Beberapa hari ini drama pengaturan skor di jagad sepak bola Indonesia tengah memasuki babak baru. Dimana banyak aktor kelas kakap dari praktek menjengkelkan tersebut tertanggkap. Seperti Johar Lin En anggota Exco PSSI, lalu ada Mbah Putih atau Dwi Irianto dan beberapa insan bola tanah air. Namun, dari semua itu bisa ditahannya Vigit Waluyo menjadi sesuatu hal menyejukkan untuk sepak bola nasional.

Pasalnya, selama ini pria yang sempat menjadi manajer Deltas Sidoarjo disebut-sebut banyak warganet dan insan bola tanah air, sebagai dalang dari pengaturan skore di kompetisi bola tanah air. Kabarnya sudah banyak praktek model tersebut yang melibatkan dirinya, termasuk kejadian penalti gagal yang dilakukan Krisna Adi, kala laga Aceh United Vs PSMP beberapa waktu lalu. Sebelumnya juga tersiar berita dari mantan runner Bambang Suryo, jika Kalteng Putra disuruh mengalah oleh Vigit ketika berhadapan PSS Sleman.

Sosok Vigit Waluyo [Sumber Gambar]
Sedangkan dari data yang dipaparkan oleh satuan tugas (Satgas) Antimafia Bola beberapa waktu lalu, pria ini diduga telah melakukan praktek nakal tersebut sebanyak empat kali bersama PSMP, yakni ketika melawan Aceh United (29/9/2018), Gresik United (28/10/2018), dan Kalteng Putra pada 3 dan 9 November 2018 lalu. Berkat fakta tersebutlah pada akhirnya, ia kini ditetapkan sebagai tersangka skandal pengaturan skor di sepak bola Indonesia.

PSSI [Sumber Gambar]
Selain hukuman tadi, akhir kisah Vigit di percaturan sepak bola nasional juga ditutup dengan hukuman berat yang diberikan oleh Komdis PSSI kepadanya. Dilansir Boombastis dari Tempo.co, komisi disiplin sepak bola Indonesia tersebut memberikan hukuman seumur hidup untuknya. Menurut ketua badan tersebut yakni Asep Edwin, sanksi itu diberikan lantaran, ia acap kali terlibat dalam praktek pengaturan sebuah pertandingan di tanah air. Hukuman yang diterimanya menambah daftar panjang insan bola nasional yang ‘dihukum mati’ Komdis PSSI.

Bila melihat nasib Vigit Waluyo hari ini layaknya pepatah ‘sudah jatuh tertimpa tangga juga’. Hal ini lantaran selain hukuman-hukuman tadi, ia juga menjadi tersangka untuk kasus korupsi dana pinjaman PDAM Sidoarjo. Bahkan dalam kasus tersebut, dirinya sempat menjadi buron dalam jangka waktu lumayan panjang sebelum pada akhirnya menyerahkan diri pada bulan Desember tahun 2018 lalu. Setelah berhasil di tahan kini Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas IA Sidoarjo menjadi tempat bernaung dari kerasnya hidup.

Penjara Ilustrasi [Sumber Gambar]
Sebetulnya, dalam ranah sepak bola Indonesia kiprah Vigit tidaklah bisa dianggap sebelah mata. Sebagai anak pendiri kesebelasan asal Pulau Bali yakni Gelora Dewata, putra H Mislan bisa dibilang sudah banyak mengelola tim nasional. Dari penelusruan penulis, tercatat ada 5 klub yang manajemennya dimasuki oleh Vigit yaitu Deltras Sidoarjo, PSIR Rembang, Persewangi Banyuwangi, Persikubar Kutai Barat, PS Mojokerto Putra. Hal yang membuktikan kalau pria asal Jawa Timur ini sudah makan asam garam sepak bola nasional.

Persewangi Bayuwangi [Sumber Gambar]
Dalam prakteknya melakukan tindakan pengaturan skor di sebuah pertandingan. Menurut Bambang Suryo, Vigit Waluyo merupakan kepanjangan tangan dari Bandar dari Bet365 yang notabe adalah laman judi sepakbola. Dan kabarnya saat melakukan tidakan keji itu, ia akan menyogok aktor pengaturan skor dengan jumlah angka besar. Seperti contohnya dikutip Boombastis dari Bola.com Vigit mengeluarkan 115 juta kepada Dwi Irianto atau Mbah Putih. Tujuannya adalah dengan memuluskan langkah PSMP promosi ke Liga 2 2019. Jumlah yang sebetulnya bila dikumpulkan dapat untuk membangun sarana dan prasarana olahraga ini.

BACA JUGA:Bongkar Kebusukan Sepak Bola, Manajer Klub Liga 3 Ini Mendapat Perlakuan ‘Menakutkan’

Melihat kisah tadi, tentu apa yang dirasakan sekarang layaknya hukum rimba kepada Vigit. Pasalnya, hukumannya sesuai dengan apa yang dilakukannya kepada sepak bola Indonesia. Mungkin kalau ada yang lebih berat, hukuman tersebut layak diberikan kepadanya. Kalau menurutmu bagaimana sobat?