Nama Coki Pardede dan Tretan Muslim sempat menjadi sorotan setelah kasus masak daging babi menggunakan sari kurma, banyak dihujat oleh netizen tanah air. Alhasil, kedua komika yang berbeda keyakinan itu banyak menerima kritikan tajam hingga ancaman yang mengarah pada kekerasan.

Sejak awal, duo komika ini memang membawakan suatu lawakan yang berbeda dengan lainnya. Dilansir dari tirto.id, Coki dan Tretan yang kini bergabung dengan Majelis Lucu Indonesia (MLI), kerap membawa materi-materi dark comedy. Di mana hal tersebut membuat sosok keduanya lekat dengan humor-humor satire tentang toleransi beragama dan solidaritas.

Soal konten memasak babi dengan saus kurma yang akhirnya viral di dunia maya, Coki dan Muslim pun akhirnya dicap sebagai penista agama. Sayangnya, mereka yang beranggapan demikian kemungkinan gagal paham dengan maksud dan tujuan dari konten pada dalam video tersebut.

Namun yang menarik dari kedua komika ini adalah, bagaimana mereka merajut persahabatan satu sama lainnya meski berbeda keyakinan. Bahkan dalam tayangan video YouTube mereka di channel Majelis Lucu Indonesia (MLI), keduanya seakan tanpa beban saling melempar jokes ‘sensitif’ tentang solidaritas, agama dan keresahan atas tingkah pola netizen di tanah air. Tentunya dalam sudut pandang mereka berdua.

Dalam tayangan video Last Hope Kitchen yang bertema memasak babi dengan saus kurma, Tretan Muslim yang memang beragama Islam kerap memanggil Coki dengan sebutan Al-Kufar (kafir). Apakah Coki yang non-Muslim merasa terhina? Tidak juga. Hal ini terjadi karena mereka paham akan konteks dan tujuan sebenarnya dari panggilan tersebut. Jika masih ada yang tersinggung, kemungkinan besar mereka gagal paham dan hanya menonton videonya sepotong-potong.

Pun jika kita lihat kondisi masyarakat pada saat ini. Di mana isu kekerasan dan kebencian yang terjadi, selalu berlatarkan SARA di baliknya. Kata-kata’penista agama’, seakan mudah dijumpai pada mereka yang dianggap tidak ‘sejalan’ dengan kelompok lainnya. Alhasil, agama dewasa ini telah menjadi semacam komoditas yang bisa digulirkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Atas dasar inilah, sosok seperti Coki dan Muslim hadir untuk menjelaskan tentang keresahan yang mereka rasakan, tentunya disajikan dalam balutan komedi.

Menurut pandangan penulis pribadi, toleransi merupakan salah satu bentuk untuk menghormati orang lain dalam sebuah kelompok masyarakat yang majemuk. Di mana ada banyak perbedaan di dalamnya, baik soal cara hidup, memandang suatu masalah atau fenomena, hingga keyakinan yang dianut. Namun yang paling penting adalah, bagaimana memahami sebuah toleransi secara utuh dan berusaha merangkul mereka yang ‘berbeda’ tanpa maksud menghakimi.

BACA JUGA: Disebut Komika Kontroversial, Begini Perjuangan Muslim dan Coki di Dunia Hiburan Indonesia

Jelasnya, toleransi adalah sebuah bentuk menghormati keragaman dan perbedaan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sama seperti yang dilakukan oleh Coki dan Muslim di atas, persahabatan di antara mereka menjadi bukti bahwa ‘saling pengertian’ itu sejatinya sangat menyejukkna. Tentu saja, toleransi yang dilakukan harus berdasarkan rambu-rambu agama yang dianut masing-masing. Hiya..hiya..hiya..