedua calon pemimpin tersebut. Jika terpilih pada pemilu 2019, beberapa hal ini setidaknya bisa menjadi bagian dari kerangka kerja selama menjabat sebagai presiden.

Mengembangkan sumber daya terbarukan

Sumber Daya Alam (SDA), merupakan salah satu kebutuhan utama bagi manusia sebagai bagian untuk menunjang kehidupannya. Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah yang dikutip dari news.detik.com mengatakan, Indonesia akan menghadapi fenomena berupa kesenjangan sumber daya alam yang menipis, bersamaan dengan meningkatnya sumber daya manusia yang relatif tak terbatas.

Panel surya termasuk sumber daya energi terbarukan [sumber gambar]
Berdasarkan perhitungan Kementerian energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dikutip dari laman cnnindonesia.com, pada 2009 cadangan minyak mentah Indonesia akan habis dalam kurun 22,9 tahun, gas habis dalam 58,9 tahun, dan batubara habis dalam 82 tahun. Maka dari itu, para pemimpin Indonesia harus segera mendorong pengembangan energi alternatif terbarukan agar kelak tidak menimbulkan kelangkaan SDA di tengah-tengah masyarakat.

Mewadahi sekaligus memberikan kemudahan pada masyarakat terkait era industri 4.0

Era Industri 4.0 yang saat ini tengah berjalan, juga perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Seperti yang kita tahu, era baru tersebut ditandai dengan semakin masifnya teknologi yang digunakan di segala bidang kehidupan. Seperti yang dituliskan pada laman kemenperin.go.id, Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality, merupakan deretan teknologi yang harus dipahami oleh mereka yang berada di era industri 4.0.

Ilustrasi industri 4.0 [sumber gambar]
Selain memudahkan regulasi usaha, pemerintah juga bisa menginisiasi pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri. Selain itu, memberikan wawasan dan sosialisasi tentang pentingnya memahami teknologi internet of things di tingkat sekolah hingga perguruan tinggi, juga bisa dilakukan.

Berupaya meraih swasembada pangan di segala komoditas

Seperti yang kita tahu, swasembada pangan pernah diraih Indonesia di zaman pemerintahan Orde Baru Soeharto beberapa waktu silam. Ironisnya, capaian tersebut seolah menjadi barang langka di tahun-tahun kepemimpinan Presiden berikutnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari cnnindonesia.com, impor beras tembus 844 ribu ton pada 2014.

Swasembada beras di era Soeharto [sumber gambar]
Setahun setelah pemerintahan berjalan, impor beras naik tipis 861 ribu ton. Pada 2016 jumlahnya naik sebanyak 1,28 juta to. Meski sempat turun menjadi hanya 305 ribu ton pada 2017, di tahun berikutnya impor beras kembali meroket hampir mencapai tujuh kali lipat tahun sebelumnya menjadi 2,25 juta ton. Untuk itu, mereka yang terpilih diharapkan juga fokus membenahi hal tersebut agar memori swasembada pangan di era Soeharto bisa dirasakan kembali.

Mendorong startup potensial agar bisa meraih status unicorn

Pembahasan soal unicorn yang sempat terjadi pada ajang debat capres kedua beberapa waktu lalu, membuat sebagian masyarakat bertanya-tanya, “apa itu unicorn?“. Dilansir dari cncbncindonesa.com, unicorn adalah h sebuah perusahaan startup yang memiliki valuasi (nilai ekonomi dari bisnis ) hingga US$ 1 miliar. Masih dari sumber yang sama, Indonesia memiliki lima startup unicorn, yakni Gojek ($ 10 miliar), Tokopedia ($ 5,9 miliar), Traveloka ($ 500 juta) dan Bukalapak ($ 200 juta).

Mendorong pelaku startup lokal untuk sukses [sumber gambar]
Keberhasilan ini bisa menjadi acuan pemerintah, untuk terus mendorong pertumbuhan usaha rintisan berbasis teknologi di Indonesia. Menurut data lembaga riset CHGR yang dikutip dari beritasatu.com, Jumlah bisnis rintisan berbasis teknologi (start-up) di Indonesia diproyeksikan akan tumbuh 6,5 kali lipat menjadi sekitar 13.000 pada 2020 mendatang.

BACA JUGA: Inilah Hal yang Akan Terjadi Jika Debat Capres 2019 Diganti dengan Musyawarah Mufakat

Beberapa hal di atas, tak akan pernah terjadi jika hanya menjadi visi misi untuk mengdongkrak elektabilitas semata. Perlu ada kerja keras yang nyata untuk mewujudkan hal besar tersebut. Memang, selalu ada kekurangan dan kelebihan dari kinerja pada para presiden Indonesia, baik di masa lalu maupun saat ini. Sebagai masyarakat, kita doakan siapapun yang akan naik menjadi pemimpin di negeri ini, bisa membawa amanah masyarakat menjadi hasil yang nyata.