Era modern saat ini yang menuntut perubahan besar-besaran dalam berbagai bidang, nyatanya tak membuat luntur tradisi kuno yang tetap dipegang oleh kaum-kaum tertentu di muka bumi. Salah satunya adalah penduduk kota kuno Aksum yang berada di Ethiopia, Afrika Timur. Dilansir dari bbc.com, masyarakat ini menolak adanya pembangunan masjid di tengah-tengah mereka.

Layaknya sebuah kota suci, Aksum merupakan rumah dari Ratu Syeba dan Tabut Perjanjian yang disebut dalam Alkitab kaum Nasrani. Benda itu sendiri kini dijaga dengan ketat oleh biarawan setempat. Penolakan adanya bangunan masjid di kota tersebut, ternyata telah berlangsung sejak lama dan tetap berlaku hingga saat ini.

Kota kuno yang menjadi lokasi benda bersejarah yang memiliki nilai religius

Gereja Our Lady Mary of Zion yang menyimpan replika tabut perjanjian yang disucikan [sumber gambar]
Di Aksum, Gereja-gereja Kristen Ortodoks harus memiliki tabot, yang merupakan replika Tabut untuk diakui sebagai tempat ibadah. Sayangnya, tidak seorang pun diizinkan melihat Tabut itu di Gereja Our Lady Mary of Zion yang dijaga oleh para biarawan lokal. Dilansir dari bbc.com, ada legenda setempat yang dipercayai merupakan bagian dari Aksum, di mana Ratu Syeba melakukan perjalanan dari Aksum ke Yerusalem untuk mengunjungi Raja Salomo (Sulaiman). Hal inilah yang kemudian dipegang turun temurun hingga saat ini.

Peradaban turun temurun yang menolak adanya pembangunan masjid di wilayahnya

Pemeluk Kristen Orthodox di kota Aksum Ethiopia [sumber gambar]
Karena mayoritas diisi oleh umat Kristen Ortodoks, para pembesarnya menolak segala bentuk intervensi bagi umat lain, termasuk mendirikan bangunan ibadahnya di dalamnya. Alhasil, keinginan umat muslim untuk mendirikan masjid pun terhalang oleh larangan tersebut. “Aksum adalah Mekah kami,” kata pendeta senior Godefa Merha, yang percaya bahwa seperti halnya gereja dilarang di tempat paling suci bagi agama Islam itu, masjid tidak bisa dibangun di Aksum. Bahkan menurut Pendeta Kristen Amsale Sibuh, jika aturan tersebut, mereka siap menebus dengan nyawanya.

Sempat menjadi kota yang dikenal akan toleransinya yang tinggi

Penduduk Muslims di Wukiro-Maray, dekat Aksum [sumber gambar]
Tentu saja, pelarangan ini akhirnya menjadi kontroversi di antara kedua belah pihak. Sangat disayangkan memang. Padahal, Aksum yang dahulu masih berbentuk kerajaan, pernah terkenal akan toleransi beragamanya. Termasuk dengan kaum Muslim yang pertama kali tiba di kerajaan itu tak lama setelah kebangkitan Islam pada sekitar 600 Masehi sebagai migran. Saat itu, raja Aksum yang beragama Kristen menyambut mereka dengan tangan terbuka, dan memberikan umat Islam tempat bernaung pertama di luar Semenanjung Arab. Para migran tersebut, merupakan pelarian dari persekusi para penguasa Mekkah yang waktu itu belum menerima Islam.

Kaum muslim menuntut keadilan bagi komunitasnya yang juga bermukim di sana

Dikutip dari bbc.com, kaum Muslim mencakup 10% dari populasi Aksum yang secara keseluruhan mencapai 73.000 warga — 85% dari mereka adalah pengikut Kristen Ortodoks, dan 5% sisanya penganut denominasi Kristen lainnya. Meski demikian, para penduduk minoritas ini tidak berpasrah diri. Lewat Organisasi Dewan Regional Muslim yang diisi oleh ulama-ulama Muslim berpengaruh di wilayah Aksum, mereka berupaya untuk berdiskusi pada pemeluk Kristen Ortodoks yang merupakan warga mayoritas, agar diizinkan untuk membangun masjid.

BACA JUGA: 3 Kasus Intoleransi di NKRI yang Buktikan Negara Ini Masih Rentan Ancaman SARA

Selama turun temurun, masyarakat kota Aksum memegang teguh warisan leluhur mereka agar jangan ada agama lain selain Kristen Ortodoks di wilayah tersebut. Bahkan jika hal ini dilanggar, mereka lebih memilih untuk mati karena merasa tidak bisa menjaga tradisi tersebut. Mirisnya lagi, para pejabat di pemerintahan kota menolak berkomentar. Pihaknya hanya berkata bahwa pengikut dua kepercayaan itu hidup berdampingan dengan damai.