Kamis,19 April 2018, induk organisasi tertinggi sepak bola yakni PSSI genap berusia 88 tahun. Selama perjalanan banyak tinta emas atau hitam telah digoreskannya. Mulai pembekuan PSSI beberapa tahun lalu sampai akhiri puasa gelar selama 22 tahun. Kisah ini berjalan dengan beberapa kali berganti nakhoda atau pimpinan.

Dari semua perjalanan ini, nama Azwar Anas pastinya lekat bagi pencinta sepak bola tanah air tahun 90’an. Berkat dirinya dahulu Timnas raih prestasi tertinggi yang saat ini sangat sulit untuk diulangi. Namun layaknya gading yang bisa retak, pria yang sudah berpulang ini juga meninggalkan noda hitam tak bisa terhabuskan. Seperti apakah cerita di balik kepemimpinannya simak ulasannya berikut.

Sepak bola Indonesia dibawanya terbang ke Eropa

Timnas latihan Italia [Sumber Gambar]
Benua Biru menjadi jalan pintas yang dipilih oleh Azwar Anas majukan sepak bola Indonesia. Bekerjasama dengan klub Sampdoria, Bima Sakti dan kawan-kawan menimba ilmu di Italia. Negeri Pizza ternyata bukan menjadi pilih buruk, lantaran berkat berlatih di sana bakat-bakat hebat bermunculan. Salah satunya adalah Kurniawan Dwi Yulianto dan juga Kurnia Sandi yang bisa masuk Skuad tim Sampdoria. Bahkan mereka berdua sempat meniti karier sepak bola di Eropa. Pemain yang juga berlatih di sana juga bersinar setelah pulang.

Garuda cakar lawannya di SEA Games 1991

Juara SEA Games [Sumber Gambar]
Juara SEA Games tahun 1991 menjadi salah satu tinta emas di era Azwar Anas. Bahkan catatan tersebut saat ini sangat sulit untuk diulangi kembali. Terakhir Indonesia hanya puas dengan raihan medali perunggu pada ajang multievent tersebut di Malaysia. Cerita indah tahun 1991 itu didapatkan saat tim merah putih mampu mengalahkan Thailand di partai puncak yang di gelar di Jakarta. Skor 1-0 kala itu cukup membuat ribuan orang Indonesia berpesta semalam suntuk dan membayar lunas kegagalan yang sering dialami tim Garuda.

Noda hitam itu bernama sepak bola gajah

Selain raih masa yang gemilang dengan Gelar, Era Azwar Anas juga goreskan noda hitam yang tak pernah terhapus. Ketika itu tim Garuda terlibat tindakan picik bernama sepak bola gajah. Akal-akal bersama Thailand tersebut membuat olahraga ini jatuh ketitik nadir. Bahkan juga hancurkan anak bangsa yang cetak gol bunuh diri. Mursyid harus didenda 40 Euro oleh FIFA lantaran ulahnya tersebut.

Sebagai seorang pemimpin kiprah Azwar Anas bisa dikatakan luar biasa lantaran mampu dongkrak Timnas. Namun, kisahnya juga kelam dengan tinggalkan catatan hitam untuk Indonesia berupa sepak bola gajah. Semoga efek baik kepemimpinanya ke depan dapat berlanjut dan sirami prestasi Timnas yang kering.