Kalau menilik sejarahnya Piala Indonesia bukanlah kompetisi bola nasional yang baru. Sebelumnya, beberapa tahu lalu pada 2005, 2006, 2007, 2008, 2010, dan 2012 juga sempat menghiasi percaturan sepak bola nasional. Di kompetisi Piala Indonesia ini semua kesebelasan yang ada di tiga kasta nasional (Liga 1,Liga 2, dan Liga 3) menjadi pesertanya.

Masih terkait ajang tersebut, sebetulnya dalam perjalanan kompetisi tidaklah bisa dikatakan baik, terkhusus untuk edisi 2018. Hal ini bukanlah tanpa alasan, sebab dari jalannya kompetisi bisa dibilang sangatlah aneh dan penuh ‘dagelan’, mulai dari sistem, jadwal, sampai gaung dari kejuaraan ini. Bahkan berkat kondisi-kondisi itu, banyak pelatih mengeluh kesulitan mempersiapkan kesebelasan untuk kompetisi selanjutnya.

Pelatih Persebaya [Sumber Gambar]
Hal ini tentu sangat beralasan, kompetisi yang awalnya direncanakan mulai pada Mei 2018 dan berakhir pada Januari 2019, malah molor tidak karuan. Bahkan saat ini masih sampai ke babak 32 besar. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kesulitannya para nahkoda klub-klubnya membuat program rencana untuk timnya pada musim liga 2019/2020. Tidak berhenti disitu saja, kesemerawutan yang dalih PSSI lantaran terganggu jadwal Timnas ini juga membuat beberapa pesepakbola kehilangan waktu liburannya. Seperti salah satu contohnya Diego Michiels.

Aksi Bepe [Sumber Gambar]
Kondisi yang bisa dikatakan tidaklah baik untuk fisik serta psikologi pesepakbola. Pasalnya, setelah mengarungi kompetisi panjang di Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 mereka tidak merasakan recovery atau istirahat. Dampaknya adalah resiko pemain cedera semakin besar dan perkembangan pemain menuju level tinggi juga terganggu. Selain itu kompetisi ini juga membebani financial klub yang seharusnya sudah tutup buku, lalu melakukan perencanaan ke depan.

Fakta buruk lain di kompetisi yang konon berhadiah 3 miliar ini adalah kehadiran sempat telat mendapatkan sponsor. Dari penelusuran penulis baru ketika turnamen berjalan mereka mendapatkan bantuan sponsor. Selain itu seperti dikutip Boombastis dari PanditFootball, menurut sakjen PSSI Ratu Tisha Piala Indonesia tahun ini hanyalah percobaan. Kondisi yang semakin menunjuk kepada kita kalau Piala Indonesia digarap dengan dagelan tanpa tujuan untuk meningkatkan sepak bola lebih lagi.

PSMP Mojokerto [Sumber Gambar]
Kekonyolan lain yang ada di Piala Indonesia juga ditunjukkan dengan tidak berlakunya hukuman berat kepada insan bola tanah air yang sempat di sanksi PSSI. Contohnya adalah PSMP Mojokerto tetap boleh bermain di ajang tersebut meski dijatuhi larangan aktif di jagad sepak bola nasional selama setahu. Lalu, ada Yuli Sumpil dirijen suporter Arema yang dihukum tidak boleh masuk ke stadion Indonesia seumur hidup, sudah kembali memimpin Aremania lagi beberapa bulan lalu. Ya, mungkin juga beberapa exco yang telah di sanksi, hukumannya tidak berlaku di sini.

Pembukaan Piala Indonesia [Sumber Gambar]
Apakah kompetisi hanya dagelan dari PSSI? Entalah, yang pasti sampai akan di mulai kompetisi Indonesia nanti, kesebelasan-kesebelasan yang saat ini harus rela terus merasakan anomali kebijakan pagelaran tersebut. Dan salah satu awal yang akan dihadapi adalah lahirnya sistem baru dari PSSI yang memperbolehkan melakukan perombakan pemain setelah lolos ke 16 besar. Merasakan hal itu, memang layak juga Piala Indonesia layaknya kompetisi tour pramusim di luar negeri sana.

BACA JUGA: Mengenal Golden Gol, Babak Hidup Mati Paling Dramatis di Jagad Sepak Bola

Melihat beberapa kejanggalan tadi, kompetisi PSSI ini memang tidak salah sebagai turnamen dagelan. Meski tujuan bagus untuk mengembangkan sepak bola nasional ala Piala FA di Inggris, tapi kalau melihat waktunya dan regulasi uniknya, agaknya tidak malah memberikan dampak yang baik. Kalau menurutmu bagaimana sobat Boombastis?