Kena tilang saat berkendara di jalanan, bisa jadi merupakan pengalaman yang ‘buruk; bagi sebagian orang. Tak jarang, ada banyak dari mereka yang merasa jengah atau bahkan ’emosi’ secara tiba-tiba karena mendadak diberhentikan dan ditilang. Sudah lumrah di Indonesia, masyarakatnya kerap ngamuk pada pihak kepolisian karena hal demikian.

Sosok pria yang mendadak viral karena merusak motornya sendiri saat ditilang oleh Polisi, ternyata menguak sisi lain dari maraknya warga yang sering emosi karena hal tersebut. Meski belum diketahui penyebabnya secara pasti, setidaknya beberapa hal di bawah ini bisa jadi mewakili perasaan mereka yang menjadi penyebab emosi saat kena tilang.

Males karena image polisi yang dianggap minta uang lewat tilang

Ilustrasi Polisi menanyakan surat-surat [sumber gambar]
Bukan rahasia umum, aksi tilang yang dilakukan oleh pihak kepolisian sering dianggap oleh masyarakat sebagai ‘kesempatan’ untuk mencari uang. Hal semacam ini kerap terjadi dan diperparah oleh makin maraknya mereka yang kena tindak, mencari ‘jalan damai’ dengan sejumlah uang. Meski tak semuanya berlaku demikian, toh masyarakat sudah terlanjur menyematkan pandangan tersebut pada korps baju cokelat itu.

Alasan terburu-buru yang klise

Saat kena tilang, alasan yang paling sering dilontarkan oleh warga adalah karena terburu-buru karena ada keperluan mendadak. Tak jarang, hal ini sering disertai dengan adu argumen antara polisi dan masyarakat sipil yang ditilang. Entah karena memang lupa tidak membawa kelengkapan akibat terburu-buru atau hal lainnya, kedua kubu yang memiliki kepentingan berbeda ini sering cekcok. Dari pihak kepolisian yang ingin menegakkan aturan, sementara di sisi warga merasa alasannya karena terburu-buru ingin dibenarkan.

Merasa ‘benar sendiri’ padahal langgar aturan

Salah satu sikap merasa yakin ‘benar sendiri’ saat berkendara, terkadang menjadi salah satu faktor yang memicu perang urat syaraf dengan pihak kepolisian. Merasa telah melengkapi diri dengan surat resmi dan kondisi kendaraan yang layak, terkadang bukan jaminan bagi pengendara untuk tidak melakukan pelanggaran. Bisa jadi, polisi masih menindak karena dianggap bersalah. Salah satunya adalah tidak taat pada rambu-rambu dan hal kecil lain yang kadang dianggap remeh. Jika sudah begini, tak jarang pengendara menjadi emosi karena merasa dirinya ‘benar’, tapi tetap ditilang.

Bisa jadi karena lagi suntuk dan banyak pikiran

Masalah lain yang kadang membuat seseorang jengkel saat kena tilang adalah kondisi otak yang tengah labil. Alhasil, logika berpikir yang sedikit terkubur oleh masalah dan menyumbat kesadaran, menjadi pemantik emosi secara konstan saat dihadapkan oleh sesuatu yang dianggap tidak menyenangkan (tilang). Jika sudah begini, siap-siap saja ‘adu kuat’ dengan polisi.

BACA JUGA: 4 Fakta Tentang Budaya ‘Titip’ Saat Sidang Tilang di Indonesia

Tilang memang tak sembarangan dijatuhkan kepada masyarakat begitu saja. Tentu ada prosedur dan proses yang membuat vonis tersebut sah di mata hukum dan UU yang berlaku. Kecuali, ada oknum polisi yang tanpa disertai tugas resmi dan alasan yang kuat, tiba-tiba datang dan main tilang begiut saja. Untuk yang satu ini, Anda berhak untuk mengajukan keberatan. Tapi kalo memang salah, ya harusnya nurut saja.