Tak banyak masyarakat di Indonesia yang mengetahui aliran Kristen Ortodoks Syria (KOS), yang dulu sempat membuat heboh publik tanah air. Sebagai salah satu sekte beragama, orang awam yang tidak paham pasti menyangka bahwa mereka beragama muslim. Hal ini wajar karena penampilan dan sebagian dari ritual ibadah yang dilakukan, sekilas mempunyai kemiripan dengan umat Islam.

Jika sejarahnya ditelisik lebih jauh, KOS (Kristen Ortodoks Syria) sudah ada sejak abad 5 Masehi, lebih tua dari agama Islam yang lahir pada abad 6 Masehi seperti yang dikutip dari laman suaraislam.co. Meski terlihat serupa, perbedaan yang mendasar tentu ada pada akidah dan tata caranya dalam menjalankan ritual keagamaan. Seperti apa sekilas kemiripan Kristen Ortodoks Syria dengan umat Islam?

Menggunakan tujuh waktu untuk beribadah

Shalat lima waktu merupakan hal yang utama dan wajib dikerjakan oleh umat Islam. Ibadah pada waktu-waktu seperti Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’ disebut sebagai shalat wajib. Sementara untuk Dhuha dan Tahajud (qiyamul lail), termasuk dalam bab shalat sunnah.

Sama seperti umat Islam, Kisten Ortodoks Syria juga menjalankan ritual keagamaan mereka sesuai perputaran waktu yang ada. Dilansir dari laman suaraislam.co, mereka mengerjakan ibadah seperti Sa’atul awwal (shubuh), Sa’atuts tsalis (dhuha), Sa’atus sadis (Zhuhur), Sa’atut tis’ah (ashar), Sa’atul ghurub (maghrib), Sa’atun naum (Isya’), Sa’atul layl (tengah malam/tahajud).

Perempuannya wajib mengenakan penutup kepala atau kerudung

Dalam Islam, para perempuannya diperintahkan untuk menutup auratnya dengan menggunakan jilbab yang syar’i. Perintah ini diterangkan dalam surah Al-Ahzab: 59 yan berbunyi, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

Para wanita Kristen Ortodoks menggenakan jilbab di kepalanya [sumber gambar]
Untuk aliran Kristen Ortodoks Syria, perintah mengenakan penutup kepala juga berlaku di kalangan mereka. Sebagai contoh, Gereja Ortodoks Timur mengharuskan para perempuan untuk menutup kepala mereka dengan kerudung, seperti layaknya perempuan muslim, saat berada di gereja. Tak hanya itu, para perempuannya juga dilarang mengenakan celana panjang dan harus menggunakan rok panjang saat pergi beribadah.

Sama-sama menjalankan puasa

Jika dalam Islam terdapat puasa wajib seperti di bulan Ramadan dan sunnah di hari-hari tertentu, aliran Kristen Ortodoks juga mewajibkan para pengikutnya untuk berpuasa. Tentu saja, ada beberapa perbedaan tata cara di antara kedua agama meski sama-sama berpuasa.

Para wanita Kristen Ortodoks juga memiliki ritual ibadah puasa [sumber gambar]
Dikutip dari laman suaraislam.co, puasa para pengikut Kristen Ortodoks Syria disebut shaumil kabir (puasa 40 hari berturut-turut) yang dilakukan sekitar bulan April (kalender Julius). Jika dalam Islam ada puasa sunah Senin-Kamis, pada KOS dilakukan pada Rabu-Jum’at, dalam rangka mengenang kesengsaraan Kristus.

BACA JUGA: Kisah Pengusaha Kristen yang Dirikan Masjid Bagi Pekerja Muslim dan Buka Puasa Gratis

Dengan informasi di atas, setidaknya kita bisa mengerti tentang keberadaan umat lain yang ternyata, sedikit banyak memiliki kemiripan dengan agama Islam. Selain memperkaya wawasan, keberadaan Kristen Ortodok Syria (KOS) juga menjadi bukti sejarah, bahwa aliran mereka ternyata sudah ada sejak dahulu kala dan bukan sebagai agama yang baru. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?