Trending

Jokowi Bantah Whoosh jadi Beban Negara, Netizen: Yang Nikmati Kalangan Tertentu Saja

Whoosh merupakan salah satu proyek mercusuar di era pemerintahan mantan Presiden RI Joko Widodo. Lebih dari satu juta orang sudah merasakan kereta api yang mampu mencapai kecepatan 350 kilometer per jam dan merampungkan rute Jakarta – Bandung selama 45 menit saja.

Memasuki tahun keduanya beroperasi di Indonesia, Whoosh kini mengundang polemik. Tak hanya persoalan hutang dan pelunasannya kepada China yang terus membengkak, opini masyarakat kini terbelah dengan adanya pihak yang mengatakan bahwa Whoosh hanya bisa dinikmati kalangan tertentu saja.

Whoosh sebaiknya tidak dijadikan prioritas nasional

Salah satu tokoh yang menyoroti kekurangan Whoosh ini adalah Djoko Setijowarno. Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata tersebut melihat beberapa aspek yang kurang pas dengan tujuan pembangunan kereta api super cepat itu.

Menurut Djoko, harus ada yang mulai memperhatikan tentang skema pembiayaan, tarif, sampai rute yang tidak langsung menghubungkan pusat kota. Bahkan menurutnya, sebaiknya Whoosh ini menjadi sebuah prototipe ketimbang proyek prioritas nasional. Djoko menilai, PT KAI punya beban hutang yang terlalu berat, sementara penggunaan APBN bakal lebih tepat guna untuk pembangunan transportasi di luar Pulau Jawa ketimbang untuk bayar pelunasan Whoosh.

Harga tiket Whoosh juga terlalu mahal untuk masyarakat

Selain bicara tentang skema pembayaran yang pas, Djoko berpendapat bahwa harga tiket Whoosh sebesar Rp. 750.000 masih terlalu tinggi terhadap kemampuan daya beli masyarakat. Hal ini membuat peminat Whoosh seperti menitikberatkan pada kalangan tertentu saja.

Menurutnya, Whoosh punya potensi untuk bisa dinikmati oleh lebih banyak masyarakat. Djoko berpendapat, harga awal sebaiknya disesuaikan dulu dengan standar hidup di Indonesia, baru kemudian tarifnya dinaikkan secara bertahap sambil menyesuaikan kondisi ekonomi rakyat.

Stasiun tujuan Whoosh kejauhan dari kota

Hal lain yang digarisbawahi Djoko adalah rute tujuan Whoosh. Kereta api cepat ini memang menghubungkan Jakarta dan Bandung, tetapi stasiun pemberhentiannya dinilai terlalu jauh dari kota, tidak seperti kebanyakan negara-negara lain.

Djoko berdalih, Stasiun Halim (Jakarta) dan Tegalluar (Bandung) bukan pilihan yang efisien. Pasalnya, penumpang masih harus melanjutkan perjalanan lagi dengan moda transportasi lain untuk mencapai pusat kota.

Dirinya juga menyayangkan rencana muluk yang menginginkan Whoosh sampai Surabaya. Ambisi yang menurutnya bisa membunuh lebih banyak sistem perekonomian. Mulai dari pesawat, angkutan antar-kota, dan banyak lagi lainnya. Padahal, sudah banyak bandara baru yang dibangun di Pulau Jawa.

Jokowi anggap Whoosh sebagai investasi sosial masyarakat

Sebelumnya, Joko Widodo mengatakan bahwa sebenarnya Whoosh itu bukan proyek cari untung, melainkan sebagai investasi sosial untuk masyarakat. Ia menjelaskan bahwa proyek ini terinspirasi dari kemacetan yang selalu muncul di kawasan Jabodetabek dan Bandung, serta mengakibatkan kerugian ekonomi.

Dengan dibangunnya Whoosh dan berbagai rangkaian kereta lainnya, Jokowi berharap masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal agar perjalanan lebih lancar, sekaligus menekan kerugian ekonomi tersebut. Inilah mengapa Jokowi menyebut Whoosh sebagai investasi sosial, bukan semata untuk mencari laba atau finansial.

Silang pendapat Jokowi dan pemikiran warganet

Berita yang dirilis oleh kompas.com dan diposting di media sosial X ini mendapatkan reaksi beragam dari netizen. Kebanyakan dari mereka tidak setuju bahwa Whoosh adalah investasi sosial dan merupakan proyek bisnis yang hanya bisa dirasakan oleh sebagian masyarakat saja.

Komentar dan kritik pun bersahutan, menghiasi jagat dunia maya.

“INVESTASI SOSIAL ITU JALUR REL KERETA API DI SUMATERA & KALIMANTAN!! Proyek Whoosh Rp. 118 T, dengan biaya rel ganda Rp. 60 M/Km, bisa bangun rel kereta api Trans Sumatera dr Aceh k Lampung plus Trans Kalimantan dr Banjarmasin ke Balikpapan. ITU NAMANYA INVESTASI SOSIAL!!” cetus @N*****k.

“Jika Whoosh bukan mencari keuntungan finansial kenapa G to G dengan Jepang beralih menjadi B to B dengan China?? Bisnis apa yg TIDAK mencari keuntungan finansial??” kritik @Halomoan*******.

“Lah… yang bayar selama 60 tahun kita loh pak… rakyat indo dan negara. Kalau duit negara berlebih gpp kalau mau bikin proyek sosial..masalahnya ini hutang pak!!!” teriak @n*********e.

Bagaimana ini? Banyak yang nggak setuju, loh, Pak Jokowi.

Share
Published by
Bayu Yulianto

Recent Posts

Kronologi Kasus Kiano Alvaro, Hilang 8 Bulan Ditemukan Tak Bernyawa

Delapan bulan lamanya keluarga Alvaro Kiano Nugroho (6) mencari anak sekaligus cucu tanpa kepastian jelas.…

1 week ago

Kasus Ira Puspadewi, Pulang dari LN untuk Negara Ternyata Dituding Korupsi

Sedang ramai di Indonesia mengenai kasus korupsi yang menyeret nama Ira Puspadewi. Ia adalah mantan…

1 week ago

Profil Zohran Mamdani, Walikota Muslim Pertama di Amerika Serikat

Di tengah gejolak politik terus menerus yang dipicu oleh presidennya, Amerika Serikat memberi kejutan baru…

2 weeks ago

Kasus Ledakan SMAN 72 dan Potret Ekstrim Dampak Perundungan di Kalangan Remaja

Baru di Indonesia, ketika teror mengguncang sebuah institusi pendidikan. Di tengah-tengah pelaksanaan salat Jumat (7/11/2025)…

3 weeks ago

Ramai Beli Emas saat Harga Naik, Bagaimana Seharusnya?

Ada yang terbang sampai lupa pulang. Seperti itulah harga emas akhir-akhir ini. Terus melambung tinggi…

4 weeks ago

Arab Bikin Proyek Kereta Cepat, Kenapa Biayanya Bisa Lebih Murah dari Whoosh Indonesia?

Kabar gembira untuk warga Arab Saudi, atau mungkin Warga Negara Indonesia yang bermukim di sana.…

4 weeks ago