Para penganut teori bumi datar mempercayai, bahwa planet biru ini memiliki kubah yang melingkupi cakrawala langit. Sayangnya, anggapan tersebut justru bertentangan dengan mereka yang lebih condong mendukung bentuk bumi yang bulat. Dalam laporannya, sains.kompas.com menulis sebuah potongan dialog antara penganut teori flat earth dengan Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin.

Dalam sebuah cuplikan video, sejumlah pertanyaan terkait dengan keberadaan kubah langit, seperti roket dan pesawat ulang alik yang terbang dalam bentuk kurva, tidak tegak lurus ke atas karena akan meledak ketika menabrak dome (kubah langit). Hal ini pun dijelaskan secara gamblang, bahwa roket dan pesawat ulang alik terbang melengkung karena efek gravitasi bumi sehingga lintasannya berbentuk parabola.

Selain itu, kelengkungan pelangi yang berbentuk kurva dan tidak ada satupun benda yang dapat menembusnya, juga dianggap oleh penganut teori bumi datar sebagai batas langit yang kokoh. Hal in pun dijelaskan pula oleh Thomas. Bahwasannya, kelengkungan pelangi bukan disebabkan oleh kubah langit, melainkan karena terbatasnya indera pengamatan manusia. “Pelangi tampak melengkung setengah lingkaran juga karena batas pandang mata pengamatnya,” ungkapnya yang dikutip sains.kompas.com.

Salah satu pembuktiannya adalah peluncuran satelit telekomunikasi milik Indonesia, Lapan A2. Di mana benda antariksa tersebut biasanya diluncurkan sampai ketinggian lebih dari 400 km. Sementara Lapan A2, berhasil ,mengorbit hingga 650 km. Hal ini pun seolah menjadi pembuktian secara jelas bahwa kubah bumi memang tidak ada. Namun, sejumlah eksperimen yang pernah dilakukan, seolah menjadi ajang pengujian untuk membuktikan bahwa kubah bumi memang benar adanya.

Salah satunya adalah percobaan yang dilakukan dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Laman en. wikipedia.org menuliskan, ada beberapa tahapan percobaan HANE ( high-altitude nuclear test) yang dilakukan pada 9 July 1962. Tercatat, ada total dari 27 roket yang dilesakkan dari pulau Jhonston menuju ke angkasa. Percobaan ini sendiri hendak menguji adanya lapisan alami yang menyelimuti bumi.

Pada masing-masing percobaan, terlihat roket-roket yang diluncurkan meledak dengan sendirinya setelah mencapai ketinggian tertentu. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kejanggalan di luar jangkauan pikiran manusia. Di mana bom nuklir yang digunakan memiliki daya hancur yang dahsyat, namun hancur saat mencapai ketinggian tertentu.

Proyek ini sendiri bertujuan untuk meneliti radiasi misterius yang menyelimuti atmosfer bumi. Besar kemungkinan, itulah yang disebut sebagai kubah bumi oleh kalangan penganut teori bumi datar. Di mana tak ada satupun benda buatan manusia yang mampu menembus permukaannya. Jika sekelas roket berhulu ledak nuklir saja tak sanggup menembus ketinggian tertentu di angkasa, bagaimana dengan satelit, pendaratan di bulan, misi ke mars yang selama ini selalu digembar-gemborkan negara-negara maju kepada umat manusia?

Selain dilakukan pada percobaan skala besar, beberapa orang yang hendak membuktikannya pun kerap mengadakan berbagai eksperimen. Seperti video di bawah ini, sebuah roket diluncurkan ke angkasa untuk membuktikan seberapa jauh ia bisa menembus atmosfer angkasa. Setelah beberapa saat berada di ketinggian tertentu, ujungnya tampak terhenti karena menabrak sesuatu. Apakah hal tersebut adalah kubah bumi seperti anggapan para flath earther selama ini? Bisa ya, namun juga tidak.

Sejatinya, keberadaan kubah bumi bisa kita analogikan sebagai lapisan-lapisan udara yang menyelubungi bumi. Merujuk laman ilmugeografi.com, ada lima selubung udara yakni Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, dan Eksosfer. Kelimanya terletak beriringan dan saling melapisi satu dengan lainnya. Setidaknya, ada tiga gejala alam yang disebabkan oleh lapisan tersebut. Yakni terbentuknya pelangi dan aurora, serta fatamorgana yang kerap menampilkan ilusi di permukaan bumi.

BACA JUGA: 5 Eksperimen Nuklir Paling Edan yang Bikin Kamu Geleng-geleng Kepala

Percaya atau tidak, bumi sejatinya memiliki sebuah mekanisme perlindungan alami yang telah ada. Selain untuk menjaga isi di dalamnya, keberadaan selubung udara tersebut juga memiliki beragam fungsi penting untuk menunjang kehidupan umat manusia. Entah disebut sebagai kubah bumi atau dengan istilah ilmiah lainnya, hal demikian merupakan bentuk kebesaran dari Tuhan sang pencipta agar manusia mau berpikir dan merenungi makna dari apa yang telah diciptakan.