Totalitas akting dari Joaquin Phoenix yang berperan sebagai badut dalam film Joker (2019) memang sungguh fenomenal. Dilansir The Hollywood Reporter, pada hari pertama rilis, Joker telah mengumpulkan pendapatan sebesar 5,4 juta dolar Amerika Serikat (AS) dan di Indonesia mencapai $846 ribu.

Bahkan untuk membentuk karakter dan tawa khas sebagai Joker, Joaquin harus rela mempelajari korban pengidap Pathological Laughter and Crying (PLC), yakni sebuah penyakit gangguan emosi yang tak terkontrol. Alhasil, pengidapnya kerap tawa dan menangis tanpa sebab, yang terjadi secara tiba-tiba dan tak terkendali. Penasaran? Simak ulasan di bawah ini.

Gangguan saraf yang membuat pengidapnya tertawa dan menangis secara bersamaan

Salah satu adegan tawa yang ada dalam film Joker [sumber gambar]
Arina Bingelien, dkk. dalam artikel berjudul “Pathological Laughing and Crying Post-stroke: Liaison Psychiatrist Beware”, menguraikan bahwa PLC adalah kondisi klinis yang menyebabkan penderitanya mengalami bermacam gangguan neurologis atau saraf. Salah satu tanda-tandanya ditunjukkan pada lewat tawa atau tangisan yang bisa terjadi secara tiba-tiba dan tak terkendali.

Rawan diderita oleh mereka yang pernah mengalami sakit atau cedera pada otak

Ilustrasi gambaran cedera pada otak [sumber gambar]
Pathological Laughter and Crying (PLC) atau disebut juga sebagai Pseudolbar Affect (PBA), biasanya akan diidap oleh mereka yang memiliki riwayat gangguan saraf pada otak. Dilansir dari Healthline, pengidap penyakit seperti stroke, Alzheimer, Parkinson, Amyotrophic lateral sclerosis (ALS), Multiple sclerosis (MS), tumor otak dan cidera otak otomatis, biasanya rentan mengalami PLC.

Penyakit yang membuat penderitanya kerap mengisolasi diri dan merasa cemas

Ilustrasi mengisolasi diri [sumber gambar]
Buntut dari penyakit tersebut, efek yang ditimbulkan tentu sangat merugikan pengidapnya. Karena PLC atau PBA memengaruhi area otak yang mengontrol ekspresi dari emosi seperti korteks prefontal, para penderitanya akan mengalami emosi secara normal, namun terkadang akan mengekspresikannya dengan cara yang berlebihan. Hal ini pun terjadi tanpa sebab dan pada waktu yang tidak seharusnya terjadi pada saat itu.

Disfungsi pada otak yang bisa dicegah dengan beberapa cara

Ilustrasi meditasi [sumber gambar]
Karena berhubungan dengan saraf pada otak, PLC sejatinya bisa diobati dengan beberapa cara, yakni pengobatan kimia dan penyembuhan mandiri. Cara paling mudah adalah lewat terapi yang bisa dilakukan sendiri, seperti bernapas dalam-dalam, meditasi, yoga, dan menggunaan musik sebagai terapi. Meski tak menyembukan dalam sekejap, teknik relaksasi ini bisa mengurangi tingkat stress dan rasa cemas yang biasa diidap penderita PLC.

Semuanya tertuang secara apik dalam film Joker

Meski tampak jenaka, sosok Joker yang diperankan oleh aktor Joaquin Phoenix itu seolah menyiratkan dua hal berbeda yang berjalan satu sama lain, yakni antara tawa dan tangis. Lewat ekspresi wajah yang berubah-ubah, penonton seakan dibawa untuk menyelami pikiran demi pikiran yang dibawa oleh Joker dalam balutan emosional. Jika dibandingkan dengan pemeran sebelumnya, Joker versi Joaquin Phoenix bisa dibilang akan menyuguhkan gambaran ‘sakit mental’ yang terus menerus dibawa sepanjang film diputar.

BACA JUGA: Fakta Tentang Jumlah Penderita Penyakit Jiwa di Dunia yang Bakal Membuatmu Tercengang

Karena ada muatan seperti penyakit PLC di atas, tentu film seperti Joker tak layak dikonsumsi oleh anak-anak. Tak hanya sekedar melihat akting Joaquin Phoenix sebagai Joker, di film ini juga kita bisa melihat fenomena dari mereka yang menderita penyakit saraf seperti PLC atau PBA, yang memang benar-benar ada dan terjadi di dunia nyata.