Sebagai salah satu kekuatan militer Indonesia yang menjaga ruang udara NKRI, TNI AU tentu memerlukan alutista modern yang memiliki serangkaian kemampuan canggih. Salah satunya dengan membeli peswat nir-awak (drone). Dilansir dari laman jejaktapak.com, Indonesia secara diam-diam telah mengakuisisi empat pesawat tak berawak yang bernama Wing Loong I buatan Aviation North Industries Group Corporation of China (AVIC).

Sebagai alutsista made in China, tentu saja keberadaanya tak lepas dari bayang-bayang MQ-1 Predator, drone pembunuh buatan Amerika Serikat yang juga tak kalah canggihnya. Sama-sama berspesifikasi sebagai pembunuh bersayap tanpa awak, siapakah yang kebih unggul di udara?

Sisi persenjataan yang diusung

Merujuk dari laman indomiliter.com, Wing Loong I mengusung Rudal AR-1 yang merupakan pengembangan dari HJ-10 (Hongjian-10) yang dikembangkan oleh China North Industries Group. Senjata ini digadang-gadang bakal memiliki kemampuan menghancurkan sasaran seperti infanteri, tank sampai kapal patroli. Dengan kecepatan luncur yang mencapai Mach 1.1 dan punya jarak tembak sampai 10 km, AR-1 sanggup menggotong hulu ledak seberat 10 kg.

Misil AR-1 Wing Loong dan AGM-144 Hellfire MQ-1 Predator [sumber gambar]
Sementara untuk MQ-1 Predator, pabrikan Lockheed Martin telah menyiapkan standar rudal yang digunakan, yakni AGM-144 Hellfire. Bedanya dengan Ar-1, peluru penghancur milik AS ini sudah teruji di medan tempur Timur Tengah. AGM-144 Hellfire juga disematkan pada helikopter tempur AH-64 Apache yang terbukti ampuh melibas lapis baja Irak dalam perang teluk. Bisa ditebak, rudal M-Q1 Predator lebih berpengalaman di lapangan dibanding AR-1 Wing Loong.

Kemampuan spesial dan kecanggihan yang dimiliki

Sebagai negara yang kental dengan ciri khas reverse engineering, pabrikan China juga menyematkan sejumlah teknologi canggih pada alutsista buatannya. Seperti yang dikutip dari indomiliter.com, Wing Loong I yang mengusung rudal HJ-10 telah memiliki sejumlah piranti canggih yang serupa dengan milik AS. Jika AGM-144 Hellfire memiliki pemandu semi-active laser homing dan millimeter wave radar seeker, HJ-10 juga berpemandu semi active laser homing dengan tambahan imagine infra red, TV dan active radar homing.

Teknologi yang diusung nyaris sama persis [sumber gambar]
Bahkan, bobot keduanya sama-sama berada di kisaran 50 kg. Bedanya, keampuhan AGM-144 Hellfire telah terbukti di medan tempur untuk mendukung kampanye militer AS. Sementara untuk HJ-10 belum ada keterangan resmi yang dirilis tentang performanya.

Pengalaman tempur di lapangan

Bicara soal performa dari kedua UAV di atas, MQ-1 Predator tentu lebih baik karena terbukti di beragam misi pertemupuran yang diikuti dibanding Wing Loong I. Dilansir dari news.okezone.com, MQ-1 yang dibuat pada 1990-an awalnya digunakan untuk misi pengintaian dan observasi. Statusnya kemudian naik sebagai mesin pembunuh sejak 1995 dan telah menjadi bagian dari militer AS yang beroperasi di langit negara-negara Timur Tengah.

MQ-1 Predator unggul pengalaman tempur dibandingkan Wing Loong I [sumber gambar]
Untuk Wing Loong, selama ini masih sebatas uji coba karena China tidak terlibat agresi militer dengan negara manapun. Merujuk laman jakartagreater.com, pesawat tanpa awak itu sukses mengenai 100 persen sasaran saat pengujian. Di mana lima rudal berbeda dilesakkan untuk menghantam lima target berturut-turut.

Harga masing-masing UAV

Dikutip dari jakartagreater.com, Wing Loong I telah dijual ke negara-negara Afrika dan Timur Tengah, termasuk Nigeria, Mesir dan Uni Emirat Arab, dengan perkiraan harga sebesar 1 juta dollar AS per unit. Sementara untuk MQ-1 Predator buatan Amerika Serikat, dibanderol seharga 4,03 juta dollar AS. Selisih 3,03 juta dollar AS dengan pabrikan asal China tersebut.

Harga Wing Loong lebih murah ketimbang MQ-1 Predator [sumber gambar]
Meski demikian, Wing Loong I merupakan UAV masa depan yang masih akan terus digunakan oleh militer negeri tirai bambu maupun operator di negara lain. Untuk MQ-1 Predator seperti yang ditulis pada laman ainanonline.com, militer AS berencana akan ‘mempensiunkan’ UAV tersebut pada 9 maret 2018. Mengingat, statusnya pada saat ini berada dalam tugas ‘yang dibatasi’ kinerjanya.

BACA JUGA: Inilah Drone-Drone Paling Mematikan di Dunia yang Indonesia Harus Punya

Wing Loong I bisa menjadi pilihan yang ideal bagi TNI AU untuk menambah daya gedor alutsista udaranya. Selain karena harganya yang lebih terjangkau, dari sisi spesifikasi pun tak kalah dengan buatan AS yang selama ini menjadi kiblat dan inovasi teknologi militer. Mudah-mudahan, ke depannya TNI AU juga bisa mengakuisisi kecanggihan yang ada pada Wing Loong I melalui proses Transfer of Technology (TOT), demi mewujudkan kemandirian anak bangsa di bidang militer.