Sudah berhari-hari media sosial diramaikan dengan peristiwa orang yang menghambur-hamburkan uang dari lantai dua rumahnya. Bahkan, uang yang disebarkan itu enggak hanya seribu atau dua ribu aja nih Sahabat Boombastis. Tapi pecahan 20ribu hingga 50ribu. Jadi tak heran, semua warga desa ikut berebut. Padahal awalnya, penghamburan uang itu hanya berlaku untuk anak-anak.

Kejadian yang diunggah oleh akun facebook Yuni Rusmini ini, mulanya diberitakan jika peristiwa tersebut berasal dari Probolinggo. Namun, menurut keterangan Seputar Indonesia, kalau fenomena yang jadi buah bibir masyarakat ini faktanya terjadi di Sidoarjo. Nah, usut punya usut, penghambur uang yang ternyata berprofesi sebagai pedagang bakso tersebut bukan karena ingin viral Sahabat Boombastis, melainkan sedang melaksanakan tradisi. Wah, tradisi apa tuh?

Namanya adalah udik-udikan

Melanjutkan paragraf sebelumnya, kalau Majid, sang pedagang bakso tidak sedang ingin menyombongkan diri. Tetapi lebih kepada melaksanakan tradisi di desa tempat tinggalnya sejak dulu.

Bikin heboooh tetangga Dan masyarakat sekitar .Sebuah keluarga nyebar uang dari atas rumahnya

Posted by Yuni Rusmini on Wednesday, 2 January 2019

Nama dari tradisi yang sedang dijalankan adalah udik-udikan. Yap, udik-udikan adalah sebuah tradisi di mana orang-orang meluapkan rasa syukurnya. Jadi orang-orang tersebut akan memberikan sedikit rezekinya kepada tetangga sekitarnya.

Jadi kebiasaan warga Desa Kepatihan, Sidoarjo

Di Desa Kepatihan, Sidoarjo, udik-udikan sudah sejak lama dilakukan oleh warga kampung. Pernyataan ini pun juga diamini oleh Untung, warga sekaligus tetangga dari Majid.

Sudah jadi tradisi di Desa Kepatihan [Sumber Gambar]
Ia menuturkan, bagi siapa saja yang baru selesai membangun atau membeli rumah, maka orang tersebut akan melakukan selamatan. Nah, salah satunya adalah dengan melakukan udik-udikan ini. Maka dari itu, kalau udik-udikan tidak dilaksanakan, rasanya seperti kurang afdol.

Tapi ada syarat untuk melakukan udik-udikan

Melihat ulasan di atas, tradisi ini kemungkinan besar hanya bisa dilakukan oleh orang berekonomi tinggi. Ya jelas saja, yang dihambur-hamburkan adalah uang asli bukan mainan. Nah, poin ini juga penting untuk diperhatikan sebelum melaksanakan udik-udikan.

Udik-udikan tidak harus dilakukan [Sumber Gambar]
Tradisi yang pastinya disenangi dari anak kecil hingga lansia tersebut tidak diwajibkan bagi semua orang kok. Jika orang tersebut mempunyai rezeki lebih, maka udik-udikan dapat dilakukan. Intinya, tradisi ini tidak memaksakan semua orang untuk menghamburkan uang.

Udik-udikan bisa dilakukan dalam bentuk lain

Dari tradisi ini menimbulkan satu pertanyaan. Apa udik-udikan hanya bisa dilakukan dengan cara menghamburkan uang? Jawabannya adalah tidak. Sebab, menurut Muari selaku warga Desa Kepatihan Sidoarjo, udik-udikan bisa dilakukan dengan cara lain.

Bisa dengan berbagi jajanan pasar [Sumber Gambar]
Misalnya dengan menghambur-hamburkan jajanan pasar atau coklat. Jadi bagi yang mau melakukan tradisi tersebut, enggak perlu mengeluarkan kocek sampai kantong jebol.

Tradisi juga dilakukan di daerah lain

Kalau Sahabat Boombastis berpikiran jika kebiasaan ini hanya dilakukan di Sidoarjo, sebaiknya buang jauh-jauh deh pernyataan tersebut. Dikarenakan udik-udikan juga banyak dilakukan di daerah-daerah lain. Contohnya seperti Kabupaten Demak yang mengadakan udik-udikan ketika ada bayi akan lahir.

Dilakukan di beberapa tempat [Sumber Gambar]
Lalu ada lagi Gresik yang melaksanakan tradisi ini saat ada acara sedekah bumi alias panen raya. Terakhir, Pekalongan yang sudah melakukan kebiasaan ini secara turun temurun ketika ada cukuran bayi atau aqiqah. Tapi bedanya, di Pekalongan ini lebih dikenal dengan sebutan Lolakloce.

BACA JUGA : Heboh Orang Kaya di Probolinggo Bagi-bagi Duit dari Atap Rumahnya, Siapakah Jutawan Tersebut?

Cukup menarik memang tradisi satu ini. Di mana orang-orang yang sedang mendapatkan rezeki akan membagikan uang atau jajan untuk dihamburkan kepada tetangga sekitar. Ini membuktikan kalau Indonesia mempunya ragam budaya yang sangat banyak. Kalau di daerah kalian, ada enggak tradisi serupa?