Gunung tertinggi di dunia, Everest adalah surga sekaligus neraka bagi para pendaki dari berbagai penjuru dunia. Bagaimana tidak, ketika menjejakkan kaki di area tersebut, keindahan luar biasa akan terhampar di hadapan mata. Namun, dalam waktu yang bersamaan, mereka yang memutuskan untuk memulai pendakian sudah harus siap menggadaikan nyawanya sendiri.

Jika mendengar banyak cerita, Everest menjadi kuburan bagi banyak pendaki. Namun, kengerian tersebut masih menjadi misteri sampai kamu sendiri yang harus mengalaminya. Karenanya, nyatanya walaupun terlihat sulit didaki, banyak pula para hikers yang berhasil sampai puncak dan pulang ke rumah dengan selamat.

Berbicara tentang Everest ini, ada yang namanya Khumbu Icefall atau Gletser Icefall. Tempat ini menjadi perangkap kematian yang paling terkenal di Everest. Dengan cuaca yang super dingin, mari kita ulas bagaimana para pendaki bertahan dan melalui jalur ini.

Everest yang dikenal sebagai gunung yang banyak memakan korban

Perjalanan menuju basecamp Everest [Sumber gambar]
Para petualang yang suka naik turun gunung tahu pasti risiko apa yang akan mereka hadapi, mulai dari ancaman binatang buas, hypothermia, kecelakaan di gunung, hingga hilang dan meninggal dunia. Bukan di Everest saja sih sebenarnya, di gunung manapun tidak menutup kemungkinan. Hanya saja, Everest sebagai gunung yang gagah dan berada di 29.029 kaki di atas permukaan laut, chance mengalami kecelakaan dan kematian sangat besar. Setiap tahun, hampir ada saja pendaki yang nahas nasibnya harus berakhir di gunung ini. Hingga sekarang, ada ratusan jasad abadi yang tidak bisa diambil dan dibawa pulang kepada keluarganya karena meninggal ketika mendaki.

Khumbu Icefall yang menjadi perangkap kematian Everest

Gletser Khumbu [Sumber gambar]
Salah satu tempat paling mematikan yang ada di Everest adalah Khumbu Icefall. Gletser ini adalah bagian akhir dari perjalanan menuju Everest Base Camp. Ini merupakan rute utama untuk mendaki Gunung Everest, dan salah satu yang lebih dikenal dan sering dikunjungi dari gletser Himalaya. Gletser ini tepat berada di atas base camp para pendaki. Yang membuat para pendaki was-was adalah kondisi gletser yang membuat seseorang mencoba untuk memanjat lautan es yang bergerak beberapa kali. Di samping itu, perjalanan menuju camp satu memakan waktu 4-6 jam dengan udara super dingin. Menantang nyawa memang nih, Everest.

Gletser yang mulai mencair dan memunculkan jasad abadi

Gletser cair memunculkan jasad abadi [Sumber gambar]
Sama seperti daerah pegunungan Jaya Wijaya Papua, gletser yang ada di pegunungan Everest ini pun mulai mencair. Melansir bbc.com, sebuah studi pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa kolam di Gletser Khumbu –yang harus diseberangi pendaki untuk mengukur puncak yang dahsyat –berkembang dan bergabung karena percepatan pencairan. Tentara Nepal yang juga terpaksa harus mengeringkan Danau Imja di dekat Gunung Everest pada tahun 2016 lalu, setelah air dari hasil pencairan gletser yang cepat telah mencapai tingkat yang berbahaya. Dari gletser yang semakin menipis ini mayat-mayat mereka yang gugur di Everest mulai terlihat. Sayang, bagaimanapun caranya, orang yang meninggal di sini selamanya tidak akan bisa dibawa pulang karena biaya yang luar biasa mahal.

Mayat adalah penanda bagi pendaki lain

Pengingat untuk pendaki lain [Sumber gambar]
Semua mayat yang ditemukan di wilayah gletser Khumbu, dekat puncak, atau camp adalah pertanda dan peringatan untuk pendaki lain agar tetap waspada. Melihat setiap orang yang meninggal di sana tentu membuat para pendaki lebih hati-hati, atau memikirkan ulang niat untuk menaklukkan Everest karena medannya yang sangat sulit. Pendaki-pendaki ini pun sebelum pergi sudah berpesan bahwa mereka lebih senang jasadnya dibiarkan jika meninggal di sana. Kecuali jika memang ada pesan dari keluarga untuk membawa mereka pulang.

BACA JUGA: Bukan Tak Berperikemanusiaan, Ini Mengapa Jasad Abadi di Everest Dibiarkan Begitu Saja

Everest adalah gunung yang menjadi saksi terenggutnya banyak nyawa. Namun, menaiki gunung inipun sudah diperingati sebelumnya bahwa mereka harus siap kehilangan nyawa selama dalam perjalanan. Selain biaya yang mahal, tempat-tempat berbahaya, setiap pendaki Everest juga harus memiliki pengalaman dan sertifikat sudah selesai mendaki 6 puncak lain yang dinobatkan sebagai puncak tertinggi di dunia.