in

5 Fakta Santri Gontor yang Meninggal karena Penganiayaan di Pesantren

Bullying dan penganiayaan di sekolah kembali menjadi sorotan karena memakan korban. Korban kali ini adalah seorang santri di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor 1 (Pusat), Ponorogo. Jenazah Albar Mahdi (santri kelas 5i atau setara kelas XI SMA) dipulangkan ke kota asalnya di Palembang dalam keadaan yang mengenaskan akibat penganiayaan yang dilakukan oleh kakak kelasnya.

Kabar kematian ini membuat kelurga sangat terpukul. Sebelumnya, Ibu korban mengatakan kalau anaknya dalam keadaan sehat. Namun, pada hari Senin, 22 Agustus 2022, pukul 10.20 pagi, keluarga Albar dikabarkan dengan kabar bahwa santri tersebut sudah meninggal dunia di pondok pesantren.

Pengakuan pihak pesantren mengenai penyebab kematian Albar

Jenazah Albar Mahdi tiba di kediamannya di Palembang 1 hari setelahnya, pada 23 Agustus siang. Jenazah tersebut sudah dibungkus kain kafan dan berada di dalam keranda, diantar oleh perwakilan pondok, Ustadz Agus. Ustadz tersebut mengatakan jika Albar meninggal karena terjatuh dan kelelahan setelah Perkemahan Kamis Jumat (Perkajum).

Albar Mahdi yang meninggal di pesantren [sumber gambar]
Sang ibu, Soimah tidak curiga karena memang mengetahui bahwa Albar merupakan ketua Perkajum. Namun, perasaan itu mendadak sirna setelah ia mengetahui kondisi jenazah sang putra yang bersimbah darah.

Jenazah yang penuh lebam dan darah tak berhenti mengalir

Saat kain kafan dibuka oleh Soimah, perasaan leganya hilang seketika. Seperti ada hal yang ganjil terkait dengan kematian Albar Mahdi. Pasalnya, darah mengalir tak berhenti dari jenazah Albar. Kain kafan tersebut sudah diganti sebanyak dua kali, tetapi masih meninggalkan bercak merah darah.

Jenazah Albar yang disolatkan di pesantren [sumber gambar]
Selain itu, bagian dada Albar juga lebam seperti terkena pukulan benda tumpul. Keluarga yang mengetahui tersebut merasa bahwa penyebab kematiannya bukan karena terjatuh. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh rekan sesama wali santri.

Pihak pondok berterus terang karena didesak oleh ibunda Albar

Setelah mengetahui keadaan anaknya, Soimah akhirnya mendesak pihak pondok Gontor 1 dan mengusut penyebab kematian Albar. Akhirnya, pihak pondok mengatakan bahwa Albar Mahdi meninggal karena kekerasan dan penganiayaan oleh kakak kelasnya. Albar dipukuli (bersama dengan dua orang santri lain) karena mengembalikan alat kemah yang kurang lengkap. “Saya tidak bisa membendung rasa penyesalan telah menitipkan anak saya di sebuah pondok pesantren yang notabene nomor satu di Indonesia,” ucap Soimah pilu.

Orang Tua Albar Mahdi [sumber gambar]
Akhirnya, jenazah yang awalnya ingin diautopsi oleh keluarga diurungkan. Hal itu karena jenazah sudah lebih sehari dalam perjalanan, Soimah tidak sanggup melihat jasad anaknya ‘diobrak-abrik’ oleh pihak forensik. Jenazah Albar akhirnya langsung dimakamkan. Namun, Soimah mengajukan surat terbuka ingin menemui Kyai Gontor 1.

Kasus yang akhirnya sampai ke Hotman Paris

Merasa harus tetap mencari keadilan atas kematian putra tercinta, ibu Albar Mahdi –yang notabenenya memang seorang wartawati—berkesempatan menemui Hotman Paris Hutapea. Hotman Paris kebetulan datang ke Palembang untuk sebuah urusan pada Minggu (4/9) lalu. Soimah kemudian menceritakan apa yang dialami oleh putranya dengan sesenggukan.

Aduan tersebut kemudian diposting oleh Hotman Paris di media sosial miliknya. Dari postingan inilah perlahan kasus ini mendapat atensi publik. Banyak netizen yang mengecam pondok pesantren yang tidak menjelasaskan dengan rinci penyebab kematian, bahkan menutup-nutupi perkara bahwa Albar meninggal karena penganiayaan.

Pelaku penganiayaan dikeluarkan dari pondok pesantren

Melansir dari okezone.com, juru bicara pondok pesantren Gontor 1, Noor Syahid mengatakan bahwa santri yang terlibat dikenakan sanksi berat berupa dikeluarkan dari pondok pesantren secara permanen. Mereka juga langsung diantarkan kepada kedua orang tuanya. Pihak pondok pesantren juga siap melakukan berbagai upaya untuk menegakkan hukum terhadap kasus penganiayaan ini.

Autopsi jenazah Albar Mahdi [sumber gambar]
Saat ini, pihak dari pesantren juga masih terus melakukan komunikasi dengan pihak keluarga Albar Mahdi, demi kemaslahatan bersama. Dalam menangani kasus ini, tim seksi pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Ponorogo ikut melakukan investigasi lebih lanjut (didampingi oleh pihak pesantren). Jenazah Albar pun diautopsi setelah 15 hari meninggal dunia dan dikuburkan.

BACA JUGA: Bukan Kali Pertama, 4 Kasus Penganiayaan Santri Ini Juga Berakhir Menyedihkan

Tidak hanya pihak keluarga besar saja yang merasa terpukul dan kehilangan sosok Albar Mahdi. Banyak netizen yang turut mengucapkan bela sungkawa. Kejadian ini sama sekali tak terduga, pasalnya Albar merupakan anak baik-baik dan berprestasi. Bahkan, ia bersekolah di Pondok Pesantren Gontor 1 dengan beasiswa. Bisa lulus dan sampai di pesantren pusat adalah hal yang cukup susah. Semoga almarhum tenang di alam sana dan diterima semua amal kebajikannya.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Pernah Dikira Tukang Parkir, Ini 10 Momen Kesederhanaan Duta Sheila on 7

Ratu Elizabeth II Meninggal di Usia 96 Tahun, Ini Fakta Pemakaman hingga Penerus Takhta