Debat Capres jilid satu alhamdulilah resmi berakhir pada Kamis Malam tanggal 16 Januari 2018. Dari ajang tersebut, tentunya banyak hal yang bisa tangkap, mulai dari joget Prabowo, aksi pijat Sandiago Uno, sampai aksi-aksi counter attack ala pasangan nomor satu. Namun, mungkin kita akan sama-sama setuju jika pada ajang tersebut, lebih banyak menyampaikan aksi-aksi sindir , dari pada penyampaian gagasan mendalam mengenai tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.

Padahal manfaat debat seperti dikutip Tirto.id adalah soal penetapan agenda, yaitu pentingnya kebijakan atau masalah kampanye tertentu dalam pikiran publik dapat meningkat.Ya, Kalau saling memaparkan kekurangan masing-masing calon, tidak ada bedanya dengan emak-emak ketika ngobrol di tukang sayur.

Salah satu aksi sindir Prabowo ketika dia mencontohkan ada seorang kepala daerah yang menyatakan dukungan pasangan calon nomor urut 01 tapi ditangkap. “Itu tidak adil,” ujarnya. Lalu dibalas oleh Jokowi dengan menyebutkan kasus hoax Ratna Sarumpaet beberapa waktu lalu. Nah, dari hal tersebut jelas kalau debat kemarin bisa dikatakan tidaklah sampai kepada tujuannya.

Berkaca dari kondisi itu tentunya menjadi sebuah hal yang tidak mengenakan. Bahkan cenderung bisa membuat gesekan antar pendukungnya semakin panas. Maka dari itu demi kedamaian dan kerukunan bangsa, Boombastis.com mempunyai usulan bila acara debat ke depan, diganti dengan musyawarah mufakat. Dan berikut beberapa analisis kami jika kegiatan tersebut benar dilaksanakan.

Kemungkinan saling sindir akan kecil peluangnya

Seperti yang kita ketahui bersama musyawarah adalah kegiatan berbasis kepada kekeluargaan. Bahkan meski ada kepentingan masing-masing namun sikap gotong-royong tetap menjadi hal yang utama. Pasalnya, yang diburu memang sebuah jalan keluar untuk sebuah masalah.

Jokowi dan Prabowo [Sumber Gambar]
Berangkat kondisi tersebut, tentu dapat disimpulkan kalau musyawrah sangat minim peluangnya terjadi saling sindir. Toh, kalau tetap terjadi biasanya dibarengi guyonan dan diredakan dengan kudapan-kudapan yang sering menjadi pelengkap kegiatan tersebut. Bagaimana sobat Boombastis kalian pilih yang mana ?

Berpotensi memunculkan gagasan yang lebih baik untuk Indonesia

Melihat tujuan musyawarah yang telah dipaparkan tadi, salah satu hal yang mungkin terjadi bila kedua pasangan Capres dan Cawapres lakukan kegiatan itu, adalah berpotensi memunculkan gagasan baru. Pasalnya sifat musyawarah bukan cari siapa menang tapi bersama mencari solusi.

Anak-anak membawa sang saka merah putih [Sumber Gambar]
Nah, kalau hal tersebut dilakukan bisa terbayang bukan bagaimana banyak pemikiran-pemikiran baru untuk menjadi negeri ini menjadi lebih baik. Misalnya, mencari jalan keluar untuk menyelesaikan kasus pelanggar HAM atau bagaimana membuat kekayaan negara ini tidak bocor ke luar negeri. Kan, enak tidak perlu berlomba menjadi terbaik di mata rakyat.

Suasana Indonesia bisa menjadi Lebih Adem

Selain beberapa hal tadi, penggunaan kegiatan ini juga membuat susana di Indonesia lebih adem. Hal ini lantaran para kampret, kecebong, genderuwo, dan sontoloyo duduk bersama membahas bagaimana membuat negara ini dan isinya menjadi lebih baik. Jadi enggak perlu twett war lagi atau perang di kancah media sosial.

Indonesia damai [Sumber Gambar]
Ya meski tidak menutup kemungkinan tetap ada gesekan, namun bila dibandingkan acara Debat kemungkinan besar lebih minim. Jari-jari untuk perang pun bisa berubah untuk kegiatan lebih bermanfaat di musyawarah seperti contohnya mencatat. Bagaimana kalian-kalian yang menjadi pejuang Paslon 1 dan 2 setuju apa tidak?

BACA JUGA: 4 Alasan Logis Mengapa Debat Capres Tidak Perlu Dilakukan

Bagaimana nih sobat Boombastis kira-kira kalian setuju apa tidak dengan usulan tadi? Iya atau tidak sih kembali diri kalian masing-masing ya. Tapi terlepas dari hal tersebut mau menggunakan musyawarah atau debat, tentu banyak rakyat mengharapkan dari kedua Capres dan Cawapres adalah kerja nyata atau terobosan baru untuk menjadi Indonesia lebih baik lagi ke depan.