Dari sekian banyak hukuman yang dijatuhkan komisi disiplin (Komdis) PSSI kepada insan bola Indonesia, sanksi seumur hidup tidak boleh berkecimpung di olahraga ini bisa dibilang adalah teberat. Bahkan bila dilihat-lihat lagi, hal tersebut layaknya hukuman mati yang mematikan seseorang dari meriahnya hingar-bingar sepak bola. Selain itu, hukuman ini pada umumnya sangat ampuh membunuh karier seorang pesepakbola.

Cerita tentang insan bola terkena hukuman seumur hidup di jagad sepak bola nasional tidaklah terjadi satu atau dua kali saja. Tercatat ada beberapa orang yang harus merasakan getir dari sanksi model ini, mulai pengurus klub, pemain, pelatih, sampai pemain kedua belas atau suporter juga sempat mengukir cerita tentang hukuman ini. Siapakah sajakah insan bola ‘dihukum mati’ oleh Komdis PSSI? Simak ulasannya berikut ini.

Manajer Persekam Metro Fc Bambang Suryo

Bambang Suryo Metro Fc [Sumber Gambar]
Nasib apes agaknya harus rela diterima oleh Bambang Suryo atau BS di penghujung tahun 2018 ini. Insan bola yang kini menjabat sebagai manajer Persekam Metro Fc tersebut dikabarkan telah dijatuhi saksi berat oleh Komdis PSSI. Dilansir Boombastis dari Kumparan, pria berbadan tambun ini dihukum tidak boleh berkecimpung di pecaturan sepak bola nasional selama seumur hidup. Skorsing berat ini sendiri bisa terjadi lantaran Bambang terindikasi terlibat praktek pengaturan skor ketika timnya bertanding melawan PS Ngada di babak 32 besar Liga 3.

Pentolan suporter Aremania Yuli Sumpil

Yuli Sumpil [Sumber Gambar]
Masih terkait hukuman berat insan sepak bola tanah air. Pentolan suporter Arema FC yakni Yuli Sumpil beberapa bulan lalu, juga harus rela menerima skorsing larangan seumur hidup masuk ke stadion seluruh Indonesia. Tindakan provokatif-nya terhadap pemain Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan Malang melatarbelakngi hukuman luar biasa ini diberikan. Ketika itu pria acap kali berkacamata hitam ini masuk lapangan lalu melakukan tindakan menyawer pemain Bajul Ijo yakni Alfonsius Kelvan.

Mantan pelatih PSS Sleman sempat merasakan hukuman ini

Herry Kiswanto [Sumber Gambar]
Kisah lain yang terkait hukuman seumur hidup juga menimpa mantan pelatih PSS Sleman yakni Harry Kiswanto. Skorsing berat tersebut diberikan oleh Komdis PSSI lantaran mantan pemain Timnas ini, terindikasi ikut dalam praktek sepak bola gajah, di pertandingan babak delapan besar Divisi Utama antara PSS Sleman melawan PSIS Semarang. Saat itu timnya yang dinahkodainya melakukan kecurangan dengan tidak mau menjadi pemenang. Bahkan untuk memuluskan tujuan tersebut beberapa pemain kedua tim rela menjobol gawangnya sendiri dan bermain tidak sungguh-sungguh. Tapi saat hukuman Harry Kiswanto sudah diputihkan (baca:cabut).

Aldo Claudio pemain Persiwa Wawena

Aldo Cladio berlaga [Sumber Gambar]
Selain beberapa sosok tadi, aktor lapangan atau pemain juga ada yang merasakan skorsing berat ini. Seperti salah satu contohnya adalah Aldo Claudio, yang dihukum seumur hidup tidak boleh berkecimpung di jagad sepak bola nasional. Tindakan kelewat batas dengan memukul wasit di laga Persiwa Vs Persigres Gresik United menjadi penyebab, ia kini harus merasakan sanksi berat tersebut. Jauh sebelum nama Aldo, kekerasan terhadap pengadil lapangan juga sempat membuat pemain-pemain macam Stanley Mamuaya, Pieter Rumaropen, dan Budi Eka Putra ‘dihukum mati’ dari olahraga ini.

Matan Kiper PSIS Semarang larangan bertanding seumur hidup

Kiper PSIS dihukum [Sumber Gambar]
Kisah hukuman berat ini juga sempat menimpa pemain-pemain yang terlibat dalam pengaturan skor. Seperti salah satu contohnya mantan Kiper PSIS Semarang yakni Catur Adi Nugroho. Kala itu ia dihukum seumur hidup tidak boleh berkiprah di sepak bola nasional, setelah terbukti melakukan tindakan match fixing. Dan terbaru nama Krisna Adi Darma menjadi pesepakbola Indonesia yang menerima hukuman berat tersebut.

BACA JUGA: Mengenang ‘Dosa-dosa’ PSSI yang Berujung Sanksi Pedih Dari FIFA

Begitulah sobat, beberapa nama yang ‘dihukum mati’ oleh Komdis PSIS. Selain mereka sebetulnya masih banyak lagi sosok sepak bola nasional dihukum seumur hidup. Apapun sanksi-nya baik berat atau ringan tujuan utamanya adalah memberikan efek jera. Tapi bila masih terjadi lagi dan lagi kesalahannya, tentu harus ada tindakan lebih besar dari memberikan sanksi.