Entah kenapa setiap ada fenomena yang mungkin terlihat aneh dan tak bisa, kerap dikait-kaitkan dengan hal-hal mengerikan yang mungkin tidak enak didengar oleh kuping. Seperti peristiwa yang sudah-sudah dan kerap terjadi sebelumnya, banyak pihak yang beranggapan bahwa hal tersebut adalah bagian dari teori konspirasi elite global. Salah satunya adalah fenomena chemtrail alias chemical trail (jejak-jejak kimia).

Narasi bahwa chemtrail adalah teori konspirasi, banyak ditulis dan bertebaran di dunia maya. Jika kita coba mencari di kolom pencarian dengan kata kunci ‘chemtrail’, akan muncul hasil yang mengarah pada tulisan yang kebanyakan membahas soal persekongkolan jahat pihak tertentu yang lazim dikenal sebagai konspirasi. Uniknya, hal tersebut tak hanya melanda kawasan Amerika Serikat saja, melainkan juga hingga ke Indonesia.

‘Teori konspirasi’ soal chemtrail yang dimulai sejak tahun 1990-an

Sejak publikasi makalah penelitian Angkatan Udara AS tentang modifikasi cuaca terbit pada tahun 1990-an, muncul sebuah klaim yang menyebutkan bahwa ada sebuah program rahasia yang sangat besar untuk menyemprotkan bahan kimia berbahaya dari pesawat. Narasi yang dibangun kemudian berkembang menjadi sebuah teori konspirasi, di mana chemtrail menjadi bahasan yang utama. Sayang, hal ini kemudian dibantah oleh banyak pihak beberapa tahun kemudian.

Dikutip dari Telegraph, Administrasi Penerbangan Federal selaku otoritas penerbangan nasional AS bekerja sama dengan banyak lembaga pada tahun 2000, seperti Badan Perlindungan Lingkungan (EPA), Administrasi Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA) dan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA). Saat itu, mereka membuat laporan yang terperinci untuk mengusir rumor dan teori konspirasi soal chemtrail. Karena dianggap tidak berhasil, EPA kemudian menerbitkan lagi dokumen terbaru pada 2015.

Bukan chemtrails tapi constrail

Dalam bukunya yang berjudul Cockpit Confidential: Everything You Need to Know About Air Travel (2013), seorang pilot bernama Patrick Smith berusaha menjelaskan salah kaprah yang selama ini diyakini sebagai teori konspirasi chemtrail. Di sana ia menjelaskan bahwa hal tersebut sejatinya merupakan fenomena contrail, yang terbentuk ketika knalpot jet yang lembab dan mengembun menjadi kristal es di udara yang dingin dan kering. Bisa dibilang, hal ini merupakan produk sampingan dari pembakaran di dalam mesin jet, yang keluar sebagai jejak-jejak berupa asap berbentuk awan.

Hal ini kembali ditegaskan oleh laporan yang dihasilkan oleh Administrasi Penerbangan Federal AS, di mana mesin pesawat hanya mengeluarkan uap air, karbon dioksida, sejumlah kecil nitrogen oksida, hidrokarbon, karbon monoksida, gas belerang, dan partikel jelaga dan logam, yang terbentuk dari hasil pembakaran di mesin jet. Jadi tidak ada muatan kimia berbahaya yang selama ini dipercayai oleh penganut teori konspirasi tentang chemtrail.

Bagaimana dengan Indonesia?

Teori konspirasi soal chemtrail juga ramai menjadi bahasan masyarakat Tanah Air. Hal ini bisa dilihat dari sebuah video di YouTube yang diunggah oleh akun Monsieur PussyCat pada 16 Juni 2011. Dalam deskripsi singkat yang ditulis, ia menggambarkan ada pemandangan aneh berupa chemtrail dari pesawat jet yang tidak dikenal. Asap yang ditinggalkan berwarna putih dan dalam beberapa jam memudar. Membuat warna langit kota Bandung berubah dari biru biasa menjadi biru susu atau biru abu-abu.

Dalam kutipan terakhir, They’re spraying poison and harmful substance in the sky of our city yang kurang lebih artinya adalah mereka menyemprotkan racun dan zat berbahaya ke langit kota kita, ditulis sebagai penutup deskripsinya. Entah benar atau tidak soal penggunaan zat berbahaya pada asap tersebut, yang jelas harus ada bukti dan fakta secara ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan keabsahanya. Bukan hanya dengan asumsi semata.

BACA JUGA: Ramai Bahasan Dajjal, Inilah Penyebab Banyak Orang Menggemari Teori Konspirasi

Patut diingat, teori konspirasi dan segala bentuk yang ada tak ubahnya seperti komoditas dan bisa dinikmati oleh siapa saja. Seperti chemtrail di atas, tentu banyak persepsi dan pemikiran yang berkembang dari berbagai sisi. Tergantung menggunakan sudut pandang mana dalam menyikapi hal tersebut. Kalau menurutmu gimana Sahabat Boombastis?