Selain memiliki atmosfer yang luar biasa, sepak bola Indonesia juga kerap suguhkan pertandingan bar-bar. Seperti apa yang terjadi pada kompetisi kasta terbawah atau sering disebut Liga3. Di pagelaran profesional PSSI tersebut sering sekali pemain-pemain sepak bola bertindak tarkam. Penganiayaan dan pemukulan yang biasanya di haramkan di sepak bola, di sana menjadi suatu yang lumrah.

Insedin wasit tergeletak terkena bokem di pertandingan antara Persitama Temagung VS PSIP Pemalang menjadi buktinya. Saat itu merasa tidak terima dengan tindakan wasit salah satu oknum tim tuan rumah dengan tega lakukan tindakan kriminal tersebut. Kejadian arogan di kompetisi kasta ketiga, tentu tidak berhenti itu saja. Tidak Percaya? Yuk simak ulasan berikut ini sobat olahragaku.

Alami benturan keras pemain Persidafon berlumuran darah

Sebagai olahraga yang melibatkan kontak fisik, sepak bola memang tidak menghindarkan pemain dari benturan. Meski terlihat lazim dan lumrah, namun tersebut tetap ada aturannya. Pasalnya apabila tidak akan berujung seperti pemain Persidafon yang harus alami pendarahan. Dilansir laman Bolalop, di tengah pertandingan keras Persidafon Vs Persimer Merauke, Petrus Kubia harus terkapar dengan lumuran darah.  Hantaman keras dengan pemain laman disebut-sebut menjadi penyebab kejadian tersebut. Hal ini menjadi contoh betapa kerasnya kompetisi kasta ketiga ini.

Wasit lari terbirit-birit hindari penganiayaan

Meski tawaran banyak keuntungan, profesi wasit pastinya bukan pekerja mudah. Hal inilah yang dialami seorang wasit saat memimpin laga Persitama Temagung VS PSIP. Kala itu tidak menerima keputusan sang pengadil lapangan sejumlah oknum secara arogan mengajar mereka. Bahkan dari penelusuran penulis satu hakim garis harus terkapar terkena bokem. Bahkan salah satu wasit harus lari terbirit-birit untuk hindari amukan. Layaknya kasus pemain Persidafon tadi, wasit di Liga ini juga kerap jadi bahan empuk arogansi pemain atau official. Bukan bermaksut menyalahkan tapi tidak tersebut adalah suatu yang memalukan.

Adu jotos menjadi pemandangan kompetisi liga 3

Selain kedua hal tersebut, kompetisi Liga3 juga pertontonkan pertunjukan adu jotos antar pemain. Meski sebenarnya olahraga adu skill, namun tak jarang gerakan ala MMA juga dipraktekkan. Salah satu kejdianya adalah di pertandingan mempertemukan antara kesebelasan Blitar United melawan Persimura. Kala itu di sore yang panas dan teriknya sangat menyengat, kedua pemain kesebelasan terlibat adu jotos. Diterima dilanggar dengan keras disebut menjadi biang kerok dari insiden tersebut. Lantaran hal tersebut laga sempat berhenti beberapa menit, sebelum akhirnya dimulai dan dimenangkan oleh Blitar United.

Penonton serbu lapangan di tengah jalanya pertandingan

Tindakan kekerasan di sepak bola kompetisi Liga3 tidak hanya melibatkan orang yang berada di dalam lapangan saja. Para suporter yang notabene penonton juga acap kali ikut untuk lakukan tindakan arogansi. Seperti melempar botol atau bahkan masuk ke lapangan. Kondisi tersebut terjadi saat derby Jatim mempertemukan antara Persema dengan Arema Indonesia. Ketika itu, di tengah pertandingan keras, penonton yang tidak terima dengan keputusan wasit masuk di lapangan. Dilansir laman BolaSport, tindakan tersebut dilakukan lantaran mereka ingin melampiaskan kekesalan kepada wasit Wasir Rahman Efendi.

Apa yang terjadi di kompetisi Liga3 adalah gambaran bagaimana sepak bola Indonesia sekarang. Apabila hal ini terus dibiarkan jelas akan memengaruhi kebisaan pemain di dalam dan luar lapangan. Sepak bola adalah kegembiraan, bila menghadirkan perpecahan seperti ulasan di atas akan sangat sulit untuk olahraga ini berkembang di tanah air. Meski kerap terjadi tindakan kurang sportif, namun melalui kompetisi inilah banyak pemain daerah mendapatkan jam terbang.