Trending

BNPB Hadirkan Motivator Merry Riana dalam Sosialisasinya, Begini Tanggapan Pedas Netizen

Tim Gugus Percepatan Covid-19 Indonesia belakangan melakukan beragam variasi tindakan untuk mengkomunikasikan perkembangan kasus Corona di Indonesia. Selain itu, juga untuk mensosialisasikan himbauan dan arahan agar menekan laju pertambahan angka kasus positif di Indonesia.

Sayangnya, sampai hari ini kurva belum juga turun. Sementara beberapa daerah sudah diberlakukan transisi new normal yang disinyalir jadi salah satu penyebab lonjakan kasus positif, di samping tes yang sedang digenjot oleh pemerintah.

Jika kemarin BNPB menggandeng dokter Reisa Broto Asmoro, kali ini mereka mendatangkan Merry Riana untuk memberikan motivasi kepada publik. Sosok yang dikenal sebagai wanita sukses ini menularkan mantra untuk beradaptasi di masa new normal ini, yakni dengan ‘get up, dress up, show up, dan never give up’.

Alih-alih mendapat respons positif, inovasi konten sosialisasi oleh BNPB kali ini tidak begitu disambut hangat oleh masyarakat. Berikut ini beberapa reaksi netizen yang tertangkap di laman akun Twitter BNPB.

Dianggap toxic positivity

Motivasi yang diberikan malah dirasa tidak nyaman bagi para korban PHK atau publik yang merasakan kesusahan nyata di tengah pandemi.

Maksud hati memberikan semangat, namun nampaknya apa yang disampaikan oleh Merry Riana dan BNPB kurang sesuai dengan situasi dan kondisi yang tengah menggencet masyarakat. Memang tidak ada salahnya tetap optimis dalam menghadapi ujian, namun yang dirasakan publik saat ini adalah kesulitan yang sangat nyata di mana kata motivasi dirasa tak bisa memberi mereka pekerjaan pasca PHK, atau menjadi solusi masalah yang lebih konkrit.

Pakai bahasa Inggris

Penggunaan bahasa Inggris dianggap kurang tepat sasaran [Sumber Gambar]
Ada netizen yang menyayangkan penggunaan bahasa Inggris, sementara Indonesia mayoritas adalah kelas menengah ke bawah yang lebih mudah dan efektif komunikasinya jika menggunakan bahasa Indonesia. Bagi sebagian netizen, narasi ini hanya berlaku bagi kelas menengah ke atas dan seolah-olah Indonesia adalah Jakarta dan sekitarnya. Sebagai contoh, kesadaran publik mengenai penggunaan masker dan jaga jarak saja sering kita temukan pelanggarannya di pasar, yang tidak semuanya paham bahasa Inggris. Akan lebih tepat sasaran jika penyuluhan dibuat lebih general di mana istilah bahasa Indonesia malah diutamakan.

Butuh ketegasan dan penanganan yang tepat

Kurva pertambahan kasus Covid-19 di Indonesia belum turun kendati pasien sembuh terus bertambah.

Sudah lebih dari 3 bulan sebagian masyarakat tinggal di rumah atau melaksanakan PSBB, namun kurva kasus corona belum juga melandai seperti harapan kita bersama di bulan Maret lalu. Yang membuat publik makin bingung dan jengah salah satunya adalah kebijakan yang tak menentu. Salah satunya adalah digelarnya new normal yang dianggap terlalu cepat, padahal angka positif Covid malah semakin meningkat hingga 1000 kasus per hari dan Indonesia belum benar-benar memenuhi syarat untuk terjadinya mode kelaziman baru tersebut.

Masyarakat melakukan new normal dengan variasi kesadaran yang berbeda-beda, sebagian besar masih tidak jaga jarak.

Dalam kondisi ini, publik lebih mengharapkan tindakan yang konkrit dan tidak membingungkan. Sebab pandemi ini sendiri membawa seluruh elemen masyarakat pada ketidakpastian. Ditambah dengan kebingungan dan beberapa masalah kebijakan dan kasus politik yang belakangan mencuat, dikhawatirkan optimisme publik bukannya menguat malah semakin turun.

BACA JUGA: 10 Potret Reisa Broto Asmoro, Dokter Cantik yang Ikut Bantu Tangani Covid-19 di Indonesia

Meski agak menuai kritik, dalam statement-nya Merry Riana juga tetap menekankan bahwa dalam pelaksanaan new normal, tentu saja berpikiran positif tidaklah cukup. Dibutuhkan aksi nyata dan usaha positif supaya kita menjadi SDM yang disiplin serta konsisten untuk terus produktif kendati hasil tak melulu sesuai harapan.

Share
Published by
Orchid

Recent Posts

Kronologi Kasus Kiano Alvaro, Hilang 8 Bulan Ditemukan Tak Bernyawa

Delapan bulan lamanya keluarga Alvaro Kiano Nugroho (6) mencari anak sekaligus cucu tanpa kepastian jelas.…

1 day ago

Kasus Ira Puspadewi, Pulang dari LN untuk Negara Ternyata Dituding Korupsi

Sedang ramai di Indonesia mengenai kasus korupsi yang menyeret nama Ira Puspadewi. Ia adalah mantan…

2 days ago

Profil Zohran Mamdani, Walikota Muslim Pertama di Amerika Serikat

Di tengah gejolak politik terus menerus yang dipicu oleh presidennya, Amerika Serikat memberi kejutan baru…

1 week ago

Kasus Ledakan SMAN 72 dan Potret Ekstrim Dampak Perundungan di Kalangan Remaja

Baru di Indonesia, ketika teror mengguncang sebuah institusi pendidikan. Di tengah-tengah pelaksanaan salat Jumat (7/11/2025)…

2 weeks ago

Ramai Beli Emas saat Harga Naik, Bagaimana Seharusnya?

Ada yang terbang sampai lupa pulang. Seperti itulah harga emas akhir-akhir ini. Terus melambung tinggi…

3 weeks ago

Arab Bikin Proyek Kereta Cepat, Kenapa Biayanya Bisa Lebih Murah dari Whoosh Indonesia?

Kabar gembira untuk warga Arab Saudi, atau mungkin Warga Negara Indonesia yang bermukim di sana.…

3 weeks ago