Beberapa hari yang lalu, seorang ojol yang dibelikan pizza oleh seorang yang notabenenya berbeda keyakinan membuat ramai timeline Twitter dan Instagram. Kejadian lain adalah sekelompok anak TK Katolik yang berkunjung dan dengan bahagianya berpelukan dengan saudara mereka yang muslim. Momen ini terjadi saat kunjungan bulan Ramadan anak-anak TK di Madiun sebagai ajang merekatkan silaturahmi.

Ramadan memang bulan berkah, ada banyak sekali kejadian menghangatkan hati antarsesama umat yang akur dan damai. Selain dua kisah di atas, ada kisah lain yang datang dari seorang dosen muda dan mengajar di Universitas Kristen Maranatha, Bandung.

Toleransi yang seharusnya [Sumber gambar]
Kisah ini dibagikan oleh salah seorang mahasiswanya bernama Andi Triwahyudi dalam akun facebook pribadinya. Ya, layaknya perkuliahan, ada jadwal di mana mahasiswa harus masuk menjelang sore hingga waktu magrib, bahkan hingga malam hari. Itulah yang dialami oleh Andi dan kawan-kawannya. Ia menceritakan bahwa hari itu, Jum’at (10/5) ia kuliah dari ┬ápukul 17.00-19.30. sehingga bagi yang muslim, saat azan mereka tentu harus berbuka. Nah, yang dilakukan oleh dosen bernama Rusli ini membuat salut.

Dosen tersebut menghentikan sejenak kegiatan belajar dan memberikan waktu untuk mahasiswanya yang muslim untuk berbuka. Tidak hanya itu, beliau yang seorang non-muslim ini juga membagikan takjil kepada semua mahasiswanya. Akhirnya, semua mahasiswa, baik muslim maupun tidak berbuka bersama di kelas tersebut.

Bagi takjil oleh Pak Rusli [Sumber gambar]
Toleransi seperti inilah yang seharusnya kita lestarikan, saling merangkul dan berbagi walaupun berbeda. Andi sendiri menceritakan jika di kampusnya, ia termasuk orang yang minoritas, tetapi hal tersebut tidak menjadikan ia didiskriminasi oleh teman-temannya. Yang ada, mereka memperlakukan Andi layaknya bagian dari mereka.

Pelajaran yang dihentikan sejenak [Sumber gambar]
Cerita-cerita di atas seharusnya bisa menjadi oase, terlebih untuk keadaan Indonesia yang toleransinya sedang tergerus dan terus menipis. Kita tentu tau tentang penolakan pembangunan gereja, nisan yang dipotong karena tidak seiman, serta banyak kejadian lain. Netizen juga sepakat dan memuji apa yang dilakukan oleh Pak Rusli ini.

BACA JUGA: Driver Ojol Dibelikan Pizza untuk Berbuka oleh Seorang Katolik, Bukti Perbedaan Itu Indah

Pak Rusli mengajarkan jika, saat berada di kelas mereka yang tergolong minoritas bisa menghargai saudara muslim yang mayoritas serta saat itu posisinya sedang beribadah. Jika hal itu bisa terjadi, maka harusnya kita yang mayoritas juga bisa menghargai keberadaan minoritas. Tak perlu saling mencaci dan membenci kalau bisa saling menyayangi. Mari kita jadikan Indonesia tanah yang aman dan damai untuk berbagai keberagaman suku, agama, budaya, serta ras yang hidup di dalamnya.