Kalau dulu naik gunung adalah sebuah olahraga yang hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu yang memang benar-benar hobi saja, sekarang naik gunung malah menjadi gaya hidup dan ajang pamer foto untuk mempercantik feeds Instagram atau sekadar biar dikatakan keren. Jika mau diabandingkan, jelas sekali pendakian orang-orang zaman dahulu jauh lebih sulit dari para pendaki sekarang.

Kalau kata mereka para pendaki lawas, zaman dahulu mau mendaki Semeru saja seperti mau pergi ke Raja Ampat sekarang. Susahnya minta ampun. Kira-kira bagaimana ya perjuangan mereka yang sudah menekuni dunia pendakian dari tahun 80an, atau mungkin sebelum itu? Yuk, temukan jawabannya di bawah ini.

Peralatan yang dibawa naik gunung masih sangat terbatas

Peralatan pendaki lawas [Sumber gambar]
Untuk kalian yang suka kegiatan naik turun gunung, apa saja nih peralatan yang sudah kalian punya? Sepatu dan sendal trekking? Carrier? Tenda? Jaket? Trekking pole? Kalaupun kamu belum punya, toh sekarang vendor peralatan mendaki sudah menjamur, sehingga kamu bisa menyewa dengan harga yang sangat ramah di kantong bukan? Kalau zaman dulu, jangankan punya sendiri, tempat penyewaan pun belum ada. Jadi, bukan  merupakan hal yang aneh kalau sesama pendaki hanya bisa saling pinjam peralatan daki. Karena memang mau membeli sendiri harganya sangat mahal.

Jalur pendakian yang masih sepi

Jalur pendakian yang dulu masih sepi [Sumber gambar]
Dulu sekali, naik gunung bukanlah hobi yang keren. Orang yang sering naik turun gunung pun tak pernah disebut sebagai traveller atau pendaki sejati –seperti istilah anak zaman sekarang. Mereka yang remaja di tahun 80an atau 90an cukup berpikir lagi dan lagi sebelum memutuskan pergi ke gunung. Ya, karena orang lebih memilih menghabiskan liburan dengan bermain gitar, pergi ngopi bareng teman, atau sekadar nongkrong. Jadi, saat ke gunung tidak akan bertemu dengan banyak orang. Jalur yang dilalui pun masih semak-semak, bukan jalan yang lantang seperti para pendaki temukan sekarang. Orang yang suka naik gunung zaman dulu memang menemukan ketenangan yang sesungguhnya.

Enggak ada selfie apalagi unggah foto di media sosial

Berfoto bareng [Sumber gambar]
Sekarang, pendaki mana sih yang bisa naik gunung tanpa mengunggah potret dirinya dari awal naik hingga sampai di puncak? Enggak ada. Kecanggihan smartphone dan keberadaan media sosial sangat membantu mereka mengabadikan foto dalam bentuk digital, tak perlu dicetak seperti para pendaki jadul. Dulu mah, enggak ada selfie-selfiean, sayang dengan roll film yang jumlahnya hanya ada 36 dan mahal pula. Dari banyak foto pendakian jadul yang sekarang tersebar di Instagram, mereka pasti selalu foto berkelompok –dengan gaya yang kaku. Setelahnya, apapun hasilnya, foto-foto itu dicetak dan dimasukkan album. Bahkan, ada yang sering naik-turun gunung tapi tak punya satupun foto kenangan.

Sumber informasi hanya berasal dari teman ke teman

Sumber informasi adalah teman yang sudah pernah mendaki [Sumber gambar]
Perjuangan belum berakhir, keterbatas informasi juga menjadi kendala lain. selain susahnya mencari tempat meminjam peralatan, pengetahuan tentang apa saja yang ada di gunung hanya bisa didapat dari teman yang sudah pernah melakukan pendakian. Enggak heran jika kemudian mereka punya informasi mengenai teman mendaki, alamat asal, nomor telefon (kalau ada) dalam buku catatan. Selain itu, jika kemudian bertemu dengan pendaki lain, maka langsung berkenalan dan membuat rencana jika mungkin mau mendaki bareng suatu saat. Satu-satunya jalan adalah kopdar (kopi darat) untuk membuat kesepakatan.

Kendaraan menuju gunung tujuan masih sangat susah

Biasanya menumpang mobil bak terbuka [Sumber gambar]
Sekarang sudah banyak sekali agen perjalanan, guide yang menawarkan jasa menemani naik gunung beserta penjemputan kepada calon pendaki, zaman dulu? Satu-satunya cara mewah untuk mereka yang punya budget lebih adalah naik bus. Bagi yang enggak punya uang lebih, mereka lebih memilih menumpang mobil degan bak terbuka ( pick-up) dengan menghafalkan plat kendaraan menuju tempat-tempat tertentu. Jika memang tidak mendapatkan tumpangan, maka ya harus rela jalan kaki berkilometer.

BACA JUGA: 5 Tingkah Pendaki Gunung Yang Berakibat Fatal Bagi Kehidupan Dunia

Duh, membayangkan enggak bagaimana serba kesusahannya para pendaki jadul? Bersyukur deh kalian yang sekarang suka naik gunung, semua kemudahan bisa kamu dapatkan. Untuk membeli peralatan ya tinggal nabung, tidak punya teman tinggal posting instastory, tak bisa menabung bisa patungan sewa peralatan dengan teman. Intinya, naik gunung sekarang semudah membeli jajan, lah.