https://img.bisnis.com/posts/2019/04/24/914958/esemka221018-1.jpgSiapa yang tak kenal dengan merk sepatu Adidas? Ya, apparel asal Jerman itu begitu laris di pasaran Indonesia. Tak hanya yang asli, sepatu bajakan alias KW pun banyak beredar di tengah-tengah masyarakat. Dengan logo khasnya berupa tiga garis, Adidas begitu populer tak hanya di Indonesia, tapi juga dunia.

Di balik itu semua, ada kerja keras seorang mantan anggota Nazi yang bernama Adi Dassler. Dilansir dari tirto.id, pria kelahiran Herzogenaurach, Jerman pada 3 November 1900 itu, mengawali pembuatan sepatu pertamanya di ruangan mesin cuci milik keluarga. Perjuangan berliku Adi yang sukses membawa Adidas sebagai merek sepatu ternama, sangat menarik untuk disimak.

Berawal dari ruang cuci keluarga

Bukan dari perusahaan yang besar dan mapan, Adi Dassler mengawali pembuatan sepatunya dari rumah keluarganya. Dilansir dari tirto.id, pemuda yang berasal dari kalangan sederhana itu membuat sepatu di ruang cuci yang bersama saudara-saudaranya yang lain seperti Fritz dan Rudolf (Rudi) Dassler. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama lantaran kedua kakaknya harus berangkat ke medan pertempuran saat pecah Perang Dunia I.

Berawal dari ruang cuci keluarga [sumber gambar]
Adi cukup beruntung karena tak ikut berperang seperti kedua kakaknya. Dalam Sports Around the World: History, Culture, and Practice (2012) oleh Jhon Nauright dkk, Adi yang paling muda tinggal di rumah untuk membantu bisnis penatu keluarganya. Baru saat tahun-tahun Perang Dunia I berakhir, ia bergabung dengan ketentaraan pada usia 17 tahun dan bertemu dengan kedua kakaknya di front Belgia. Perang usai dan Jerman dinyatakan kalah. Mereka bertiga pun kembali ke rumah, melanjutkan pembuatan sepatu.

Nekat mendirikan usaha sepatu kecil-kecilan di usia muda

Jerman yang kehilangan muka setelah kalah dalam kancah Perang Dunia I, membuat masyarakatnya menjadi sasaran cemoohan. Dalam situasi yang serba sulit itulah, Adi memupuk semangatnya dengan cara membuat sepatu. Karena begitu mencintai dunia olahraga, ia kemudian terdorong untuk mendirikan perusahaan sepatu kecil-kecilan saat usianya menginjak 20 tahun.

Sepatu ciptaannya yang lekat denga olahraga sepakbola [sumber gambar]
Menurut Barbara Smit dalam Pitch Invasion: Adidas, Puma and the Making of Modern Sport (2007) yang dikutip dari tirto.id, di sering diajari ayahnya cara menghindari cacat produksi dalam membuat sepatu dan saudara perempuannya, Marie, membantunya menjahit. Pada saat inilah, Rudi yang meninggalkan kursus kepolisian akhirnya memilih untuk ikut bergabung dengan perusahaan milik Adi.

Sempat bekerjasama dengan sang kakak sebelum akhirnya berpisah

Usaha yang diberi nama Gebruder Dassler Schuhfabrik alias Dassler Brothers Shoe Factory itu, resmi berdiri pada 2 Juli 1924. Hebatnya, kedua bersaudara itu melakukan terobosan dengan cara memberikan sepatu gratis untuk para atlet. Tak heran jika sejak 1928, merek sepatu olahraga buatan mereka hilir mudik di gelanggang Olimpiade. Salah satu penggunanya adalah pelari Jesse Owen, yang kelak sukses mempecundangi atlet Nazi Jerman dan menggondol emas.

Berpisah kongsi dengan sang kakak yang mendirikan merk PUMA [sumber gambar]
Ketika Nazi berkuasa di Jerman, mau tidak mau harus bekerjasama dengan pemerintahan yang ada. Pengaruh partai Adolf Hilter yang dominan pada saat itu, membuat ketiga Dassler bersaudara terdaftar sebagai anggota Partai NAZI sejak 1 Mei 1933. Adi pun sempat ikut wajib militer selama setahun pada 7 Agustus 1940. Setelah Jerman kalah perang, Adi kembali menekuni bisnis sepatu bot, yang sebelumnya digunakan untuk memproduksi barang yang serupa bagi pasukan Nazi. Saudaranya, Rudi yang sempat tertangkap pasukan Sekutu, malah berseteru dengan dirinya dan memutuskan keluar dari kerjasama bisnis.

Merk sepatu terkemuka yang laris di dunia dan Indonesia

Dikutip dari tirto.id, belakangan diketahui bahwa Rudi ternyata menjalankan bisnis sepatu sendiri dengan merek Puma. Sedangkan Adi sendiri, menelurkan merek Adidas yang merupakan gabungan nama panggilannya dan potongan nama keluarganya (“Dassler” menjadi “Das”). Hingga belasan tahun kemudian, mereknya dikenal sebagai penyedia apparel olahraga, khususnya sepakbola. Produk-produknya pun saat ini bahkan dilengkapi dengan teknologi yang mutakhir.

Sepatu buatannya yang mendunia hingga ke Indonesia [sumber gambar]
Di Indonesia sendiri, Adidas juga dikenal memiliki pengguna setia. Bahkan, brand yang lekat dengan sepakbola ini juga iktu mensponsori Striker Timnas Indonesia U-16 , Sutan Zico dengan sepasang sepatu Adidas X15 hingga X17. Tak hanya itu, penjualan dari perusahaan apparel asal Jerman ini juga lumayan di pasar Indonesia. Berdasaran data Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) yang dikutip dari laman ekonomi.bisnis.com, Adidas mencatatkan pangsa pasar sebesar 5,4 persen pada tahun 2017 dalam kategori sepatu kasual dan 23 persen untuk lini olahraga.

BACA JUGA: 10 Perusahaan Terkenal yang Bekerja Sama dengan Nazi

Nama Adi Dassler akan terus dikenang sebagai salah satu maestro di bidang sepatu yang mendunia. Berkat merek Adidas yang merupakan buah karyanya, perusahaan Adi mampu memberikan jutaan lapangan pekerjaan di seluruh dunia. Termasuk Indonesia. Meski latar belakangnya sempat menjadi anggota Nazi Jerman, hal tersebut tak menyurutkan para penggunanya. Terbukti, Adidas menjadi merek yang citranya lekat dengan olahraga populer seperti Sepakbola.