Ada-ada saja tingkah para elit politik di Indonesia baru-baru ini. Tak jarang, ucapan yang terlontar dari mulut mereka kerap digunakan sebagai ajang perdebatan oleh masyarakat. Terlebih untuk saling serang maupun mendukung tokoh idolanya. Mungkin, hal ini menunjukkan bahwa aktivitas demokrasi di Indonesia berjalan dengan baik. Tapi juga di sisi lain, membuat rakyat semakin riuh dalam kegaduhan masing-masing.

Saling dukung maupun ‘menyerang’ satu sama lain, merupakan hal yang wajar dalam ruang lingkup politik. Setelah “tampang Boyolali” menjadi kontroversi beberapa waktu lalu, kini mencuat kembali istilah “Politik Genderuwo”. Entah apa maksudnya. Tak hanya itu, serangkaian istilah nyeleneh dari para elite politik di bawah ini, juga sukses membuat masyarakat larut dalam komentarnya yang membuat Indonesia semakin ‘ramai’.

Politik Sontoloyo ala Presiden Joko Widodo

Kata-kata “Sontoloyo” mendadak menjadi perbincangan setelah terucap langsung dari mulut Presiden RI ke-7, Joko Widodo. Dilansir dari republika.co.id, hal ini terjadi saat dirinya membagikan sertifikat hak atas tanah di lapangan bola Ahmad Yani, Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan. Menurut Jokowi, tak sedikit politikus yang masih menyerang dengan cara-cara yang tak sehat, terlebih menjelang Pilpres 2019 untuk menarik simpati masyarakat. “Itulah kepandaian para politikus, mempengaruhi masyarakat, hati-hati saya titip ini, hati-hati. Hati-hati banyak politikus yang baik-baik tapi juga banyak politikus yang sontoloyo,” kata Jokowi.

Make Indonesia Great Again Prabowo Subianto yang serupa dengan Donald Trump

Kemenangan Donald Trump pada pilpres AS yang mengusung slogan n ‘Make America Great Again‘, rupa-rupanya ikut menginspirasi sosok Capres RI Prabowo Subianto. Cuma bedanya, kata ‘America” digantikan dengan ‘Indonesia’. Sumber dari news.detik.com menuliskan, hal itu diutarakan oleh mantan Danjen Kopassus tersebut saat berbicara di Rakernas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). “Kok bangsa ini tidak berani mengatakan, bagi bangsa Indonesia, ‘Indonesia First, Make Indonesia Great Again’. Mengapa pemimpin Indonesia tak ada yang berani mengatakan yang penting adalah ‘pekerjaan bagi rakyat Indonesia’,” ujarnya.

Politikus Genderuwo yang bergentayangan

Ungkapan terbaru dan menuai kontroversi di masyarakat adalah pernyataan Presiden Joko Widodo tentang adanya sosok “Politikus Genderuwo“. Dilansir dari regional.kompas.com, hal ini merupakan bentuk dari keinginan sang Kepala Negara agar para politikus itu berhenti mengembangkan cara berpolitik yang menakut-nakuti rakyat. Ia juga mengatakan, bahwa masyarakat kini sudah matang dan melek terhadap politik. Meski hanya sindiran, toh Jokowi enggan membeberkan siapa sosok yang menurutnya “Politikus Genderuwo” tersebut. “Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti,” ujar Presiden.

Perumpaan ‘Buta dan Budek’ buatan KH Ma’ruf Amin

Cawapres Ma’ruf Amin juga tak ketinggalan melontarkan ‘sindiran’ miliknya sendiri. Sumber dari news.detik.com menuliskan, sosok politikus yang juga tokoh agama itu mengatakan hanya orang ‘buta’ dan ‘budek’ yang tidak bisa melihat prestasi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK). Alhasil, ungkapan tersebut menuai kontroversi. Baik di kalangan elite politik sendiri maupun oleh masyarakat awam dengan beragam penafsirannya.

“Tampang Boyolali” yang menjadi kontroversi

Dari keempat istilah unik di atas, “Tampang Boyolali” merupakan ucapan yang akhirnya menjadi perdebatan netizen di seluruh tanah air. Dilansir dari news.detik.com, perkataan Prabowo ini terlontar saat meresmikan Posko Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Sempat viral dan menjadi kontroversi di tengah-tengah masyarakat, terutama warga Boyolali sendiri, Capres kelahiran 17 Oktober 1951 itu akhirnya meminta maaf yang disertai penjelasan panjang.

Pada konstelasi politik di Indonesia, selalu ada hal-hal baru yang sewaktu-waktu bisa menjadi sebuah bahan ‘kontroversi’ yang akhirnya ‘digoreng’ ramai-ramai oleh masyarakat. Tak jarang, peristiwa ini bisa menyebabkan kegaduhan. Terutama mereka yang bukan dari kalangan politisi. Asal jangan sampai ada bibit-bibit permusuhan dan kebencian ya Sahabat Boombastis.