Jumlah jamaah haji yang semakin bertambah dari tahun ke tahun, membuat pemerintah Arab Saudi menyikapi hal tersebut secara aktif agar mereka bisa tetap beribadah dengan nyaman. Selain lewat pembangunan dan perluasan untuk menampung jumlah jamaah yang semakin besar, negeri penghasil minyak itu juga mulai mengaplikasikan teknologi di dalamnya.

Tak hanya membantu kelancaran ibadah dan memberikan kenyamanan jamaah yang ada, tapi juga meningkatkan efisiensi pekerjaan yang dinilai semakin kompleks. Terlebih, menangani pengunjung dari berbagai belahan dunia yang berkumpul di Masjidil Haram, tentu bukan sebuah perkara yang mudah. Lantas, seperti apa rupa teknologi canggih tersebut?

Teknologi Smart Waste System yang mampu mengelola 4.000 ton sampah

Selama musim haji, sampah adalah salah satu hal yang tak terlewatkan untuk diatasi. Salah-salah, hal yang tampak sepele ini bisa mengganggu kenyamanan para jamaah yang ada. Untuk itu, pemerintah Makkah pun mulai menggunakan teknologi yang bernama “Smart Waste System”.

Teknologi Smart Waste System yang digunakan untuk kendalikan sampah di musim haji [sumber gambar]
Dilansir dari liputan6.com, Teknologi Sistem Pengelolaan Sampah Cerdas yang dioperasikan secara digital dan aplikasi gadget tersebut, mampu angkut 4.000 Ton Sampah. Sementara itu, Sampah yang dikelola oleh Pemerintah Kota Makkah meliputi area Makkah Haram, area Mina, Muzdalifa dan Arafat.

Gunakan kecerdasan buatan untuk menghitung jumlah jamaah saat tawaf

Tak hanya urusan sampah, soal ibadah pun tak luput dari pengaplikasian teknologi canggih. Laman dream.co.id menuliskan, Masjidil Haram akan memasang teknologi baru di atap Al-Masaa untuk memastikan kelancaran lalu lintas halaman mataf. Fares bin Fayez Mulla yang merupakan Direktur Manajemen Massa Masjidil Haram mengatakan, program tersebut digunakan untuk mengawasi dan memberikan keamanan, serta kenyamanan jemaah.

Ilustrasi analisa saat tawaf [sumber gambar]
Salah seorang pakar perhitungan massa dalam jumlah besar, Akram Jan mengatakan, perhitungan kerapatan dan kerumunan jamaah di halaman mataf dapat ditangani dengan menerapkan perhitungan kuadrat, yaitu daerah virtual digital dengan perhitungan manusia yang spesifik. Jika diisi, mereka akan menunjukkan kepadatan tertentu. Metode semacam ini ternyata telah digunakan di negara-negara Eropa untuk menunjukkan tingkat banyaknya manusia dalam jumlah yang besar.

Gunakan marmer langka yang menjadi rahasia di balik sejuknya lantai Masjidil Haram

Sebagai negara yang beriklim panas dan berdebu, pemerintah Arab Saudi ternyata mampu memberikan kenyamanan pada jamaah haji dengan lantai-lantai Masjidil Haram yang tetap bersuhu dingin. Tentu saja, hal ini tak lepas dari teknologi canggih di baliknya yang jarang disadari oleh kebanyakan orang. Alhasil, jamaah kerap merasakan kesejukan saat kaki menyentuh lantai marmer Masjidil Haram dan sekitar Kabah di Kota Mekah.

Gunakan jenis marmer khusus yang diimpor dari Yunani [sumber gambar]
Menurut Kantor General Presidency untuk Urusan Dua Masjid Suci kepada Al Arabiya yang dikutip dari tekno.tempo.co mengatakan, hawa dingin ini berasal dari penggunaan marmer langka Thassos dari Yunani yang dapat memantulkan sinar matahari dan memadamkan hawa panas sepanjang hari. Selain itu, serangkaian pipa yang dialiri air dingin yang terletak di bawah lantai marmer juga menjadi sumber dari kesejukan yang ada.

BACA JUGA: Mengintip Penjara Mewah Arab Saudi yang Malah Bikin Betah Para Tahanan di Sana

Kecanggihan teknologi memang sanggup memudahkan pekerjaan manusia modern yang semakin kompleks. Seperti apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi di atas, pengelolaan Masjidil Haram dengan teknologi patut mendapat apresiasi karena telah memberikan kenyamanan bagi para jamaah yang hadir. Keren ya Sahabat Boombastis?