Berbicara tanah Papua, tentu tidaklah bisa dilepaskan dari keragaman suku-sukunya yang ada di sana. Meski kerap disebut tertinggal dari perkembangan zaman, namun berkat mereka negara kita semakin dikenal mempunyai corak suku, budaya, dan etnis luar biasa. Bahkan banyak orang dari luar negeri mengaku iri dengan Indonesia akan hal tersebut.

Masih terkait suku di sana, Amungme bisa dikatakan menjadi yang tertua di wilayah timur Indonesia tersebut. Kabarnya juga sebelum Freeport ada mereka adalah orang-orang menempati wilayah pertambangan besar tersebut. Lalu seperti apakah mereka sebetulnya? Temukan jawabannya sendiri di ulasan berikut ini.

Menjadi suku pertama mengantarkan ekspedisi penelitian Freeport

Ilustrasi ekspedisi Freeport [Sumber Gambar]
Bila kalian bertanya siapa yang mengantarkan peneliti, pada ekspedisi ke Grasberg pada tahun 1960 jawabannya adalah Suku Amungme. Menurut lapoaran Tirto.id, ketika itu tim riset dari Freeport yakni Forbes Wilson didampingi Moses Kilangin yang notabene merupakan tokoh suku tersebut. Mereka membantu ekspedisi tersebut melawati rute-rute sulit mulai dari menyeberangi Sungai Tsinga sampai berjalan ke utara di sepanjang Lembah Aghwangong. Dan hal tersebut merupakan cikal bakal ditemukan potensi mineral di tempat tersebut.

Suku percaya Freeport adalah tanah suci

Gunung di wilayah Freeport [Sumber Gambar]
Sebagai penganut kepercayaan animisme bisa dibilang mereka mempunyai penggambaran yang unik mengeni leluhur. Salah satunya adalah mempercayai jika Freeport merupakan tanah suci. Usut punya usut hal tersebut terjadi lantaran Amugme percaya kalau Gunung Gasberd adalah tempat roh roh nenek moyang tinggal. Selain hal tersebut sungai Aijkwa yang dahulu selalu mengaliri suku tersebut juga dipercayai oleh mereka sebagai tempat yang sakral. Berkaca dari hal tersebut memang tidak salah kalau hingga berita ini ditulis mereka selalu memprotes kehadiran Freeport.

Kelompok etnis Papua yang memiliki tinggi kemiskinan tinggi

Suku Amungme [Sumber Gambar]
Selain hal-hal tadi, Amugme juga menjadi salah satu suku di tanah Papua yang kelompoknya memiliki tingkat kemiskinan tinggi. Dilansir Boombastis dari Tirto.id, hampir 70 % orang di suku tersebut hidup di bawah garis kemiskinan. Menyedihkan memang, hal tersebut semakin menambah penderitaan mereka yang sempat terusir lantaran kedatangan perusahaan tambang tadi. Pada umumnya, anggota Amugme hidup di wilayah pegunungan. Dalam keadaan susah tersebut mereka bertahan dengan menanam kopi untuk menghasilkan uang.

Amungme, suku mempunyai kebudanyaan yang unik

Bermain Tifa [Sumber Gambar]
Masih terkait mereka, Suku Amungme juga memiliki sebuah kebudayaan yang unik. Mulai dari corak bahasa sampai ragam kesenian yang mereka hasilkan sendiri. Amungme sendiri disebut mempunyai ragam bahasa lantaran dalam keseharian menggunakan dua metode berkomunikasi. Bagi suku tersebut yang hidup disebelah utara menggunakan Darmal, sedangkan untuk mereka tinggal di wilayah selatan bahasa Amungkal yang kerap digunakan untuk berkomunikasi. Selain itu, Amungme juga mempunyai alat kesenian yang unik bernama Tifa. Dari penelusuran penulis benda tersebut merupakan sejenis alat musik tabuhan berbentuk panjang.

BACA JUGA: Melihat Tempat Ibadah Karyawan Freeport yang Ribuan Meter dalam Perut Bumi

Menilik kisah suku tersebut agaknya sayang bila ke depan berhasilnya aku sisi saham Freeport oleh pemerintah Indonesia, tidak memperbaiki kehidupan mereka lebih bagus. Pasalnya bila dilihat-dilihat mereka mempunyai potensi budaya bagus yang bisa dikembangkan untuk memperkokoh pariwisata nasional. Selain itu kehidupan yang lebih baik juga bisa menjadi bentuk keadilan untuk mereka yang menderita lebih 50 tahu lantaran Freeprot.