Sejak awal kelahirannya, Arema telah menjelma menjadi sebuah klub asal Jawa Timur yang kiprahnya diperhitungkan di kancah nasional. Dengan ciri khas permainan menyerang yang ngeyel, keras dan adu cepat di lapangan, membuat tim berjuluk Singo Edan ini menjadi gudangnya pemain-pemain hebat yang memilik skill luar biasa. Salah satunya adalah Rodriguez Pacho Rubio.

Dilansir dari laman wearemania.net, pemain berkebangsaan Chili itu didatangkan oleh manajemen Arema untuk mengisi posisi sebagai penyerang. Hebatnya, Pacho tak memerlukan waktu lama untuk beradaptasi dengan tim barunya tersebut. Berlarian dengan mengenakan seragam biru yang menjadi warna khas Arema, berikut sepak terjang sang legenda selama berkompetisi di Indonesia.

Tipikal penyerang yang ngeyel dengan permainan keras

Semenjak pertama menjejakan kakinya di Malang, pemain bernomor punggu 22 itu berhasil merebut perhatian Aremania yang merupakan suporter kebanggaan tim Singo Edan. Dilansir dari wearemania.net, tidak butuh waktu lama baginya untuk menyatu dalam permainan khas Arema.

Tipikal striker yang cerdik, skillful, pemilik tendangan keras terarah, dingin di kotak penalti, tetapi meledak-ledak saat lawan mengasari dan wasit tidak mengambil keputusan apa-apa, merupakan ciri khas yang kerap ia sajikan di lapangan. Alhasil, dirinya tak hanya menjadi andalan tim, tapi juga idola bagi Aremania dan Aremanita yang setiap pertandingan kerap memenuhi stadion.

Membawa Arema tembus 8 besar kompetisi

Kiprahnya dalam Arema tercatat saat tim Singo Edan melau hingga ke babak 8 besar. Bersama Rodrigo Araya dan saudaranya, Juan Rubio, ia berhasil membawa klub mengalahkan Persija Jakarta (2-1), seri melawan Persikota (1-1). Jika ditotal, ia mampu mencetak 10 gol sejak putaran II Liga Indonesia 2000 (termasuk 3 gol yang dicetak Pacho Rubio dalam 2 pertandingan di babak 8 Besar di Senayan).

Bawa Arema tembus ke babak 8 besar [sumber gambar]
Sayang, permainan keras yang kerap ia sajikan di lapangan ternyata berbuntut konsekuensi yang panjang. Seperti yang dikutip dari laman wearemania.net, kiprah gemilangnya harus terhenti oleh skorsing seumur hidup PSSI. Alhasil, hal tersebut membuat Pacho harus puas membela Arema hanya dengan waktu singkat. Terlebih, perjuangan tim Singo Edan juga harus terhenti di babak 8 besar karena menelan kekalahan dari Pelita Jaya, Solo.

Dijuluki “Bad Boy” karena tingkahnya di lapangan yang menjadi sorotan

Beragam kasus pun kerap silih berganti menghantam Pacho hingga julukan sebagai “Bad Boy” disematkan pada dirinya. Berkulit putih dengan warna rambut yang pirang terang, sosoknya memang mencolok saat tampil di lapangan. Pun demikian saat beradu dengan pemain lawan, ia kerap memancing emosi lawan dengan kata-kata kasar.

Aksinya yang bengal di lapangan membuatnya dijuluki sebagai Bad Boy [sumber gambar]
Pelanggaran terberatnya adalah saat melakukan pemukulan terhadap penyerang Persikota, Simamo A Basille, saat timnya tengah mempersiapkan diri hendak melawan Persija. Kala itu, Pacho yang tidak memperkuat Arema karena cedera saat dikalahkan Pelita Jaya dengan skor 3-0, merasa dendam dengan striker Persikota tersebut. Dikutip dari wearemania.net, Pacho kesal lantaran Ia meyakini Basille sengaja mengganjalnya ketika Arema lawan Persikota hingga dirinya menderita cedera.

Dilarang tampil oleh PSSI karena dianggap mencontohkan citra buruk

Dengan serentetan peristiwa yang ada, PSSI yang kala itu diketuai oleh Agum Gumelar dan Andi Darusalam Tabusalla sebagai Komisi Disiplin, ikut angkat suara dengan memberikan tindakan tegas. Mereka menilai, Pacho tidak layak tampil di kompetisi Indonesia lantaran tindakannya selama di lapangan dinilai tidak terpuji.

Diskorsing PSSI karena dianggap memberikan contoh buruk di lapangan [sumber gambar]
Stigma dirinya sebagai “Bad Boy” akhirnya menemui akhir perjalanannya. Pacho yang hanya bermain seumur jagung untuk Arema, harus menerima keputusan berupa skorsing seumur hidup dari PSSI. Hal ini pun menjadi akhir karirnya di tim Singo Edan sekaligus perpisahan bagi Aremania dan Aremanita yang bakal merindukan permainannya di lapangan.

BACA JUGA: Ramang, Pemain Bola Legendaris yang Membuat Indonesia Ditakuti Dunia

Meski kini tak lagi bermain bagi Arema, keberadaan Pacho telah mewarnai perjalanan panjang klub berjuluk Singo Edan itu hingga menjadi tim besar yang disegani. Terlepas dari aksi-aksi bengalnya yang kontroversial, striker asal Chile itu sukses menempatkan dirinya menjadi ikon sekaligus figur penyerang yang paling diingat dalam sejarah Arema.