Papua kembali membara. Setelah sempat dilanda kerusuhan di Manokwari dan beberapa kota beberapa waktu lau, peristiwa serupa kini kembali memecahkan ketenangan Wamena. Dilansir dari CNN Indonesia, kerusuhan dipicu dari aksi unjuk rasa yang akhirnya berakhir ricuh. Dari peristiwa yang ada, puluhan nyawa melayang dan ratusan bangunan dirusak oleh massa.

Tak hanya itu, sejumlah warga pendatang yang selama ini mencari nafkah di Wamena, berebut menyelamatkan diri dari kericuhan yang ada. Ya, mereka beramai-ramai eksodus menuju ke tempat yang lebih aman dan jauh dari lokasi kerusuhan. Saking beringasnya para demonstran, mereka pun membabat habis para perantauan yang bukan asli dari Papua.

Hoax bernada rasis yang memicu kerusuhan massa

Inilah mengapa sebuah kabar bohong alias hoaks sangat merugikan masyarakat. Menurut Kapolda Papua Irjen Rudolf A Rodja mengatakan, aksi anarkistis di Wamena dipicu kabar hoaks tentang seorang guru yang mengeluarkan kata-kara rasis di sekolah. Alhasil, hal ini pun memicu gerakan massa yang masif di berbagai lokasi. Dilansir dari Regional Kompas, Kantor Bupati Jayawijaya dibakar dan seluruh aktivitas pertokoan dan sekolah termasuk kantor pemerintah dan swasta lumpuh

Para pendatang menjadi korban aksi beringas dari peristiwa kerusuhan

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit (kanan) berdiri di antara dua peti jenazah korban kerusuhan Wamena ANTARA FOTO-Muhammad Arif Pribadi [sumber gambar]
Aksi kerusuhan yang terjadi, akhirnya memakan korban jiwa. Khusuanya dari para pendatang yang telah lama bermukim di Wamena. Menilik catatan Wartawan Senior, Asro Rokan Kamal yang dikutip dari Kumparan, ada sekitar 165 rumah dibakar, 223 mobil hangus, sekitar 400 toko juga hangus. Sebanyak 10 ribu orang mengungsi, sekitar 2.500 orang eksodus. Bahkan, seorang dokter yang telah lama mengabdi di sana, ikut menjadi korban jiwa dari para perusuh di Wamena.

Eksodus besar-besaran terjadi demi menyelamatkan diri

Masih dari catatan Asro Rokan Kamal, kerusuhan berujung ricuh yang pecah di Wamena juga menyebabkan ribuan orang eksodus atau berbondong-bondong menyelamatkan diri. Dilansir dari Detik, Saat ini masih ada sekitar 5.000 orang yang mengungsi akibat kerusuhan beberapa waktu lalu. Para korban yang rata-rata adalah para pendatang, meminta dievakuasi oleh TNI ke kampung halaman masing-masing.

Akses internet di Wamena sempat dibatasi oleh Kominfo

Ilustrasi akses internet [sumber gambar]
Seperti kejadian di Papua dan Papua Barat, pembatasan akses internet kembali dilakukan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pasca terjadi kerusuhan di Wamena, Papua. Alhasil, semua jaringan yang ada di wilayah tersebut tidak bisa memberikan akses informasi, terkait dari peristiwa yang ada. Selain itu, pembatasan dilakukan untuk meredam berita hoaks. Meski demikian, Kominfo mengatakan bahwa layanan internet di Wamena, Papua, kembali bisa diakses lagi oleh warga di sana.

Situasi di Wamena mulai aman dan kondusif

Para aparat dari TNI yang masih berjaga-jaga di Wamena [sumber gambar]
Meski sempat mencekam, kondisi terkini di Wamena dikabarkan telah berangsur-angsur pulih. Dilansir dari CNN Indonesia, Polda Papua mengklaim situasi di Wamena, Papua sudah berangsur-angsur kondusif usai aksi demo yang berujung kerusuhan pada awal pekan ini. Meski demikian, sedikitnya 1.500 aparat dari gabungan TNI dan Polri masih diterjunkan untuk mengamankan wilayah tersebut.

BACA JUGA: Setelah Dilanda Kerusuhan, Inilah 4 Peristiwa Penting yang Sempat Terjadi di Papua

Bisa dibilang, kerusuhan di Wamena merupakan salah satu tragedi kemanusiaan yang buruk di Indonesia. Di tengah-tengah perhatian masyarakat Indonesia terhadap aksi demo di Jakarta, sayup-sayup Wamena telah menyimpan luka dan duka bagi negeri ini. Semoga saja, situasi di sana bisa kembali pulih seperti sediakala.