Kasus pencurian ikan tampaknya menjadi masalah serius bagi negara-negara di dunia. Di Indonesia sendiri, ada banyak kapal penjarah hasil laut yang dihancurkan seketika saat ketahuan mengeruk kekayaan di wilayah perairan nusantara. Sama seperti nasib Andrey Dolgov, kapal maling ikan kelas berat itu akhirnya menyudahi umurnya setelah dibekuk otoritas keamanan Indonesia.

Dilansir dari bbc.com, kapal yang dibangun pada 1985 ini merupakan kapal nelayan tuna longline di yang dibuat di galangan kapal Kanasashi Zosen di pelabuhan Shimizu, Jepang. Sempat beberapa kali berpindah kepemilikan, keberadaan kapal tersebut akhirnya diidentifikasi telah melakukan penangkapan ikan secara ilegal selama 10 tahun di seluruh dunia. Dunia pun memburunya sosoknya yang dikenal lihai tersebut.

Bekas kapal nelayan yang berpindah-pindah kepemilikan

Bekas kapal nelayan yang berpindah kepemilikan [sumber gambar]
Sebagai kapal nelayan, Andrey Dolgov awalnya dinamai sebagai Shinsei Maru No 2 di bawah kepemilikan Jepang. Laman finance.detik.com menuliskan, ia berlayar selama bertahun-tahun di sekitaran wilayah Pasifik dan Samudera Hindia untuk perusahaan makanan laut Jepang Maruha Nichiro Corporation. Baru pada 1995, kapal pun berubah kepemilikan di bawah Filipina dan mengganti namanya sebagai Sun Tai 2. Pada 2008, kapal tersebut akhirnya bergabung dengan armada perikanan Republik Korea.

Gunakan modus tertentu dan dicurigai sebagai kapal ilegal

Gunakan modus berganti-ganti bendera [sumber gambar]
Saat ini, bekas Shinsei Maru No 2 dan Sun Tai 2 telah dikenal sebagai Andrey Dolgov. Posisinya pun cuku unik. Seperti yang ditulis pada laman finance.detik.com, kapal tersebut mengibarkan bendera Kamboja, namun dioperasikan oleh perusahaan yang terdaftar di Belize. Januari 2017, berganti nama lagi menjadi Sea Breez 1 di bawah bendera Togo dan berpindah-pindah pelabuhan menggunakan dokumen palsu. Modus lainnya adalah menggunakan bendera negara lain seperti Nigeria dan Bolivia.

Menjarah kekayaan laut dunia dan melanglang buana selama 10 tahun

Ilustrasi menjarah kekayaan laut [sumber gambar]
Sebagai kapal pencari ikan, Andrey Dolgov telah melanglang buana di lautan selama 10 tahun lamanya. Laman finance.detik.com menuliskan, benda berkapasitas 570 ton itu telah menjarah ikan senilai $ 50 juta (£ 38 juta) atau setara Rp 725 miliar dari lautan dan telah beroperasi di banyak tempat. Hebatnya, Andrey Dolgov kerap lolos dari pengejaran aparat penegak hukum dunia. Namun sayang, aksinya menjarah ikan terhenti setelah berhasil ditangkap di perairan Indonesia.

Diburu penegak hukum dunia dan ditangkap di Indonesia

Dibekuk oleh aparat keamanan Indonesia [sumber gambar]
Melihat gerak-gerik Andrey Dolgov yang dikenal licin, kepolisian internasional yag bekerjasama dengan otoritas maritim pun harus mengintai selama berbulan-bulan lamanya. Laman finance.detik.com menuliskan, mereka harus bersabar layaknya detektif dan dibantu dengan titik koordinat lewat pelacakan satelit yang dipantau secara seksama.Setelah sekian lama bekerja, kapal Andrey Dologov berhasil dibekuk di Selat Malaka yang berada di jalur pelayaran utama antara Semenanjung Melayu dan Pulau Sumatera.

Dampak buruk dari adanya ilegal fishing

Ilustrasi illegal fishing [sumber gambar]
Meski terkesan sepele, kegiatan illegal fishing yang dilakukan secara terus menerus akan menimbulkan dampak buruk bagi nelayan. Menurut Ahli Biologi Kelautan dari National Oceanography Centre di University of Southampton Katie St John Glew yang dikutip dari finance.detik.com mengatakan, tindakan pencurian ikan berdampak luas, merusak perhitungan stok ikan, industri perikanan, hingga kepercayaan konsumen. Hal semacam ini pun bisa saja menimpa Indonesia jika tidak dicermati dengan seksama.

BACA JUGA: 4 Negara yang Sering Mencuri Ikan di Perairan Indonesia

Masih ada banyak sosok kapal seperti Andrey Dolgov di atas yang berkeliaran bebas mengarungi lautan dunia. Sebagai negara maritim, Indonesia juga harus mewaspadai modus yang dilakukan pihak-pihak asing yang ingin menjarah kekayaan laut nusantara. Bukan sekedar dengan memperkuat alutsista yang ada, tapi juga bersinergi dengan pihak-pihak terkait untuk menciptakan suasana aman yang mampu melindungi isi laut Indonesia.