Saya masih tidak tahu ada apa dengan anak muda zaman sekarang, tapi bisa dibilang kelakuannya memang bikin ngelus dada. Berkali-kali pun dilakukan penelitian, sejatinya tidak ada sama sekali korelasinya antara micin dengan kebodohan. Ya tapi mau bagaimana lagi, kalau melihat realita, melihat kelakuan mereka, mau dihina takut dosa, disanjung pun gak ada manfaatnya. Bukan berarti mau mengatakan generasi sebelumnya lebih baik ya, tapi cuma prihatin jika keadaan seperti ini dilakukan terus-terusan.

Contoh perbedaan paling ketara dari kedua generasi ini adalah masalah sopan santun. Sebutlah generasi sebelumnya sebagai “Generasi Yodium” (ada gizinya) sebagai pembeda dengan “Generasi Micin”-nya Kids Zaman Now. Nah, para generasi Yodium ini sangat menjunjung tinggi masalah sopan santun, terutama kepada guru. Ya, dulu kalau kita salah, pasti bakal dapat hukuman berat menimpa. Mulai disetrap dengan satu kaki ( level easy), hingga gamparan yang bakal melayang di wajah. Namun apa ya kita membalas? Tidak toh, kita sadar kalau memang wajar dapat hukuman, ya karena memang salah. Selain itu juga bentuk sopan santun kita sebagai murid.

Murid zaman dulu [image source]
Nah, kalau pada generasi micin ini sepertinya zaman sudah berubah. Kalau anak salah dan guru mengingatkan dalam bentuk verbal atau jeweran kecil, maka justru para pengajar itulah yang salah. Bahkan bisa berujung pidana, mulai dari kekerasan pada anak, perbuatan tidak menyenangkan, bahkan tindak pembunuhan berencana, pokoknya pasal berlapis dah kalau si murid mau menuliskan laporan. Ya, mau bagaimana lagi keadaan sudah berubah, sudah gak zaman pakai kekerasan. Tapi sayang hal itu malah disalahgunakan beberapa murid untuk bertindak tidak sopan.

https://www.youtube.com/watch?v=ouKqiuG_UHg

Seperti beberapa waktu rupanya ditemukan lagi kelakuan tidak sopan para murid zaman sekarang ini di media sosial. Bayangkan saja, sudah tahu guru sedang mengajar, malah dibuat candaan oleh para murid. Nah mirisnya ketika sudah ditegur, rupanya para murid badung itu hanya cengar-cengir dengan prestasi kejahilannya. Kalau kejadian macam begini ini yang bikin susah. Mau mengingatkan dengan hukuman bakal salah, dibiarkan malah ngelunjak. Sama keadaannya saat kita nagih utang ke teman, mati langkah.

Kelakuan kurang ajar [image source]
Tak selang lama dari kejadian itu, muncul lagi kasus serupa. Ya, lagi-lagi para bocah bertindak kurang ajar pada gurunya. Di sebuah seolah berbeda, seorang anak memperagakan pose agak “nakal” di dekat gurunya. Ya, tentu, gurunya tidak menyadari kelakuan para muridnya itu. Dan lagi, foto itu diunggah di media sosial, biar tambah kekinian katanya. “Nakal namun dalam batas wajar” semboyannya.

Ya, kalau macam begini ini kita tidak mungkin meminta younglex atau awkarin yang betanggung jawab, toh bukan salah mereka. Sebenarnya hal ini adalah tanggung jawab kita bersama terutama generasi yang lebih tua untuk mengajarkan kebijaksanaan pada mereka.