Sudah menjadi rahasia umum, wilayah Timur Indonesia khususnya Papua (Iria Jaya) adalah tempat di negeri yang kerap hasilkan pesepakbola-pesepakbola berbakat. Bahkan setiap tahunnya lewat klub-klub seperti Persipura Jayapura, Perserui Serui, dan masih banyak lagi, lahirlah talenta luar biasa di olahraga ini. Masih terkait daerah tersebut, meski menjadi gudang pemain potensial, tapi acap kali atlet bola dari sana dicap tidak nasionalis.

Seperti contohnya ketika Boaz mangkir panggilan Timnas. Lalu beberapa pemain dari wilayah tersebut kesulitan menyanyikan Indonesia raya. Tidak berhenti disitu sikap mereka yang kerap indisipliner juga sempat mendapatkan nyiyiran dari netizen, kalau hal terjadi lantaran warga Papua kurang nasionalis.

Kalau ditarik sejarah ke belakang tepat sebelum penentuan pendapat rakyat (pepera), atau wilayah kembali kepangkuan Ibu Pertiwi, kabarnya banyak masyarakat sana menolak untuk bergabung dengan Indonesia. Tapi anggapan itu, agaknya tidaklah terbukti kalau melihat perjuangan anak-anak Papua saat berseragam Timnas. Mereka terlihat menunjukkan ketulusan untuk membuat sepak bola Indonesia berjaya. Tidak percaya kalian? Buktikan sendiri di ulasan berikut ini.

Lewat Kemampuan skill Boaz Indonesia menjadi Tim sangar di AFF 2004

Meski pada akhirnya harus menjadi juara tanpa mahkota, namun penampilan Indonesia di AFF sungguh sangat di luar dugaan. Berangkat dengan rasa pesimistis para penggemar, malang Tim Merah Putih bisa menunjukkan penampilan oke. Bahkan Ilham Jaya Kusa dan kawan-kawan sukses menembus final sebagai dengan jumlah gol terbanyak.

Aksi Boaz dengan Timnas [Sumber Gambar]
Dalam rentetan hasil bagus itu, apresiasi tinggi layak disematkan kepada sosok pemain dari Papua bernama Boaz Solossa. Pria kini bermain untuk Persipura memberikan performa luar biasa yang memberikan adil kemenangan Timnas. Aksi-aksi hebatnya juga menjadi penyebab akhirnya Indonesia mampu membalikkan keadaan atas Malaysia dan lolos ke laga pamungkas.

Trio Papua Timnas membuat Indonesia sabet perak SEA Games 2011

Masih terkait pengaruh darah Papua untuk prestasi sepak bola Indonesia. Di ajang SEA Games 2011 lalu, lewat trisula maut yakni Titus Bonai, Patrick Wanggai, dan Oktovianus Maniani, Indonesia sukses meraih medali perak. Meski emas gagak diraih, namun ketiga orang tadi menciptakan suatu kengerian untuk lini depan Tim Merah Putih.

Tibo dan Patrick [Sumber Gambar]
Tercatat, berkat gol Patrick dan Tibo saat itu Timnas mampu lolos ke partai puncak SEA Games. Kontribusi mereka juga membuat Indonesia hanya menelan dua kekalahan selama pagelaran berlangsung. Selain tahun tersebut, ajang serupa pada 2013 lewat bantuan trio Papua yakni Andri Ibo, Nelsom Alom, dan Ferinando Pahabol Indonesia kembali merasakan perak.

Darah muda Papua Todd Rivaldo Ferre bantu Timnas U-19 juara ketiga AFF

Selain nama-nama tadi Todd Rivaldo Ferre, juga menjadi talenta asal Timur Indonesia yang mempunyai kontribusi besar untuk capaian Timnas. Meski lagi-lagi bukan peringkat satu dipersembahkan, namun berkat kemampuannya Tim Merah Putih bisa mengeluarkan permainan yang sangar. Seperti salah satunya ketika Piala Asia U-19 2018, aksi Todd membuat Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan atas Qatar.

Todd Rivaldo Timnas [Sumber Gambar]
Masih terkait pemain mungil ini, kemampuan dan bakat besarnya juga membantu Indonesia meraih peringkat ke tiga di AFF U-19 2018. Saat itu penampilan bagusnya membuatnya sukses mengoleksi empat gol. Dan mampu menjadi salah pemain yang mampu menambal ketidakhadiran Egy Maulana Vikri.

Rully Rudolf Nere bawa Indonesia meraih emas di SEA Games 1987

Dari semua tadi, agaknya prestasi terhebat darah Papua kepada bangsa ini dalam priode 80-an ke atas layak disandang oleh sosok Rully Rudolf Nere. Bersama skuad Timnas tahun 1987, ia sukses mempersembahkan keping emas pertama dari sepak bola di SEA Games Jakarta. Penampilan epic pria yang kini sudah pensiun tersebut juga menginspirasi rekan-rekan untuk hasilkan sejumlah gol

Potret Rully Nere [Sumber Gambar]
Seperti ketika satu golnya ke gawang Burma, melecut semangat pemain lain untuk memborbardir gawang negara tetangga tersebut. Alhasil pada partai semifinal Indonesia menang telak 4-1. Dan sebelum akhirnya ditutup kemenangan paripurna di partai puncak atas Malyasia 1-0.

BACA JUGA: Melihat Prestasi Timnas di Beberapa Era Presiden, Pada Zaman Siapa Timnas Paling Berjaya?

Capaian-capaian pemain tadi adalah sedikit bukti, kalau sebetulnya anggapan tidak nasionalis merupakan hal keliru disematkan untuk mereka. Seharusnya kita bisa sadar mereka-mereka bisa bantu Indonesia menjadi hebat itu, merupakan sosok berangkat dari wilayah tertinggal di negeri ini, yang kita ketahui kehidupan jauh lebih sulit dan keras.