Setelah sempat heboh dengan rencana dibangunnya Sirkuit Mandalika untuk mengakomodasi lomba MotoGP 2021, Surabaya patut berbangga karena telah memilii lintasan balap sendiri. Dikutip dari sportku.com, arena yang bernama Sirkuit Bung Tomo tersebut, telah berhasil dibangun meski beberapa masih memerlukan pengerjaan dan pembenahan lebih lanjut.

Menelan dana pembangunan yang lumayan besar, keberadaan Sirkuit Bung Tomo Diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan para pebalap, baik sepeda motor maupun mobil yang ingin adu cepat di arena yang resmi. Meski demikian, lintasan tersebut ternyata masih dinilai berbahaya bagi para pebalap. Lantas, seperti apa wajah dari Sirkuit Bung Tomo tersebut?

Arena berlabel internasional yang dibangun dengan biaya ratusan milyar rupiah

Meski pengerjaanya belum 100 persen selesai, area balap tersebut menyandang nama resmi sebagai Bung Tomo International Circuit atau sirkuit yang bertaraf internasional. Dikutip dari sportku.com, aspal untuk balap Sirkuit Bung Tomo secara fisik memang sudah terlihat selesai dikerjakan dan siap untuk digunakan.

Sirkuit Gelora Bung Tomo [sumber gambar]
Meski demikian, lintasan yang diklaim menelan biaya pembangunan sebesar Rp 150 miliar tersebut, masih memiliki beberapa hal yang masih harus dibenahi, seperti pengurukan area luar sirkuit, sarana paddock maupun berbagai kelengkapan fasilitas lainnya. Bahkan yang menjadi sorotan, Sirkuit Bung Tomo cukup berbahaya bagi para pebalap. Utamanya di area gravel.

Kondisi lintasan yang masih dianggap berbahaya bagi pebalap

Dikutip dari sportku.com, Gravel memang dianggap berbahaya bagi para pebalap. “Kalau sirkuit dari segi aspal dan lay out sudah bagus, cuma kekurangannya di gravel saja. Gravelnya justru balik arah (tidak searah laju balap), jadi kalau pebalap jatuh bisa nyangkut di gravel tersebut,” jelas Fitriansyah Kete yang merupakan pebalap nasional. Tak hanya itu, sirkuit yang permanen tersebut juga terkesan sepi peminat karena beberapa hal.

Lintasan yang dianggap masih berbahaya [sumber gambar]
Salah satunya adalah kurangnya fasilitas pendukung dan pengelolaan sirkuit, yang dianggap belum memenuhi harapan penggiat balapan motor dan mobil. Salah satunya adalah persoalan chicane berwarna merah dan putih di tepi kanan atau kiri jalur lintasan dalam kondisi terbalik. “Kebalik kalau arah putarannya searah jarum jam, jadi seharusnya landai dari arah tikungan racing line. Kalau ini tidak, justru runcingnya yang mengarah ke racing line kalau kena dengkul yang seakan seperti kena pasah (besi tajam),” ujar Mamad yang merupakan pengurus dari Komunitas Cornering Indonesia Surabaya (Coins),

Lintasan balap yang hadir berkat inisiasi Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini

Keberadaan Sirkuit Bung Tomo, tak lepas dari peran Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang menginisiasi pembangunannya setelah banyak jatuhnya korban akibat kegiatan balap liar di jalanan. “Paling tidak diwadahi, biar tidak merugikan orang lain, sehingga mereka tidak lagi balap liar di jalan, itu sangat membahayakan,” ujar Kabag Humas Pemkot, Muhammad Fikser yang dikutip dari jatim.idntimes.com.

Dibangun atas inisasi Tri Rismaharini [sumber gambar]
Secara fisik, Sirkuit Bung Tomo memiliki panjang lintasan sekitar 1,2 kilometer. Rinciannya, sekitar 400 meter merupakan trek lurus, dan dilengkapi dengan 9 tikungan dengan 6 ke kanan dan 3 ke kiri. Tak hanya digunakan untuk ajang balap road race, lintasan tersebut juga bisa untuk menyelenggarakan pertandingan lainnya seperti drag bike maupun drag race (mobil).

BACA JUGA: Bedah Sirkuit Mandalika, Litasan di Wilayah Timur Indonesia yang Akan Helat MotoGP 2021

Dengan hadirnya Sirkuit Gelora Bung Tomo, keberadaan lintasan tersebut diharapkan mampu mewadahi para pegiat balap, baik sepeda motor dan mobil untuk menyalurkan kepiawaiannya di sana. Meski masih memerlukan pembenahan lebih lanjut, Sirkuit Bung Tomo juga bisa mewadai para pebalap liar agar tak lagi ngebut di jalanan umum. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?