Seperti halnya duri dalam daging, kisah-kisah pengaturan skor menjadi sesuatu yang tidak pernah mengenakan. Selain melenyapkan nilai sportivitas dalam olahraga, hal tersebut juga bisa menghancurkan sepak bola. Berkaca dari kondisi tersebut memang sudah semestinya mereka segera diringkus sampai akar-akarnya.

Namun apakah itu bisa? Kemungkinan besar akan jadi kemustahilan kalau kita berbicaranya di Indonesia. Hal ini tentu bukan tanpa sebab, ada banyak alasan mengapa menghilangkan bandit-bandit itu adalah pekerjaan yang susah. Apalagi kalau kalian melihat acara Mata Najwa pada Rabu (28/11) kemarin, terlihat bagaimana sepertinya hal ini sudah akut menyusupi beberapa elemen di jagad sepak bola nasional.

PSSI tutup mata atas oknum Match Fixing

PSSI Kongress [Sumber Gambar]
Pastinya bukan sebuah hal yang berlebihan kalau memperumpamakan PSSI dengan istilah tersebut. Pasalnya, seperti yang kita ketahui bersama, mereka terlihat tidak pernah menggunakan inderanya untuk serius mengusut permasalahan ini. Loh pelakunya kan selalu dijatuhi sanksi? Iya betul, namun apa kalian pernah melihat pihak federasi menelusuri kasus ini dan menangkap dedengkot Mafia Bola, tentu tidak. Bahkan malah oknum di induk organisasi tertinggi itu dicurigai ikut melakukan tindakan laknat tersebut. Kalau sudah begini segera kemasi angan-angan kalian melihat sepak bola bebas dari pengaturan skor.

Keuangan klub yang tidak pernah stabil

Klub Liga 2 Bertanding [Sumber Gambar]
Hal lain yang membuat, pengaturan skor mustahil untuk diringkus adalah permasalahan keuangan klub. Sudah menjadi rahasia umum, jika banyak tim-tim di tanah air kesulitan dalam masalah financial. Kurang penataan kesebelasan secara profesional dan bergerak jadi industri menjadi penyebabnya. Kalau sudah begini tentu dari pada merasakan tunggakan gaji, pemain atau manajemen dimungkinkan sangat memilih gemerlapnya gepokan uang. Ironi memang, namun begitulah adanya, pasalnya dapur mereka hanya akan tetap bisa ngebul lantaran pemasukan uang daru profesinya tersebut.

Masih banyak pesepakbola hatinya tertutup

Pemain hati nurani [Sumber Gambar]
Faktor-faktor non teknis seperti permasalahan financial memang sulit untuk dikalahkan. Apalagi kalau kita berbicara ranah olahraga yang diketahui banyak atlet hanya menggantungkan diri pada bidang ini. Jadi sebuah hal wajar kalau gebokan uang kerap menyilaukan mereka atau malah menutup nurani pesepakbola. Kondisi penuh dilema inilah yang menjadikan rantai pengaturan skor terus saja terikat kuat di sepak bola nasional. Walaupun sulit, namun tidak menutup kemungkinan kalau seseorang pemain dengan berani menolak untuk terlibat dalam hal laknat ini. Jika semua mau untuk itu bukan hal sulit untuk memberantas mereka.

Minim keterlibatan aparat dalam mengatasi hal ini

Polisi [Sumber Gambar]
Selain beberapa hal tadi, minimnya keterlibatan aparat penegak hukum yang mempunyai integritas untuk membasmi mereka juga menjadi penyebab match fixing sulit untuk dibasmi. Padahal apabila kita mengambil contoh kompetisi di Singapura sana, berkat kerjasama antara federasi dengan pihak berwajib angka kasus pengaturan skor bisa ditekan. Selain itu juga beberapa Bandar kelas kakap juga berhasil digiring untuk masuk jeruji besi. Bahkan lewat Biro Investigasi dan Praktik Korupsi (CPIB) mereka buat ada satu Bandar bola asal Indonesia berhasil ditangkap.

BACA JUGA: Permainan Keras sampai Pengaturan Skor, Inilah 4 Bukti Jika Liga 2 Kompetisi Paling ‘Buruk’

Begitulah sobat Boombastis kenapa menendang mafia bola di Indonesia merupakan pekerjaan yang sulit. Selain itu tidak ada hubungan singkron antara semua elemen di sepak bola Indonesia membuat menyelesaikan permasalahan ini adalah sebuah kemustahilan. Tapi, kita harus tetap yakin kalau ke depan pengaturan skor bisa-bisa diringkus.