Konflik antara aparat TNI/Polri dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua memang masih terus terjadi hingga saat ini. Bentrokan berdarah kerap mewarnai kedua belah pihak yang saling bertolak belakang tersebut. KKB Papua sendiri didukung oleh organisasi macam TPNPB (sayap militer OPM), hingga UMLWP pimpinan Benny Wenda.

Saat bergerak di lapangan, KKB Papua memiliki sekelompok orang terstruktur dengan seorang pemimpin dan dilengkapi dengan senjata api. Daerah operasinya pun berbeda-beda sesuai wilayah tempat mereka berada. Meski demikian, banyak juga dari mereka yang akhirnya memilih menyerah dan kembali ke pangkuan NKRI.

Struktur TPN-OPM berdasarkan wilayah operasinya

Kelompok TPN-OPM dipetakan menjadi beberapa bagian sesuai dengan wilayah di mana mereka beroperasi. Menurut Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) HAM wilayah Papua, Fritz Ramande yang dikutip dari Tempo (24/12/2015), mereka memiliki dua struktur kepemimpinan yakni pegunungan dan pantai dan afiliasi dengan negara federasi.

Ilustrasi kelompok OPM [sumber gambar]
Pertama adalah kelompok TPN-OPM wilayah pegunungan yang dipimpin oleh Goliath Tabuni. Tabuni dan anak buahnya bergerak lebih cenderung motif ekonomi dan balas dendam terhadap anggota TNI dan Polri. Sasaran mereka biasanya adalah proyek-proyek seperti pembangunan jalan dan jembatan.

TPN-OPM yang berafiliasi dengan negara federasi (Tentara Nasional Papua Barat)

Sementara itu, ada pula TPN-OPM yang beroperasi di wilayah pantai sampai dengan pegunungan dengan pemimpin Richard Yoweni sebagai panglimanya. Berbeda dengan kelompok Goliath Tabuni, TPN-OPM di bawah Richard lebih terstrukutur dan melakukan diplomasi lewat jalur politik daripada penggunaan senjata.

TPN-PB OPM Puncak Jaya [sumber gambar]
Ada pula kelompok TPN-OPM yang memiliki hubungan atau berafiliasi dengan Tentara Nasional Papua Barat di bawah komando Ferdinando Worabai. Kelompok yang bermarkas di Teluk Cendrawasih ini memiliki jumlah orang yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan Goliath Tabuni dan Richard Yoweni.

Organisasi pendukung kemerdekaan Papua dari berbagai jalur

Ada dua organisasi yang terlibat dan menjadi pendukung kemerdekaan Papua, yakni Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Masing-masing bergerak sesuai dengan kapasitasnya yakni jalur militer dan diplomasi secara politik.

Benny Wenda saat acara pembukaan kantornya di Oxford, Inggris [sumber gambar]
TPNPB dibentuk pada 26 Maret 1973, setelah Proklamasi Kemerdekaan Papua Barat 1 Juli 1971 di Markas Victoria sebagai sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM), dengan Jenderal Goliath Tabuni sebagai Panglima Tinggi. Sementara ULMWP dibentuk oleh aktivis Benny Wenda yang bergerak di jalur diplomasi internasional dan politik OPM.

Banyak yang menyerah dan menyatakan setia dengan NKRI

Meski terhitung memiliki organisasi yang lumayan terstruktur, banyak dari anggota OPM yang justru menyerah di tengah jalan. Bagi mereka, impian negara Papua Merdeka yang dijanjikan oleh pemimpinnya serasa omong kosong belaka. Menyerah dan kembali ke pangkuan NKRI pun menjadi solusi dari permasalahan yang dialami oleh anggota KKB Papua tersebut.

Mereka yang menyerah, rata-rata merasa tertipu dan perjuangannya serasa tak berguna. Hidup menderita di hutan saban hari dengan hanya mengandalkan logistik yang dicuri dari kebun warga, menjadi salah satu pemicu untuk menyerah dan tak lagi melanjutkan perlawanan terhadap aparat keamanan Indonesia.

BACA JUGA: Mengenal Benny Wenda, Aktivis OPM yang Kendalikan Organisasi Separatisnya dari Inggris

Ada banyak alasan dari para KKB Papua yang akhirnya memilih untuk menyerah dan kembali mengikrarkan kesetiaan pada NKRI. Selain ingin hidup normal seperti warga sipil kebanyakan, adanya rasa tidak percaya dan kecewa terhadap pemimpin mereka, menjadi faktor penyerahan diri tersebut. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?