Sebagai sebuah destinasi wisata alam kelas wahid, Gunung Everest bisa dikatakan tempat yang kerap menggoda para pendaki gunung. Bahkan banyak diantara mereka yang rela merogoh kocek sangat dalam agar bisa menaklukkannya. Berangkat kondisi tersebut, tak ayal kini bermunculan ekspedisi-ekspedisi yang menawarkan jasa, membantu pendaki pro atau amatiran naik ke puncak gunung yang ada di Nepal tersebut.

Meningkatnya aktivitas tersebut, ternyata tidaklah selalu mengenakan. Pasalnya, kerap memunculkan drama di atas Gunung Everest. Seperti contohnya baru-baru ini, ada 11 orang meninggal dunia, karena lalu lintas di atas padat. Banyak dari mereka alami penyakit gunung dan kelelahan lantaran terlalu lama mengantri. Dalam sejarahnya, kisah tadi adalah sebagian kecil saja catatan-catatan menyedihkan di sana.

Lebih jauh dari hal tersebut, masih banyak lagi cerita nestapa yang pernah terukir penuh pilu di gunung paling tertinggi di dunia itu. Tidak percaya kalian? Simak ulasan berikut ini untuk membuktikan sendiri.

Tragedi longsor es yang memakan beberapa korban jiwa

Longsor Gunung Everest [Sumber Gambar]
Kalau melihat riwayatnya, longsor es di gunung tertinggi dunia ini tidaklah terjadi satu atau dua kalu saja. Lebih jauh dari itu ada sejumlah kejadian terkait hal itu yang menyeramkan. Salah satu yang terus diingat adalah tragedi longsor tahun 1970. Ketika itu ditengah-tengah antriaan panjang ingin melewati Khumbu Icefall sebuah bongkahan es tiba-tiba turun menyapu. Alhasil, ada 6 Sherpa (orang pemandu dari salah suku bangsa Nepal dan Tibet) dari ekspedisi ski tim Jepang hilang.

Cerita nestapa Nobukazu Kuriki mencoba taklukan Gunung Everest

Mendiang Nobukazu Kuriki [Sumber Gambar]
Selain kisah tadi, cerita nestapa juga pernah dituliskan seorang pendaki bernama Nobukazu Kuriki. Pria asal Jepang yang telah melakukan di tempat tersebut selama delapan kali itu, telah banyak merasakan kepedihan dalam mencoba menggapai puncak gunung ini. Mulai dari kehilangan bagian tubuh sampai menghembuskan nafas terakhir beberapa tahun lalu. Khusus, untuk hal pertama tadi, saat kehilangan sembilan jarinya, Kuriki sempat tinggal selama dua hari dalam sebuah lubang salju di ketinggian 8.230 meter di Everest, dengan suhu udara di bawah minus 20 derajat Celsius.

Menghilangnya Mallory dan Irvine

George Mallory [ Image Source ]
George Mallory [ Sumber Gambar ]
Cerita tidak kalah menyedihkan juga pernah dirasakan oleh pasangan asal Amerika Serikat yakni Mallory dan Irvine, saat mencoba menaklukkan Gunung Everest. Di mana mereka yang saat itu mencoba menaiki gunung tersebut harus pulang tanpa nama. Bahkan sampai jasadnya Mallory baru ditemukan setelah 75 tahun kisah pilu itu diketahui. Sedangkan Irvine hingga berita ini dituliskan belum pernah diketahui dimana mayatnya. Dari kabar yang beredar saat menemukan Mallory mendapati dirinya dalam keadaan tulang-tulangnya banyak yang patah.

Tragedi Everest tahun 1996

Ilustrasi Tragedi Everest tahun 1996 [Sumber Gambar]
Selain hal-hal tadi, insiden gunung ini tahun 23 tahun lalu juga jadi kisah menyedihkan pernah terjadi di puncak tertinggi dunia tersebut. Saat itu dalam kejadian ini, tercatat ada lebih delapan orang harus merenggang nyawa dalam satu sampuan badai salju. Kompetisi perusahaan-perusahaan komersial, populasi pendaki yang terlalu memenuhi Everest, menjadi biang keladi dari permasalahan yang berujung korban jiwa di Puncak Tertinggi Dunia.

BACA JUGA: Bukan Tak Berperikemanusiaan, Ini Mengapa Jasad Abadi di Everest Dibiarkan Begitu Saja

Berkaca dari kejadian-kejadian tadi, agaknya menjadi bukti pernyataan mantan pendaki gunung yakni Jon Krakauer, yang berujar kalau menaklukkan Gunung Everest adalah kesalahan terbesarnya. Meski penuh kisah pilu, namun jika kalian mempunyai persiapan matang dan ditunjang fisik prima sepertinya mencoba menggapai puncak Everest bukan masalah.