Kosongnya kursi pelatih kesebelasan Bali United di akhir musim Liga 1, kini mulai memunculkan spekulasi mengenai siapa yang akan mengisi tempat itu. Mulai juru taktik lokal sampai asing, namanya santer dihubungkan untuk bisa menahkodai tim berjuluk Serdadu Tridatu tersebut. Dari sekian nama yang diberitakan terselip sosok legendaris jagad sepak bola dunia yang juga mantan pemain Real Madrid Roberto Carlos.

Menurut CEO Bali United Yabes Tanuri yang dikutip dari CNNIndonesia, pemain Brazil ini ditawarkan oleh seorang agen kepada tim bermarkas di Pula Dewata tersebut. Carlos sendiri sudah mulai menangani sebuah tim secara penuh pada tahun 2013-an. Ketika itu kariernya diawali dengan mengarsiteki salah satu kesebelesan di Liga Turky lalu berlanjut ke beberapa negara lain. Dan berikut kiprah pemilik tendangan pisang selama terjun ke dunia pelatihan.

Diawali dari klub Rusia Anzhi Makhachkala

Seperti halnya banyak pemain dunia yang memulai karier kepelataihan sebagai asisten, Carlos juga memulai dunia barunya tersebut berposisi di tempat tersebut. Bersama klub terakhirnya di lapangan hijau yakni Anzhi Makhachkala, ia dapuk mendampingi Guus Hiddink yang kala itu menjadi pelatih utama.

Carlos Tangani Anzi [Sumber Gambar]
Namun, sebelumnya ia sempat dipilih menjadi caretaker saat pelatih klubnya itu yakni Gadzhi Gadzhiyev dipecat. Duet Hiddink dan Carlos sukses membuat tim identik warna kuning itu, menembus peringkat ketika pada muism 2013/2014. Dan pria Brazil itu sempat melatih pemain beken sekelas Samuel Eto’o.

Sivasspor klub pertama Roberto Carlos dunia pelatih

Memilih Turki sebagai awal karier menjadi pelatih utama, Carlos bisa dibilang mencatatkan start yang bagus saat menjadi juru taktik sebuah kesebelesan. Tim besutannya yakni Sivasspor sukses dibantunya menembus peringkat lima Turkey Super League 2013. Tapi sayang, kegemilangan di tahun tersebut tidak berlanjut di musim keduanya ia menangani klub berjuluk Yigidos ini.

Roberto carlos di Sivasspoor [Sumber Gambar]
Dilansir Boombatis.com dari laman PanditFootball, Sivaspor merasakan banyak hasil minor yang membuat posisi mereka di tabel klasemen berada di urutan ke 17 atau nomor dua terbawah. Beberapa kekalahan besar juga menjadi penghias musim kelam Carlos di tim ini. Setelah mengundurkan diri dari  Sivasspoor, ia melatih klub Turky lain yakni Akhisar Belediyespor tapi juga tidak torehan hasil memuaskan.

Carlos juga menghiasi kompetisi negara Asia Selatan

Usai menjajal kompetisi sepak bola Eropa, karier kepelatihan pria berkepala plontos ini dilanjutkan dengan menangani sebuah tim di Asia. Bergabung dengan Dehli Dynamos tahun 2015, ia memperpanjang daftar bintang sepak bola dunia yang menghiasi kompetisi India Super League di musim tersebut. Seperti contohnya Nicolas Anelka, Alexsandro Del Piero dan Marco Materazzi.

Aksi Carlos di Dehli Dynamos [Sumber Gambar]
Selama berkiprah di India, prestasinya adalah membawa kesebelasan menduduki peringkat ke empat kompetisi teratas negara tersebut. Dengan menorehkan enam kali kemenangan, empat kali hasil imbang dan empat kekalahan. Meski tidak mampu menjadi juara, tapi sebagai debutan prestasinya tersebut bisa dikatakan bagus.

Digosipkan melanjutkan karier di Australia dan ingin melatih Brazil

Sebelum ramai dikabarkan ingin menangani Bali United seperti sekarang, jauh sebelumnya ia sempat digosipkan melanjutkan kiprahnya ke kompetisi Australia. Melansir laman CNNIndonesia, pria berkepala empat tersebut didekati oleh South Melbourne untuk menukangi tim tersebut jika naik ke A-League pada musim 2018/19.

Juru Taktik [Sumber Gambar]
Perihal hal itu, ia sempat berujar kalau jadi berlabuh ke kompetisi negeri Kangguru, Carlos bercita-cita membawa klub kasta kedua itu menjadi kesebelasan kompetitif di A-League. Selain hal ini mantan pemain Real Madrid juga menyimpan cita-cita ingin menjadi juru taktik Timnas negaranya Brazil.

BACA JUGA: 5 Hal Ini Jadi Alasan Banyak Pemain Ngebet Berlaga di Bali United

Apa yang terjadi dalam perjalanan karier kepelatihan Roberto Carlos yang minim prestasi tadi, bisa disimpulkan bukan perkara mudah pemain menjadi seorang nahkoda tim. Selain dibutuhkan latihan ekstra keras, mereka juga dituntut untuk bisa mengembangkan sebuah tim dan isinya secara baik. Kira-kira bagaimana nih sobat Boombastis, apa ia cocok mengarsiteki Bali United?