Menjadi anggota KPK yang kerap membongkar pelaku korupsi tokoh publik maupun pejabat tinggi negara, tentu memiliki resiko besar bagi jajaran pegawainya. Seperti yang dilansir dari news.detik.com, rumah pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Laode M Syarif, diduga diteror dengan bom molotov oleh orang tak dikenal.

Melihat resiko di atas, sudah barang tentu anggota KPK bakal terus menerima ancaman sekaligus teror dari seseorang yang tidak senang dengan keberadaan mereka. Tak hanya itu, intimidasi pada mental secara tidak langsung juga bisa berdampak pada kinerja di lapangan. Hal-hal negatif di bawah ini, juga kemungkinan besar bakal dihadapi oleh mereka yang masih aktif menjadi anggota KPK.

Menjadi incaran orang-orang yang benci terhadap keberadaan KPK

Novel Baswedan disiram air keras [sumber gambar]
Salah satu ancaman yang biasa dialami oleh petugas KPK adalah, bentuk teror yang terkadang disertai dengan tindakan kekerasan. Salah satu contohnya adalah Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Dilansir dari megapolitan.kompas.com, ia tiba-tiba disiram air keras oleh dua pria yang mengendarai sepeda motor saat sedang berjalan menuju rumahnya setelah menjalankan shalat subuh di Masjid. Jelas sudah, para pelaku tersebut mempunyai niat buruk dan tidak senang dengan keberadaan Novel Baswedan.

Merasa was-was akan keamanan diri dan keluarga

Rumah petinggi KPK yang dilempar bom molotov [sumber gambar]
Benda diduga bom molotov, sempat meneror rumah pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Laode M Syarif beberapa waktu lalu. Hal ini menjadi indikasi, bahwa para pelaku kerap meneror para petinggi KPK yang dinilai mempunyai posisi yang strategis. Kejadian ini pun serupa dengan yang dialami oleh Novel Baswedan yang harus menerima siraman air keras pada wajahnya. Tak hanya khawatir terhadap diri sendiri, para korban teror pun juga akan mengkhawatirkan keselamatan orang-orang terdekat mereka seperti keluarga dan sana saudara.

Tekanan dalam bertugas yang bisa mempengaruhi mental

Permasalahan dalam pekerjaan bisa menjadi tantangan tersendiri bagi anggota KPK [sumber gambar]
Dalam tugasnya, Anggota KPK diharuskan membongkar berbagai kasus korupsi yang melibatkan para pejabat negara maupun tokoh publik lainnya. Karena kasus yang ditangani tergolong sensitif, kelelahan baik secara fisik dan psikis bisa saja dialami oleh para anggotanya. Bahkan, KPK juga merasa para koruptor seakan tak pernah berhenti meski sudah banyak menjerat pejabat hingga pengusaha sebagai tersangka korupsi. Seperti yang diungkapkan oleh Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M. Syarif, Ia mengakui, upaya pemberantasan korupsi yang intens membuat KPK kelelahan. “Padahal upaya KPK memberantas korupsi terus dilakukan tanpa henti. Tak jarang, penyidik atau para pegawai KPK diserang balik oleh pihak-pihak yang terusik,” tegasnya yang dikutip dari laman kpk.go.id.

Harus rela bekerja di jam-jam yang panjang

Rela bekerja dengan waktu-waktu yang tak menentu [sumber gambar]
Sebagai anggota KPK, bekerja di jam-jam yang panjang adalah salah satu resiko yang harus dihadapi. Bahkan meski memasuki bulan suci Ramadan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak akan memberlakukan pengurangan jam kerja bagi para pegawai dan penyidiknya. Dilansir dari liputan6.com, waktu waktu istirahat petugas KPK juga dikurangi. Dari yang biasanya 1 jam, menjadi setengah jam. Inilah tantangan mereka yang menjadi anggota KPK. Baik karyawan maupun anggota penyidik.

BACA JUGA: Mengenal OTT KPK yang Bikin Koruptor Kalang Kabut dan Kapok Tinggal di Indonesia

Resiko seperti teror hingga ancaman yang bersifat menakut-nakuti, merupakan sebuah hal wajar yang dialami oleh anggota KPK. Karena tugasnya yang bersifat membongkar, menangkap, sekaligus mengamankan aset negara, dinilai merupakan sebuah batu sandungan bagi pejabat kotor yang menjadikan korupsi sebagai kebiasaannya.