Peristiwa blackout alias mati lampu yang terjadi hampir di separuh Pulau Jawa beberapa waktu lalu, membuat Perusahaan Listrik Negara atau PT. PLN menjadi sorotan. Hal ini ditandai dengan kunjungan mendadak Presiden Joko Widodo ke kantornya untuk meminta kejelasan soal pemadaman listrik yang terjadi. Saat berada di sana, tampak kepala negara ke-7 Indonesia itu terlihat “marah” di hadapan para direksi PT. PLN.

Begitu pula dengan kebiasaan yang ada pada masyarakat di Indonesia. Di mana PLN kerap menjadi sasaran hujatan-baik secara terangan-terangan, maupun menyindir lewat meme saat ada pemadaman lampu. Padahal, PLN yang menyediakan aliran listrik agar bisa digunakan oleh ratusan juta masyarakat, tentu bukan perkara mudah. Tak hanya persoalan teknis dan biaya, tapi juga bertaruh nyawa.

Gaji dipangkas hingga bertaruh nyawa di lapangan demi tersambungnya aliran listrik

Saat terjadi pemadaman listrik secara massal di Jabodetabek, sebagian Jawa Barat dan Banten, tak banyak yang tahu jika hal ini ternyata berdampak pada PT PLN (Persero)keuangan. Dilansir dari Finance.detik.com, perusahaan listrik itu arus memberi kompensasi pada 20 juta lebih pelanggan yang terdampak pemadaman sebesar Rp 800 miliar. Untuk mengatasi hal tersebut, manajemen berencana mengurangi gaji pegawainya.

Tak hanya terkena pemotongan gaji, para petugas lapangan juga harus relah bertaruh nyawa saat memasang instalasi bertegangan tinggi. Dalam sebuah postingan yang diunggah oleh akun Instagram nyonya_gosip, tampak dua orang petugas PLN tengah memperbaiki kabel di ketinggian pada slide 1. Untuk slide 2, para pegawai lapangan tersebut tampak berjajar dari atas hingga bawah, dengan memegang sebuah kabel agar tetap seimbang.

Sediakan anggaran besar dan hingga memakan waktu berhari-hari

Perjuangan berat juga dirasakan oleh PLN saat berusaha menerangi daerah terpencil di pelosok Nusantara. Salah satunya yang terjadi di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Dilansir dari Republika.co.id, desa bernama Jirek Mas di Kecamatan Cermee dan Desa Penang di Kecamatan Botolinggo itu, merupakan merupakan tempat terakhir di daratan Jawa Timur yang tersambung dengan aliran listrik PLN. Tentu saja, hal ini bukanlah perkara yang mudah. Untuk mencapai hal tersebut, PLN mengalokasikan anggaran hingga Rp 14,7 miliar.

Petugas PLN bergotong royong bersama warga mengangkat perlengkapan listrik [sumber gambar]
Meski kalkulasi secara matematis dengan jumlah total 1.100 pelanggan bakal menelan investasi yang besar, toh PLN harus tetap menyediakan listrik di mana pun lokasinya. Menurut General Manager PT PLN Distribusi Jawa Timur, Dwi Kusnanto, pemasangan tersebut membutuhkan waktu selama 52 hari, yakni sejak proses perencanaan, lelang pekerjaan, hingga pelaksanaan fisik pekerjaan. “Mengapa? Karena mengaliri listrik di dua desa tersebut membutuhkan perjuangan ekstra keras,” jelasnya yang dikutip dari Republika.co.id.

Perjuangan memulihkan listrik di daerah bencana

Mungkin jika dalam kondisi normal, proses instalasi agar arus listrik bisa dinikmati masyarakat bisa berjalan dengan lancar. Namun, apa jadinya jika hal tersebut dilakukan pada lokasi yang baru saja terdampak bencana. lagi-lagi PLN dan para petugasnya harus turun tangan dan bekerja keras. Tak hanya sekedar memasang kembali, tapi juga harus membersihkan puing-puing dan bahkan menyetel ulang jika ada alat yang rusak karena bencana.

Kerja keras petugas PLN pasca terjadinya gempa di Lombok [sumber gambar]
Belum lagi jika kondisinya yang tak mudah dijangkau, maka para petugas ini harus menemukan alternatif lain agar segera bisa sampai ke tempat tujuan. Selain telah menjadi tugas mereka, hal ini juga sebagai upaya agar masyarakat bisa menikmati kembali aliran listrik seperti sediakala. Memang, terkadang mudah untuk memberikan komentar dan hujatan pada orang lain, terutama jika ada masalah yang menjadi tanggung jawab mereka.

BACA JUGA: Bikin Udara jadi Bersih, Inilah Kejadian Penting Saat Listrik Padam di Separuh Pulau Jawa

Sebagai penyedia tenaga listrik yang dibutuhkan oleh masyarakat, PLN tentu memiliki kelebihan dan kekurangan saat memberikan pelayanan. Kejadian mati lampu di hampir separuh pulau Jawa beberapa waktu lalu, biarlah menjadi pembelajaran sekaligus koreksi untuk terus memperbaiki kinerja. Sama dengan kita sebagai masyarakat, tak perlu menghujat. Cukup berikan masukan dan saran yang bermanfaat satu sama lain. Toh, Anda konsumen PLN juga kan?