Banyak orang di luar sana yang berhasil meraih kesuksesan meski dirinya memiliki keterbatasan. Seperti sosok Qamaruzzaman, seorang petani buah difabel di Lamongan, Jawa Timur. Keterbatasan fisik yang dialami oleh dirinya, tak menghalangi Qamar-panggilan akrab dirinya, untuk membudidayakan melon Golden Apolo di Desa Sendangharjo, Lamongan, Jawa Timur.

Kegigihan dan perjuangannya yang inspiratif, mengundang decak kagum bagi siapa saja. Bahkan, tokoh sekelas Menteri pun menyatakan salut dan terharu atas kiprahnya berani melon hingga sukses. Tapi jangan salah. Semua kesuksesan yang berhasil diraih oleh Qamar, juga harus dilalui dengan jalan terjal dan berliku. Kisahnya di bawah ini, jadi bukti bahwa keterbatasan yang dimiliki bukanlah alasan untuk menyerah dan kalah terhadap nasib.

Sosok yang tak kenal kata menyerah dan giat berusaha

Keterbatasan secara fisik yang dialami oleh Qamar, tak menjadikan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Justru dari kekurangan tersebut, ia berusaha ekstra keras meraih jalan suksesnya sendiri. Qamar sendiri pernah menolak saat akan disekolahkan di lembaga pendidikan berkebutuhan khusus. Baginya, terlahir sebagai difabel, tanpa kedua tangan bukanlah sebuah kekurangan.

Qamar selalu merasa dirinya terlahir sempurna, hanya saja ditakdirkan tak memiliki tangan oleh Tuhan. “Saya selalu yakin, di balik kekurangan pasti ada kelebihan,” ucapnya. Berbagai profesi pun ia lakoni dengan keterbatasan yang ada. Mulai sebagai buruh penggemukan sapi milik tetangga, hingga pengupas jagung. Hingga pada akhirnya, bertani melon pun ia pilih sebagai profesi tetapnya.

Sukses bertani melon Golden Apolo hingga raup puluhan juta rupiah

Proses tanam dan panennya yang terbilang singkat, membuat Qamar tertarik menjadi petani melon. Terlebih, pangsa pasarnya pun terbilang sangat luas. Kemudia jadilah Qamar sebagai pembudidaya melon berjenis Golden Apolo. Dalam keterbatasan fisik yang dialaminya, Qamar mengerjakan profesinya itu seorang diri. Mulai dari menanam hingga panen, dilakukannya secara mandiri. Ia hanya meminta bantuan sang kakak untuk mencangkul.

Bertani di hamparan ladang yang ia sewa sebesar Rp 16 juta pertahun, Qamar dengan tekun bekerja hingga panen tiba. Harga jual melon jenis golden yang ditanamnya Rp 10 ribu per kilogram. Tiap buahnya rata-rata memiliki berat 2-3 kg. Sedangkan biaya operasional setiap pohon melon sekitar Rp 8 ribu. Omzetnya pun sebesar Rp 70 juta sekali panen.

Sempat bertemu sejumlah pejabat tinggi Indonesia

Kegigihan dan keberhasilan Qamar bertani melon, banyak mendatangkan pujian dan apresiasi pada dirinya. Tak ada lagi orang-orang yang kini berani memandang remeh dirinya. Tak hanya warga di sekitar tempat tinggalnya, kesuksesan Qamar juga terdengar nyaring hingga ke kalangan pejabat penting di Indonesia. Salah satunya adalah Menteri BUMN, Rini Soemarno yang bertemu dengan dirinya.

Bertemu Menteri BUMN dan Gus Ipul [sumber gambar]

Tak hanya Menteri BUMN, Qamar juga pernah ditemui oleh Syafullah Yusuf atau Gus Ipul, yang saaat itu menjadi Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut dua. Saking kagumnya dengan perjuangan petani difabel yang berhasil membudidayakan melon jenis golden ini, Gus Ipul meminta Qomar (panggilan akrabnya) bercerita tentang dirinya. Terutama perjuangannya menghadapi keterbatasan.

BACA JUGA: Digaji Rp 75 Juta, Pria Ini Malah Berhenti Kerja di Bank Dunia dengan Alasan yang Mengejutkan

Kadang kita merasa malu dengan diri kita yang notabene dikaruniai tubuh lengkap, tapi masih sering merasa malas atau malah berpangku tangan. Setidaknya dari kisah Qamar di atas, kita bisa belajar banyak. Bahwa kesuksesan bukanlah perkara punya atau tidak punya, melainkan sejauh mana kita bisa menaklukan keterbatasan yang kita miliki.