Tak dapat dipungkiri kalau sepak bola memang menjadi sebuah olahraga yang bisa menyatukan bangsa. Bagaimana tidak, pasalnya ketika tim kesayangan sedang berlaga, tak peduli agama atau ras manapun saling bersatu mendukung jagoannya. Jadi bukan hal yang aneh kalau olahraga yang satu ini lebih dicintai ketimbang yang lainnya.

Bicara soal sepak bola, meskipun jadi olahraga yang diidolakan oleh orang Indonesia, namun ternyata cabang satu ini juga sempat dirundung masalah pelik. Bahkan sampai pernah harus dibekukan sementara oleh dewan internasional. Lalu kasus pahit apa yang sempat menimpa sepak bola tanah air itu? Simak ulasan berikut ini.

Nunggak bayar gaji pemain asing, kasus paling sering ditemui

Gaji pemain nunggak [sumber gambar]
Tepat pada hari ulang tahun ke-88 PSSI pada 19 April 2018 lalu, di saat yang bersamaan pula sanksi diterima dari FIFA. Hal ini terjadi lantaran PSSI dianggap melanggar Kode Disiplin FIFA, yakni penunggakan gaji pemain asing yang dilakukan oleh beberapa klub Indonesia. Adapun sanksi yang diberikan yakni denda sebesar 30 ribu franc (kurang lebih Rp. 423 juta). Tentu hal ini sempat mencoreng nama baik Indonesia, mengingat hal serupa pun sering terjadi pada beberapa pemain di klub. Intinya jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali.

Pembekuan PSSI, ikut campurnya pemerintah dalam olahraga

Pembekuan PSSI [sumber gambar]
Pembekuan PSSI oleh Kemenpora pada tanggal 17 April 2015 lalu, mungkin menjadi sanksi terparah yang pernah didapatkan sepakbola Indonesia. Bagaimana tidak, hal ini berdampak pada keputusan FIFA yang akan memberikan sanksi pada Indonesia. FIFA baru ‘mau’ mencabut sanksinya apabila Kemenpora sendiri telah mencabut hukumannya atas pembekuan aktivitas PSSI. Hingga akhirnya, Menpora Imam Nahrawi menandatangani Surat Keputusan (SK) pencabutan pembekuan PSSI pada tanggal 10 Mei 2016, dan disusul dicabutnya sanksi dari FIFA pada acara kongres ke-66 FIFA di Meksiko 3 hari setelahnya.

Dualisme kompetisi, sisi kelam sepak bola tanah air

Dualisme kompetisi [sumber gambar]
Dualisme kompetisi sempat terjadi di dunia sepakbola Indonesia pada tahun 2011-2012. Pada saat itu, Indonesia memiliki 2 kompetisi berbeda, yakni Indonesia Super League (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL). Dualisme kompetisi ini juga menyebabkan terjadinya dualisme klub, dimana klub dengan nama yang sama tampil di dua kompetisi yang berbeda. Semisal Persija Jakarta, Arema, Persebaya, PSMS Medan, dan Gresik United. Indonesia Super League yang dihuni oleh klub-klub top lokal cenderung diminati oleh publik. Namun demikian, eksistensi liga tersebut tidak diakui baik oleh AFC maupun FIFA.

Mafia wasit Liga Indonesia, luka yang jangan sampai terulang

Mafia wasit [sumber gambar]
Kasus mafia wasit terjadi di Liga Indonesia tahun 1998, melibatkan salah satu wasit FIFA yang dimiliki Indonesia, yang sekaligus menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Wasit PSSI dikala itu, (Alm) Djafar Umar. Dia terbukti terlibat dalam kasus pengaturan skor di Liga Indonesia pada tahun itu bersama dengan 40 orang wasit lainnya yang bertugas di lapangan. Djafar Umar dihukum seumur hidup tidak boleh terlibat di dalam sepak bola nasional. Tidak hanya dicopot dari jabatannya, lisensi perwasitannya pun juga dicabut oleh FIFA.

Sepakbola gajah, niat saling bunuh diri

Ilustrasi sepak bola gajah [sumber gambar]
Kasus sepakbola gajah ini terjadi pada Piala Tiger tahun 1998 saat Indonesia berhadapan dengan Thailand. Meskipun kedua tim sudah memastikan diri untuk lolos ke semifinal, bukannya saling mengalahkan lawan, justru kedua tim malah saling mengalahkan “diri sendiri”. Hal ini disinyalir karena pemenang dari pertandingan tersebut, akan berhadapan dengan Vietnam, yang mana pada saat itu menjadi tuan rumah. Baik tim Indonesia maupun Thailand menganggap bahwa bertandang melawan Vietnam sama saja dengan bunuh diri di dalam kandang singa. Tentu hal ini mencoreng sportivitas sepak bola yang seharusnya bersaing untuk jadi juara. Akhirnya FIFA pun dibuat geram dengan aksi dua tim ini.

BACA JUGA: Tidak Banyak Diketahui, Ternyata Begini Cara Bandar Melakukan Pengaturan Skor

Kasus-kasus di atas pernah membuat organisasi dunia marah kepada Indonesia. Untungnya sekarang sudah aman, walaupun belakangan muncul lagi kasus match fixing yang bisa berpotensi membuat sepak bola kita lumpuh lagi. Marilah sama-sama berkaca, jangan lagi membuat sepak bola kita jadi merana seperti yang sudah pernah terjadi.