Siapapun kamu, pasti setidaknya pernah mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal. Alhasil, karena takut itu panggilan penting dari keluarga atau teman yang mendesak, kamu mengangkat telepon yang berdering. Sayangnya, setelah membalas dengan kata ‘halo, iya ini siapa ya?’, dari seberang terdengar suara ramah nan santun yang memanggil dengan sebutan mbak, mas, bapak atau ibu.

Yap, mereka melanjutkan lagi dengan menawarkan jasa kredit ini itu, uang pinjaman, asuransi kesehatan, serta banyak lagi jenis jasa lain. Mereka adalah telemarketer, seorang yang bekerja tanpa henti membujuk para nasabah dan customer untuk ikut program atau jasa yang mereka tawarkan. Meskipun begitu, tak jarang para penjajak produk ini mendapat penolakan (entah itu secara baik-baik atau kasar). Ah, andai kalian tau bagaimana sulitnya menjadi seorang telemarketer ya.

Penolakan adalah makanan sehari-hari

Setiap kita pasti pernah jengah kalau dihubungi oleh telemarketer, apalagi kalau mood sedang tidak bagus. Bagi mereka yang memiliki perasaan ‘tidak-enakan’, sudah pasti tidak akan terus meladeni apa yang diucapkan oleh para telemarketer, sambil mencari cara dan alasan bagaimana mengakhiri percakapan tersebut.

Seorang telemarketer [Sumber gambar]
Bagi yang sudah merasa bosan tapi terus menerus dirayu, tak jarang kalau mereka emosi dan berujung dengan penolakan dan marah-marah. Dua hal ini, bagi para telemarketer adalah hal biasa, karena risiko pekerjaan, jelas mereka mengalami hal tersebut layaknya ‘makan siang’.

Harus ekstra sabar menghadapi nasabah yang bermacam-macam karakter

Dari panjang lebar penjelasan yang diberikan telemarketer, sebenarnya yang ingin mereka dapatkan hanyalah kata ‘oke deh, saya mau’ atau ‘iya, saya setuju untuk ikut program itu’. Sayang, semua tidak seperti yang dibayangkan. Menurut salah satu pernyataan telemarketer melansir Vice.com, setiap hari ada sekitar 130 orang lebih yang harus dihubungi.

Harus sabar dan selalu ramah [Sumber gambar]
Mereka yang aktif, melayani, dan mengangkat telepon ada berkisar 50-60 orang saja. Karakter setiap orang tentu berbeda, apapun yang mereka lakukan, sebagai penawar jasa yang baik para telemarketer ini harus sering-sering elus dada dan bersabar.

Dituntut untuk selalu professional sekalipun kondisi hati sedang tidak baik

Berbicara lancar bak tanpa titik koma ini bukan didapat begitu saja, para telemarketer ini sudah melalui proses pelatihan terlebih dahulu. Mereka training kurang lebih dua minggu sampai satu bulan. Lalu, mendengarkan para senior yang sudah terlatih, mulai dari nada berbicara, temponya, hingga mungkin cara penawaran agar konsumen tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut.

Harus profesional [Sumber gambar]
Nah, sekarang masalahnya untuk bekerja di sana juga dibutuhkan tingkat profesioalitas yang tinggi. Yang Namanya telemarketer, apapun masalah yang sedang dihadapi tak boleh mempengaruhi pekerjaan. Meski sedang galau, kena musibah, putus cinta, saat menelepon customer, suara tetap harus seperti kamu baik-baik saja.

Kadang ada nasabah yang sengaja berbuat jahil

Suka duka menjadi seorang telemarketer tak hanya harus sabar dan ramah saja, tetapi juga terkadang ada yang sengaja berbuat usil. Karena transaksi ini melalui sambungan telepon, kadang ada yang salah menyebut nama, mengira sang penelepon adalah perempuan –padahal sebenarnya laki-laki, atau bahkan mengajak bermain-main.

Para pekerja telemarketer [Sumber gambar]
Salah satu pekerja bernama Nay mengatakan bahwa ada customer yang sengaja menggoda dengan bertanya ‘mbak, masih jomblo?’ atau ‘mbak, gimana sekarang kabarnya?’. Yang lebih lucu lagi, ada bapak-bapak yang awalnya sudah deal mengatakan ‘ya’, tetapi saat ditelepon lagi, iya malah mengatakan tidak, karena sudah diancam dan takut kepada istrinya.

BACA JUGA: Sedot WC, Pekerjaan Super Berat Berpendapatan Murah yang Tak Semua Orang Mau Melakukannya

Apakah kamu salah satu sosok yang suka bete jika mendapat telepon dari telemarketer yang menawarkan jasa tertentu? Jika ia, mulai sekarang kamu bisa menolak secara halus dengan mengatakan ‘maaf’ di awal. Jangan membiarkan mbak atau mas-nya ngomong hingga berbusa-busa, seolah memberi harapan, pada akhirnya menolak. Mereka juga punya target berapa pelanggan yang harus ditelepon dalam sehari. Jadi telemarketer itu berat juga ya, ternyata?